Penyerbuan ke Inspirasi! (Pembekalan Pra Kopdar Perdana... ^_ )

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Motivasi
dipublikasikan 16 April 2016
Penyerbuan ke Inspirasi! (Pembekalan Pra Kopdar Perdana... ^_ )

Tak terasa Kopdar Perdana inspirasi.co akan diselenggarakan siang nanti. Dan sebagai (meminjam panggilan Inspirator keren Mutia Rini) Shadow Chief yang tengah menyamar menjadi inspirator #apaan sih, Bay? ^_* saya ingin turut membagikan pengalaman yang berkaitan dengan tema sentral kopdar kali ini dalam Master Class: How to Publish Your Work! dengan pemateri Fahd Pahdepie sang CEO inspirasi.co.

Tema ini entah mengapa berhubungan juga dengan inbok serta komen masuk yang banyak mempertanyakan mengenai tulis-menulis dan penerbitan (jika tidak bisa dibilang minta belajar :P), serta janji untuk menanggapi artikel sang CEO yang ini:

 

 

 

 

Sekilas membaca terlihat kebenaran umum memancar deras dari pendapat Fahd Pahdepie, karena memang seperti itulah kenyataan saat ini. Namun kebenaran umum tersebut kemudian berubah menjadi kebenaran relatif ketika berdampingan dengan kebenaran umum lain yang sama benarnya walau bisa saja ga terlalu umum, seperti yang saya copet dari komunitas sebelah yang berisi kumpulan penulis lawas kawakan ini:

 

 

Tapi saya tak ingin berpolemik tentang hal itu, karena saya pikir membenturkan sebuah kebaikan dengan kebaikan yang lainnya adalah perbuatan yang tak ahsan dan minim manfaat. Karena saya di sini justru ingin turut menambahkan pundi-pundi alternatif ‘Jalan Lain ke Roma’ tentang menerbitkan karya, yang barangkali bermanfaat, sila pilih cara  mana yang paling mendekati ‘Gue banget, nih’ atau dapat pula diajukan ajukan sebagai alternatif pertanyaan bahan diskusi pada kopdar perdana siang nanti guna dicari cara terbaik dan terutama sekali: yang paling efektif untuk dilakukan… ^_

Jauh waktu sebelum bergabung dengan media bersama manapun, saya aktif mengunggah karya pada sebuah akun, yang berakhir dengan pembreidelan berkali-kali yang bisa saja buah kesalahan pribadi walau saya menduga bukan itu penyebab utamanya.

Tapi bukan itu point utamanya, melainkan bahwa pada akun ke sekian masuk inboks tawaran untuk menyelenggarakan ‘Sekolah Menulis Online’ dari akun yang tak saya kenal yang berdomisili di luar Indonesia.

Sebagai orang yang mengaku-aku sebagai Pegiat Sastra Bebas (*Eaaa... ^_), sebenarnya kapasitas saya belum cukup untuk mengelola sebuah sekolah menulis online. Namun pertimbangan manfaat serta memberi bantuan kepada teman yang butuh (walau teman maya yang baru dikenal sekalipun) membuat saya susah-payah menelaah data tentang kebutuhan dari pemberi penawaran tersebut. Hingga akhirnya terselenggaralah Sekolah Menulis Online Sistem Buta yang lantas melahirkan buku ‘Sejuta Mimpi’ bareng  Mellyzza Sansan, TKI Taiwan yang terpucat-pucat menerima ‘kemasyhuran sesaat’ terlalu cepat hingga membawanya ke studio salah satu program TV lokal di sana sebagai ‘Sosok Inspiratif Minggu Ini’.

Mengapa saya memberi nama sekolah online tersebut Sistem Buta? Karena memang sistem yang saya terapkan adalah menulis secara buta alias, “Menulis yah menulis aja“ sama seperti idiom “Mati yah mati aja”. Karena menurut saya pribadi, kewajiban utama seorang penulis adalah: Hanya menulis, dan bukannya meribut-ribetkan perangkat teknik kepenulisan seperti EYD, komposisi bahasa dan sebagainya di bagian awal. Saya hanya memberi pakem dasar paling sederhana serta membumi yang sedapat mungkin mampu diterapkan oleh siapapun bahkan jika misalnya hanya memiliki pendidikan setara SD, yaitu:

  1. Opening yang memikat.
  2. konflik.
  3. Ending yang njeletot.

Cuma itu. Karena saya pikir, mengapa harus dibuat susah jika memang bisa dipermudah? *Maaf yah ASN, eh... ^_

Hasilnya? Benar-benar sebuah draft naskah yang luar biasa buruk!

