Akankah Muncul Pula Penulis-Penulis Tangguh di Inspirasi? ^_

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 18 April 2016
Akankah Muncul Pula Penulis-Penulis Tangguh di Inspirasi? ^_

 

Edisi dua artikel pengantar menuju ‘Program Bedah Karya’ perdana karya Inspirator… ^_

***

 

Sekar Mayang: Hahahaha! Gue baca fikber gelombang 1 ini berasa baca serial kriminalnya J.D. Robb. Doi ciamik menggabungkan thriller dan romance.

Itu salah satu komentar dari Mbak Sekar Mayang ‘si tukang ngeberesin typo dkk’, yang sekaligus mengamini komentar-komentar sejenis di karya peserta Event Fiksi Bersambung garapan Komunitas X (yang saya tulis secara tersamar karena saya tak lagi menjadi admin di sana, khawatir ada pihak-pihak yang merasa keberatan… ^_). Sementara pada lapak yang berbeda, Ajo Garaa menuliskan komen yang tak kalah memabukkannya untuk fikber gelombang 3 yang bergenre horror (atau komedi, saya lupa… ^_):

Ajo Garaa: Hahahhaha… Bukan masalah katanya, Bay, tapi setting ceritanya yang ane kagak nangkep (keempat-empatnya). Ciyus ni… Ane dah baca berulang-ulang karya 4 teman sebelumnya, tapi... tetap aja ane gak bisa nyambungin ceritanya, boro-boro setting-nya yaah. Apa boleh buat, lebih baek ane alihkan aje ke kehidupan nyata, jadi gak absurd getoo, hahahha… Ntu Si Bay pan biang keroknya.


Komen Mbak Sekar dan Ajo tersebut semakin meyakinkan saya bahwa di media bersama ini –dan tak menutup peluang pula terjadi di media bersama inspirasi.co- memang banyak penulis tangguh nan hebat, yang kini mulai bermunculan satu demi satu melalui even fikber, yang diselenggarakan tiga gelombang sekaligus.

Betapa tidak? Dari begitu banyak peserta even fikber, tak ada satupun yang memiliki genre yang sama. Dan anehnya, perbedaan tersebut tak lantas membuat masing-masing peserta berkeras menonjolkan ego pribadi di sela keringat pucat yang melengket lekat setiap kali mendapat giliran melanjutkan karya peserta sebelumnya, melainkan terus berusaha untuk membuat karya yang saling mengharmoni.

Maka jadilah kumpulan karya peserta fikber membentuk sebuah draft novel ciamik, dengan bab-bab unik multigenre dan lintas gaya sebagai penopang utamanya, sesuai keragaman latar belakang semasing kontributornya. Sesuatu yang siapa sangka justru menjadi tantangan tersendiri bagi peserta selanjutnya untuk memberi hanya yang terbaik, dengan terus berusaha mensinergi.

Dan itu jelas bukan hal yang amat mudah. Terutama ketika penyelenggaraan even fikber ini justru pada masa tulisan fiksi mati suri  buah kejahatan moral member sialan tukang piara akun tuyul yang telah putus urat malunya itu, yang langsung membuat tim admin pengelola melakukan ‘tindakan yang kurang berpikir panjang’ hingga mengimbas rontoknya sebagian besar penulis fiksi aktif yang tidak bersalah.

Saya pribadi masih terus berkeras mengintip, siapa saja yang tetap bersemangat memposting karya, berapa hits terakhir yang diperoleh, serta parameter lainnya yang disusun hanya demi mengetahui besaran indeks PMSK (*PMSK = Penelusuran Minat dan Semangat Kekaryaan) yang tersisa… #Uhuk! ^_

Hasilnya? Super jeblok!

Hingga tanggal sekian tahun sekian, bahkan tiga penulis fiksi yang karyanya seringkali ‘merajai’ dengan perolehan jumlah hits, vote serta komen tertinggi, harus cukup puas untuk menerima review ala kadarnya, yang tak lebih dari kisaran 150 s.d. 230 pembaca. Sangat njomplang jika dibandingkan perolehan angka sebelumnya yang rata-rata tak kurang dari 500 s.d 1200 pembaca.

Tapi rencana telah digelar. The show must go on. Alih-alih menunda posting karya perdana, seluruh admin justru melakukan hal yang bertolak belakang, yaitu: Langsung menambah gelombang peserta dari hanya satu sebagai Pilot Project, menjadi tiga gelombang sekaligus dengan tema yang berlawanan.

Bukankah obat terbaik mengusir kesunyian adalah dengan lebih banyak melakukan kegiatan? Yang melibatkan pegiat-pegiat fiksi (dan beberapa penulis jempolan non fiksi) di media bersama ini -entah itu dengan cara undangan khusus maupun undangan terbuka- untuk lebih saling bergandeng tangan dalam geliat api unggun persahabatan?

Sebagai penggagas utama event fikber ini, saya hanya meminta kepada Sosol yang pada saat itu mewakili jajaran admin sepuh, agar ada satu gelombang yang berisi penulis aktif yang gemar membagi ilmu serta tak pelit pengetahuan, untuk dijadikan acuan dasar bagi proyek percontohan selanjutnya.

Hasilnya? Walau sebelumnya saya sempat ‘misuh-misuh’ di inbox khusus seluruh peserta even, karena merasa kecewa akan ‘tahap pencapaian belajar’ yang masih amat minim, namun setelahnya semua berubah.

Melalui artikel ini saya -dengan amat tulus- ingin menyampaikan rasa salut, bangga juga terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh peserta, yang di tengah kesibukan pribadi tak habis-habisnya, masih ikhlas berupaya sekuat tenaga untuk tak sekedar ‘berbagi kualitas pengetahuan kepenulisan’ melalui contoh karya belaka, melainkan juga menyukseskan hidden curriculum melalui kegiatan saling memberi masukan melalui kolom komentar, hingga memberi efek peningkatan kualitas pribadi masing-masing peserta yang amat mendongkrak, yang terpancar tak melulu hanya dari karya yang dibuat, melainkan juga dari komentar-komentar yang diberikan. Inilah salah satu kawah candradimuka yang sebenarnya!

Dari even fikber ini pula kemudian lahir gambaran, bahwa media kepenulisan bersama, memang bukan sebuah blog keroyokan yang biasa saja. Karena dalam blog barengan sejatinya selalu akan dipenuhi harimau mengeram-naga bersembunyi, yang sewaktu-waktu akan bermunculan ke permukaan ketika ada stimulan yang tepat: Dalam rupa penulis-penulis tangguh yang mampu untuk tetap hebat, meski harus membuat karya yang amat bertolak belakang dari genre serta tema yang biasa digarap.

“Maksud lo, Bay, penulis yang gak ikut fikber gak hebat, gitu?”

Jika ada yang bertanya seperti itu, saya cuma akan menjawab, “Point utamanya bukan itu, Kawan. Dan ada baiknya jika kamu belajar untuk membaca, dengan cara yang lebih baik lagi…^_”

"Kami tak memiliki makanan, mengapa pula kami harus belajar membaca?" tanya seorang anak pengungsi kepada Jenderal Guan Yu, panglima perang Liu Bei, yang sedang mengajarinya membaca. Guan Yu pun menjawab, "Kelak kau akan tahu bahwa belajar membaca sekarang akan memberimu makan di masa mendatang."

***

 

Bedah Karya Pertama Even Fikber: Satu Karya, Enam Sudut Pandang Penceritaan, Plus Satu Sudut Pandang ‘Unik’.

Seperti yang dah saya janjikan sebelumnya, hari ini akan saya coba mulai ‘membedah’ karya-karya yang dibuat oleh peserta. Mungkin tidak mendetail semua karya, tapi semoga cukup mencakup secara keseluruhan.