Setelah itu, dimulailah wacana mengenai “Pekerjaan Utama Seorang Penulis”

Ya, apa pekerjaan utama seorang penulis? Menulis lagikah?

Bukan. Melainkan justru: MENGEDIT. Dan sepertinya pada titik inilah kerawanan, kebosanan serta keengganan mengepung silih berganti.

Pada saat ini saya pribadi mampu memproduksi naskah setingkat “Dongeng untuk Jokowi” yang penuh penelusuran data, hanya dalam waktu 3 jam saja untuk setiap chapter-nya. Juga personal literasi seperti “Dunia Aneh Si Bay” serta “Cara Terbaik Menipu Tuhan” yang aslinya memang merupakan sequel lanjutannya. Sementara untuk memproduksi draft novel teenlit “Love in Dumay” saya butuh waktu yang jauh lebih singkat, yaitu sekitar setengah jam. Walau khusus untuk draft novel “Cinta dalam Secangkir Hujan” yang saya anggap secara pribadi lebih liris dan serius, saya benar-benar wajib ekstra fokus dalam penggarapannya, yang tak terikat ruang juga waktu pengerjaan.

Tapi tak ada yang percaya ketika saya bilang bahwa pengeditan naskah generasi awal yang saya produksi memerlukan waktu yang amat panjang. Tidak tanggung-tanggung: 10 Tahun! Dan per satu cerpen. Benar-benar sesuatu yang amat memalukan sekaligus menggelikan karena terlihat jelas ketidak becusan saya dalam membuat karya bagus, hiks… T_

Dimulailah pengerjaan bagian yang membosankan sekaligus menantang tersebut. Yaitu merubah draft naskah super buruk menjadi karya ciamik, yang jika memang tak bisa sempurna setidaknya diusahakan cukup bagus dan asyik untuk dikonsumsi oleh target market yang ingin disasar.

Hasilnya? Draft naskah sejuta Mimpi berhasil naik kualitas setidaknya 4 atau 5 kali lebih bagus dari kondisi awal, yang buah deadline penerbitan maka dengan agak masygul tak sempat diperbaiki lagi. Walau dari sepuluh pembeli ada sebelas orang yang menangis pasca membacanya (karena kelebihan satu orang yang menangis adalah pemilik kisah aslinya, karena memang novel tersebut berdasarkan kisah nyata), namun hingga detik ini saya masih saja merasa itulah satu-satunya karya kolaborasi terburuk yang pernah dibuat, yang walaupun rekan kolaborasi sejak awal berkali-kali super terima kasih namun tak mengurangi sedikitpun feeling guilty yang saya derita hingga saat ini. Maaf yah, Mel… T_

Dan jauh waktu sebelum diselenggarakannya Sekolah Menulis Online Sistem Buta, karya-karya yang pernah saya unggah di akun Pemimpin Bayangan telah lebih dulu mengembara ke mana-mana, hingga terakhir ngedeprok dengan anggunnya dalam berbagai antologi penerbitan bersama komunitas menulis. Sebagian menjadi fiksi terbaik, sementara sisanya seringkali membuat saya berkali-kali ‘wajib’ menerima jabatan admin di beberapa komunitas yang berbeda secara bergantian, termasuk juga menjadi juri anu pembedah itu di komunitas online entah, yang kemudian demi kembali ke diri sendiri saya akhiri semuanya, dan kembali menjadi saya yang hanya saya, tanpa apapun.

Apakah masukan dari Fahd Pahdepie untuk “Berhentilah bercita-cita menerbitkan buku. Ubah fokusmu untuk berkarya saja. Buat apa putus asa? Jangan berhenti berkarya!” saya amini? Absolutely yes! Tapi apakah masukan beliau tentang “Yang paling penting adalah memiliki pembaca. Menemukan pembaca. Jadi, buatlah lingkaran pembacamu sendiri” saya sepakati pula? Disinilah saya pikir ‘Jalan Lain ke Roma atau Mekah’ mulai mencuat.

Banyak jalan yang lebih ‘enteng’ dalam menerbitkan buku dan laris ketimbang berlelah-lelah membangun lingkaran pembacamu sendiri. Terutama jika kau memang benar-benar memulai semuanya murni dari nol dan bukan siapa-siapa.

Tak kurang dari event nasional yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta serta Ubud Writers Festival diselenggarakan setiap tahun secara rutin, yang jika memenangkannya maka niscaya segala impian liarmu dalam bidang kepenulisan akan banyak terbasuh.