Sampai artikel ini dibuat, setidaknya telah ada enam sudut pandang yang berbeda dalam karya peserta even fikber gelombang pertama, yang sepertinya masih akan bertambah mengingat masih ada dua peserta yang belum mendapat giliran, plus empat belas peserta yang akan berebut memposting ending terbaik versi masing-masing secara bersamaan pada hari terakhir.

Dan itu adalah sesuatu yang amat mbelink, mengingat sebuah karya umumnya hanya menggunakan satu atau dua sudut pandang saja.

Itupun masih ditambah satu ‘sudut pandang unik’ yang dibuat oleh peserta nomor sembilan. Saya sebut unik karena keberanian dia menggabungkan seluruh sudut pandang yang pernah ada –termasuk juga kisah serta para tokohnya- ke dalam satu kesatuan utuh pada satu karakter tokoh, yang langsung membuat riuh kolom komen juga inbok peserta.

Untuk mengecek lebih lanjut, sila klik kumpulan karya peserta pada link ini (Maaf, link-nya kapan-kapan aja, yah-Red), dan nikmati satu-persatu karya peserta yang gurih-gurih syedap menggoda itu...^_

***

 

Edisi Perdana Peserta Awal, Beberapa Kelebihan dan Kekurangannya.

Edisi perdana even fikber langsung diawali karya serius bertitel “Malam Bulan Mati, Balkon, dan Ciuman” yang sempat membuat peserta lainnya meringis ngeri seperti yang terekam dalam artikel “Event Fikber, Seru dan Mendebarkan!” karya salah satu peserta even.

Juga artikel dari peserta yang berbeda lagi, yang sengaja dibuat khusus demi menjawab beberapa pertanyaan serta menangkal ‘gugatan’ atas karya buatannya, pada artikel “Belajar Diri pada Fiksi Bersambung”, yang kembali mengundang masukan baru tentang efek dari artikel penjelas, yang biasanya justru menjadikan karya tersebut 'terpenjara' versi penulis, dan memaksa pembaca untuk surut menginterpretasi ulang sesuai 'dasar' yang dimiliki. Atau meminjam bahasa penulis artikel tersebut: Konsekuensi menulis penjelasan itu bisa seperti yang mas Bay katakan… Karya penjelas malah membuat teks utama menjadi mandeg.

Tapi sebagai ajang fikber, artikel ini tentu saja menjadi penunjang yang amat bermanfaat, yang sekali lagi, tolong jangan dijadikan patokan mati, karena bagaimanapun juga, sebuah karya pada akhirnya bukan lagi milik penulisnya ketika telah dilempar ke tengah pasar...^_

 

Kembali kepada tema utama…^_

Karya pembuka yang sangat ehem dari peserta pertama. Bergenre romantic, yang sepertinya pertengahan antara Domestic Drama dan Mainstream Romance.

Ada beberapa kelebihan yang patut diapresiasi dari karya ini, yaitu:

Pertama, pemilihan judul karya yang tidak sekedar oke, melainkan juga wow.

Mengapa judul perlu mendapat perhatian?

Menilik kejadian yang pernah dialami oleh “Surga yang Tak Dirindukan” karya Asma Nadia, banyak yang sebelumnya tak menduga bahwa karya tersebut pernah tak laku dan menumpuk di gudang selama dua tahun lamanya.

Tentu saja ada cukup banyak faktor yang menjadikan karya tersebut tak disambut pasar, walaupun penulisnya telah memiliki nama beken yang cukup menjual. Dan salah satunya adalah: Judul. Karena judul awalnya memang amat tak kinclong, yaitu:“Istana Kedua”.

Kedua, pemilihan sudut pandang orang pertama tunggal.

Sudut pandang ini merupakan pilihan yang paling banyak diminati, dengan kelebihan utama di mana penulis bisa sangat leluasa mengungkapkan apapun yang dirasakan serta dipikirkan oleh tokoh ceritanya. Walau sudut pandang ini menyimpan kelemahan yang cukup besar, namun hal itu akan diterangkan pada bagian setelah ini.

Ketiga, alur yang mengalir dan amat natural.

Alur atau plot adalah kejadian atau peristiwa yang terjadi dari awal hingga akhir cerita. Alur dalam karya ini mengalir, natural, tidak dipaksakan, serta mampu menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik dengan amat menarik, sehingga mendorong pembaca untuk menyelesaikan cerita yang tengah dibaca.

Keempat, penggarapan konflik ‘biasa’ yang berhasil disulap menjadi ‘luar biasa’.

Pada poin ini penulis seperti ingin menunjukkan bahwa tak perlu menciptakan konflik yang aneh-aneh demi membuat sebuah karya menjadi luar biasa, karena bahkan hanya dengan bermodalkan konflik yang umum terjadipun, jika memang piawai dalam penggarapannya, akan tetap membuat sebuah karya menjadi istimewa. Dalam hal ini saya menilai penulis telah amat berhasil melakukannya.

Kelima, ending yang bikin blink-blink.

Sila baca sendiri karya tersebut, dan rasakan tendangan tanpa bayangan di bagian endingnya…^_

 

Tapi tentu saja akan selalu ada kekurangan dalam sebuah karya, karena memang tak akan pernah ada yang sempurna, jika itu masih buatan manusia.

Dan beberapa kekurangan tersebut akan saya bahas di sini, semata demi perbaikan sebuah karya, dan bukannya Hate Speech (Ujaran Kebencian) yang memiliki kecenderungan untuk melakukan ad hominem (menghina), yang biasanya menyerang tidak hanya karya namun juga melebar menyasar penulisnya, yang mungkin lebih tepat bila disamakan dengan black campaign (kampanye hitam) daripada disebut sebagai kritik yang bersifat membangun. Tolong digaris bawahi paragraf yang ini, agar ke depannya kita semua tak lagi terlihat konyol menyebut pembusukan yang kita lakukan sebagai salah satu bentuk kritik penuh sayang…^_

Tapi khusus untuk kekurangan yang berhubungan dengan masalah EYD, typo, tanda baca, kata baku serta teknis penulisan yang lainnya, sejak awal saya tidak berminat untuk terlalu mempermasalahkannya. Lagi pula, hal itu sudah pernah saya singgung sekilas pada artikel dengan judul “Mengapa Karya Burukpun Berhasil Menjadi Juara?” yang langsung direpon cepat melalui pembahasan tuntas ala anak gaul oleh Mbak Sekar Mayang selaku editor komunitas pada artikel “Mengapa Editor Tidak Pernah Menurunkan Tangan Besinya?”,

Jadi, untuk masalah typo dan kawan-kawannya, saya lebih suka untuk tidak membahasnya. Biarlah itu menjadi wilayah tausiyahnya Al Mukarom Polisi Bahasa dan atau menjadi usaha semasing penulis dalam meningkatkan kecakapan menulisnya…^_

 

Adapun beberapa poin dalam karya ini yang masih butuh untuk diperbaiki, antara lain:

Pertama, opening yang terlalu panjang, bertele-tele serta membosankan.

Mengutip ucapan Isa Alamsyah sang ‘Elite’ di Komunitas Bisa Menulis yang menjadi suami sekaligus partner menulis Asma Nadia, opening sangat penting dalam sebuah cerita. Setiap cerpen harus dimulai dengan opening yang bagus. Dalam novel, setiap bab harus dimulai dengan opening yang bagus. Dalam non fiksi juga demikian. Tapi sayangnya, banyak penulis tidak memahami pentingnya opening.

Masih menurut beliau pada bukunya yang berjudul “101 Dosa Penulia Pemula”, setidaknya ada delapan dosa dalam opening yang beliau soroti, yang jika penulis terhindar dari delapan kesalahan tersebut dalam opening, niscaya tulisan akan memiliki opening yang jauh lebih bagus.

Ada beberapa contoh opening ‘tidak biasa’ yang mungkin bisa dijadikan pengayaan:

Andai dusta berwujud makanan, boleh jadi akan kutelan. (Cerpen Telanjang- Ken Hanggara).

 

Sambil bermain aku melirik topi lakenku. Kulihat sebuah kursi roda. Duduk di kursi roda itu, seorang tua yang wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas karena memakai topi laken seperti aku. Rambutnya gondrong dan sudah memutih seperti diriku, namun ketuaannya bisa kulihat dari tangannya yang begitu kurus dan kulitnya yang sangat keriput. Tangan itulah yang terangkat dan tiba-tiba menggenggam sebuah gitar listrik yang sangat indah.
(Cerpen Ritchie Blackmore- Seno Gumira Ajidarma).

 

Kedua, Terjebak pada kelemahan utama sudut pandang orang pertama tunggal.

Umumnya penulis yang memilih sudut sudut pandang ini akan terjebak menjadi sangat asyik menceritakan (tell) keseluruhan cerita, sehingga luput dalam upaya menunjukkan atau memperagakannya (show).

Akibatnya cukup jelas, yaitu karya yang dibuat menjadi kurang dramatis, dan bukannya tidak mungkin akan mendatangkan kesulitan memperkenalkan jenis kelamin tokoh utama dan tokoh pendamping. 

Ketiga, penggunaan nama tokoh yang bersifat unisex.

Dalam karya ini terlihat jelas betapa merugikannya penggunaan nama tokoh yang bersifat unisex, seperti Ran, Aulia, Wahyu, Andri, Yana dan sebagainya, karena efek pertama yang akan timbul adalah kebingungan yang dialami oleh pembacanya.

Walau memang kekurangan tersebut bisa ditambal dengan narasi tambahan yang bersifat menjelaskan jenis kelamin tokoh, tapi umumnya hanya akan berakhir menjadi paragraf tak efektif, memberi sebuah kesimpulan bahwa jika memang bisa dihindari, kenapa pula harus tetap dipertahankan?

Serta beberapa kekurangan lain yang saya pikir, biarlah penulisnya sendiri yang berusaha menemukannya, untuk kelak dilakukan perbaikan secukupnya karena untuk sebuah karya yang memang memiliki embrio amat bagus, alangkah sayangnya jika dibiarkan apa adanya dengan segala kekurangan di dalamnya.

“Karya yang sudah dipublis memang kasarnya jadi milik umum. Yang penting hak prerogatif ada di tangan penulisnya kan, Bay? Hehehe...”

Tentu saja di tangan penulisnya. Sebab jika di tangan Pak Erte, saya khawatir rapat warga akan berlangsung menjadi amat liris serta penuh konflik, yang misalnya buah saking banyaknya tokoh fiktif yang turut andil merecokinya…^_

“Tapi mengenai opening yang baik dan buruk mungkinkah lebih karena selera pribadi, Bay? Buktinya banyak juga tuh pembaca yang menyukainya.”

Barangkali di sinilah kita semua harus mulai belajar untuk dapat membedakan, antara statemen yang bersifat pendapat pribadi –yang ladzimnya memang bertabur justifikasi, dengan pernyataan yang berbasis pengetahuan, agar kelak kita tak lagi terlihat amat menggebu namun sejatinya berisi hanya debu…^_

“Tapi karya tersebutkan kan menjadi pilihan admin bin redaksi, Bay, masa sih segitunya?”

Terus, kalo menjadi pilihan admin kenapa? Langsung menjadi amat istimewa menyamai kitab suci, begitu? Lha wong admin kanal fiksi sendiripun berkali-kali saya sentil sampai sayanya bosan sendiri, hingga akhirnya saya titipkan sentilan terakhir untuk para admin kanal fiksi yang terhormat, melalui admin kanal media, dalam artikel “XXXFiiiffffXXX”, yang anehnya justru diapresiasi oleh mereka hingga mendapat hits yang tak hanya lewat begitu saja.

Hal yang sama saya lakukan pula terhadap Si Penulis Sadis, yang entah saat terjadinya tengah berperan sebagai admin komunitas atau hanya menjadi dirinya sendiri. Sementara saya tak lebih dari sekedar anggota media bersama tersebut yang ketenggengan karena memaksa untuk belajar membuat Cersil (cerita silat), hanya karena mengingat amat minimnya pegiat genre tersebut di sana.

Yang saya ingat, saya sentil Si Penulis Sadis dengan cukup pedas, justru pada saat duet sadisnya bareng Si Prof yang kemudian menjadi salah satu karakter tokoh cersil saya tersebut tengah mencapai puncak kibar yang mengundang rentetan pujian amat memabukkan. Dan saya amat yakin bahwa jika sentilan tersebut dilakukan oleh orang lain, akan langsung memicu kemarahan Si Penulis Sadis. Apalagi dilakukan dengan gaya melawan arus, hingga menjadi satu-satunya orang yang menyentil di tengah derasnya gelombang pujian.

Mengapa saya banyak menyentil admin kanal fiksi? Karena saya melihat ada kecenderungan penjaga gawang kanal fiksi -pada waktu itu- secara perlahan lebih mengarah pada ‘menggemari karya berunsur seksual’ sebagai acuan sebuah karya menjadi ‘karya pilihan’ atau tidak.

Dan itu bukanlah sesuatu yang sehat dan memicu kebanggaan, terutama jika mengingat pada saat yang bersamaan, ada cukup banyak karya-karya yang bisa untuk tetap bagus, berisi serta menarik, tanpa perlu menggoreng unsur purba tersebut, yang akhirnya mesti tersingkir karena kursi utama di ‘Karya Pilihan’ karena telah penuh terisi.

Kenapa saya menyentil Si Penulis Sadis dan rekan duetnya, padahal Si Penulis Sadis dan Prof pada saat itu cukup kental pertemanannya dengan saya?

Jawabannya cuma satu saja, yaitu justru karena mereka adalah teman saya yang memiliki beberapa kelebihan dalam karya buatannya, sehingga akhirnya mencuri perhatian si sengak ini.

Saya tertarik dengan genre yang digarap oleh Si Penulis Sadis, yang saya yakin tak akan berkurang keindahannya ketika beliau murni hanya bersandar sebagai pegiat fiksi psikopat, karena beliau memang memiliki ‘warna’ khas di genre tersebut, yang kelak jika sempat akan turut saya bedah berdasarkan karya pertama pada event fikber gelombang 2.

Hal yang tak jauh berbeda terjadi pula pada Si Prof, yang semula menggemari puisi-puisi cinta garapan ‘si akun fiktif’ yang katanya ‘nan liris melankolis’, lalu bermetamorfosa tiba-tiba menjelma kupu-kupu sastra yang cantik sayap katanya.

Dan hal itu amat saya apresiasi, terutama jika mengingat beliau yang waktu itu lebih banyak bermain di artikel cadas layaknya seorang ‘Preman Artikel’, lantas berubah drastis menjadi amat manis namun tajam menggigit seperti remaja baligh yang baru mengenal cinta… *Eaaa…^_

Atas dasar dua alasan tersebut saya pikir cukup kuat untuk saya bertindak sebagai teman mereka yang sebenarnya. Mengeplak jidat pada saat mereka terlalu mumbul, hanya demi tetap bisa membumi.

Bagaimana jika mereka berdua –termasuk juga admin kanal fiksi serta sosok-sosok yang pernah saya sentil- meradang?

Gak gue pikirin. Saya hanya berpikir, bahwa saya telah menuntaskan kewajiban saya sebagai teman mereka. Perkara mereka menerimanya dengan suka cita, hanya dapat diartikan bahwa kami memiliki ‘radar yang sama’. Sementara jika mereka meradang, juga bukan sebuah masalah yang amat besar. Karena toh awalnya kami tak saling kenal, yang ketika kemudian kenal lalu berakhir menjadi tak saling kenal kembali, yah cuma sekedar impas…^_

Yang saya tahu, admin media bersama memang memiliki parameter tersendiri dalam menentukan apakah sebuah karya layak dijadikan ‘Karya Pilihan’ atau tidak. Mungkin saja berdasarkan keunikan, kebaruan, dan atau kelebihan lain yang ada dalam suatu karya. Dan itu jelas menjadi kewenangan mereka yang paling tak bisa untuk di-veto.

Tapi bukan berarti semuanya kemudian menjadi penilaian yang bersifat final, karena ladzimnya dalam urusan-urusan yang tidak bersifat eksak termasuk urusan cinta #eaaa… ^_, selalu ada celah untuk menghadirkan ‘kebenaran kedua’, yang bisa saja berasal dari saya atau mungkin lewat yang lainnya…^_

“Terus, lo siapa, Bay, berani-beraninya melakukan ini semua. Emang karya lo dah paling bagus dan anti kekurangan?”

Saya hanya berpikir sederhana, jika yang pantas memberi nasehat adalah orang yang tak pernah berbuat salah, bahkan para nabipun ‘mungkin’ akan langsung berpikir ulang ketika ingin memberi nasehat.

Lantas siapa yang akan menasehati kita semua? Sementara seiring bertambahnya usia dan kehormatan, kita semua kemudian rindu untuk dinasehati oleh orang lain, sesuatu yang kian mustahil mengingat posisi sosial kita yang kian meninggi di mata umum, menjadikan tak semua orang berani mengambil resiko untuk bersebrangan.

Tiap-tiap orang memang ‘hanya’ akan mendapatkan apa-apa yang telah dia usahakan, yang tidak seorangpun bisa memaksanya dan atau menduplikasinya ke orang lain. Tapi saya memiliki satu mantera ampuh yang barangkali ada manfaatnya jika dibagikan melalui tulisan ini. Dan kalimat sakti tersebut adalah:

Jika kau ingin mendapat lebih, rendahkan cangkir pembelajaranmu, Kawan, niscaya kau tak akan pernah merasa kalah sekalipun… selain lebih memaknainya sebagai: Belajar...^_

Salam fikber, salam bangga penuh salut, salam belajar menulis bareng…^_

Bye-bye from Bay.

(Bersambung ke artikel selanjutnya yang belum pernah diposting di manapun: “Sudahkah Kita Menjadi penulis Hebat?”).

 

Secangkir Kopi Artikel Pertama dari Dua Artikel Pengantar Bedah Karya Perdana di inspirasi.co, ThornVille, Tahun Persahabatan Maya yang Amat Manis Bersama Kalian.

 


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Ini nendang Bay.
    Catatanku pada opening yg harus ciamik dan gaya penulisan pertama. Sepertinya Mas Bay harus rajin ngulas tentang ini.

    *tentang bedah karya. Saat redaksi inspirasi.co bagaimana pendapat kalian tentang inspirasi.co saya sempat usul ada 'kolom' tertentu bagi karya Inspirator yg 'layak' dibedah pada bulan tertentu ... Jadi semua Inspirator bebas untuk memberi masukan atau ke kaguman. Tapi sampai saat ini belum dilirik sama sekali. Redaksi cuma brp org sih? Gak cukup untuk membaca karya Inspirator yg masih tersembunyi yg luar biasa bagus. Contoh cerpen dgn judul Merah, lupa nama penulisnya. Itu luar biasa. Tapi kasian miskin view dan komentar ditelan arus yg aku tak tahu apa namanya.

    *semoga komentar ini bisa terposting. Lagi di hutan. *_*

    • Lihat 4 Respon

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Ternyata kata "draft" sudah dibakukan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "draf".

    Demikian

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Akhirnye bisa baca juga tulisan super panjang dan berbobot ini sambil nunggu si bos yg belom nonghol di ruang rapat.
    .
    .
    Walau kagak ngerti banget isi tulisannya, maklum bukan bidang gue tulis menulis...
    .
    .
    .
    Oh ya.. gue mau tanya nih om... yang di bedah karya fikber di atas itu apakah karya para penulis inspirasi.co kah? Atau karya penulis di luar inspirasi.co sebagai nasihat agar bisa menjadi penulis tangguh?

    • Lihat 4 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Saya jawab di 'jalan baru' aja yah, Rati, karena komengmu sepertinya sedap juga buat dikunyah2 sambil siul...^_

    Pada masa-masa awal even tersebut diselenggarakan, saya sempat banyak keki dan bertanya ke 'akses orang dalam' media bersama, kenapa karya peserta tak ada satupun yang menjadi artikel pilihan, padahal saya pribadi menjamin baik dari nama peserta maupun karyanya harusnya memperoleh apresiasi yang 'lebih dari sekedar karya pilihan admin'.

    Tahukah kamu apa jawaban orang dalem itu?

    Katanya, admin yang bertugas lagi pusing, bikin saya yang menerima jawaban tersebut langsung tepok jidat sampe puyeng keliyang-keliyeng... #LebayModeOn... ^_

    Ga lama berselang barulah banyak peserta yang memperoleh 'pilihan admin'. Namun tetap kadung membawa korban menyingkirnya beberapa penulis2 terbaik tak lanjut even ini sampai kelar karena merasa karya peserta lain tak sebaik karyanya namun dapat jatah 'pilihan admin' sementara karya beliau yang dibuat sesungguh kata juga jiwa dicuekin.

    Atau ga usah jauh-jauh, sepanjang karir menginspirasi saya, belum pernah ada satupun yang mendapat stempel 'pilihan admin', dan malahan di masa2 awal nyaris setiap postingan yang saya singgahi dan saya beri komen khususlah yang distempel admin, sementara sayanya mah apa kabar, haha... ^_

    Tapi alhamdulillah hal tersebut ga mengurangi pendapat beberapa rekan inspirator yang menganggap setidaknya karya buatan saya asyik buat dibaca sambil naik sepeda... *Susah juga ngebayanginnya, yah... ^_

    Dari sini kita kembali ditegaskan oleh keadaan, untuk -sekali lagi- hanya berfokuslah dengan berkarya (jika targetnya hanya di kirim ke media cetak), juga ditambah dengan mengapresiasi dan diapresiasi bersama rekan dan komunitas, demi mendapat umpan balik bagi perbaikan karya kita setelahnya, tanpa perlu butuh untuk terlalu peduli terhadap segala macam stempel juga penyematan merek dari pihak manapun. Tapi jangan lupa untuk membuatnya dengan dan dari hati selalu, oke... ^_

    Dan khusus untuk redaksi inspirasi.co, saya pribadi tak banyak bergesekan. Artinya selain perbedaan selera akan sebuah karya, saya pikir pilihan Kang Anick HT (yang sejak awal saya duga salah satu dari Kang Anick atau Mbak Wulan aka. Eny Wulandari yang menjabat pemred inspirasi... ^_) semuanya bagus-bagus serta dapat dipertanggung-jawabkan, termasuk juga kisah penulis gondrong anak koruptor yang agak panjang itu.

    Udah dulu, ah, kepanjangan, ntar diprotes pula sama genk Cieee bisa puyeng si Bay ini... ^_

    • Lihat 8 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    publis > publish
    diapresiasi > di apresiasi ? eh bener nggak ya
    diposting > di posting

    *balas dendam
    panjaannnngggggg...sekian terima kasih