Itu belum termasuk event yang diselenggarakan oleh media cetak seperti Femina dan sebagainya, juga event “Cinta dalam Aksara” besutan Asma Nadia beberapa waktu yang lalu, yang saya duga akan diselenggarakan secara lebih rutin untuk ke depannya mengingat karakter khas tiap orang biasanya tak banyak berubah, dengan karya pemenang yang bisa saja tak sekedar dibukukan melainkan juga berpotensi untuk langsung difilmkan jika memang memenuhi syarat kualitas serta ketentuan yang berlaku.

Atau jika pesimis mampu memenangkan lomba dari sekian ribu peserta, tetaplah persiapkan karya, dan mendaftarlah ke Kampus Fiksi gawean grup pemabuk sastra Edi Mulyono aka Edi Ah Iyubeni sang CEO Diva Press. Karena selama usiamu belum melewati batas tertentu, maka kau akan diterima menjadi peserta tanpa banyak prasyarat serta tes apapun, dan siap untuk digojlok mulai menggarap buku. Maka sila bayangkan sendiri, sebesar apa peluang yang berpotensi didapatkan ketika peserta yang lain baru mulai belajar dan mencoba membuat sebuah karya namun kau sudah curi start menyerahkan satu draft lengkap naskah novel untuk dibedah, direvisi serta pada akhirnya dibukukan… ^_

Atau tak usah pusing ke sana-kemari, bahkan petinggi inspirasi.co-pun sanggup menerbitkan karya kamu, yang jika kamu bukan seorang pemalas niscaya kamu akan paham siapa Fahd Pahdepie dan sebesar apa kapasitas yang beliau miliki, yang di masa lalu bukan sesuatu yang aneh bagi beliau serta ‘grup’ sebelum inspirasi ini membantu menerbitkan karya milik penulis-penulis pemula. Maka ketika redaksi.inspirasi.co memposting tentang kerja sama media ini dengan penerbit, saya tak merasa surprise. Walau memang cukup terperangah juga melihat durasi waktunya yang amat cepat, karena dugaan saya sebelumnya beliau bersama tim admin yang lain baru akan meluncurkannya pada jangka waktu minmal empat bulan ke depan! *Jempol... ^_

Lantas, apa kendala yang biasanya menghinggapi penulis?

Yang pertama: Rasa malas.

Sebagai orang Indonesia yang sangat ngendonesa, kita terbiasa dan tumbuh dalam budaya SKS (sistem kebut semalam), ntar aja, masih ada waktu dan sejenisnya. Hingga akhirnya boro-boro mengedit karya untuk keperluan even, misalnya, bahkan membuatnyapun kita umumnya masih menunggu ketika tenggat benar-benar sudah takhir alias mepet bin buntut banget. Dan saya pikir, Hanya Faridho sang web dev yang kabarnya  sanggup membuat postingan hanya dalam waktu 20 menit, yang itupun masih juga dengan begitu banyak ‘kutu’ jika disowani oleh baru seorang Polisi Bahasa. Dapat dibayangkan mungkinkah sebuah karya super bagus calon juara even dan atau calon naskah terpilih, dapat dibuat hanya dalam waktu singkat? Tanpa perlu dan atau pernah mengalami pengendapan sebelum revisi akhir? Dan juga masih harus melewati lebih dari satu juri semumpuni Polisi Bahasa? Hiks… T_

 

Kendala yang kedua tentu saja "Iklim di Komunitas Tempat Bergabung".

Masih ingat artikel saya yang berjudul Apa yang Kita Cari di inspirasi.co? (Tanggapan Buat Pengelola dan Inspirator)

Di mana saya sempat bersebrangan dengan redaksi inspirasi.co tentang pemilihan Karya Minggu Ini?

Yap. Semua hanya tentang cerpen (cerita pendek) dan cermin (cerita mini) dimana saya merasa redaksi (saat itu) lebih antusias menghargai karya flashfiction(ff/fiksi mini) ketimbang cerpen.

Masalahnya sederhana saja, yaitu karena dalam dunia penerbitan kita, karya ff masih belum menjadi tren yang prioritas untuk diterbitkan. Karena tren tersebut masih baru marak dikalangan komunitas, yang saya pribadi menduga masih cukup panjang waktu untuk menjadi tren nasional.

Lantas masalahnya dimana, Bay?

Sebenarnya ga ada masalah. Terutama jika penulis memang berorientasi serta mampu menerbitkan karya tersebut secara mandiri atau per-grup, hilanglah semua masalah. Namun jika penulis masih menginginkan karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor, misalnya, maka hal itu akan menjadi masalah yang amat serius, karena jika seorang penulis terbiasa menggarap karya ff lalu beralih menggarap cerpen maka akan terasa sangat bertele-tele dan membosankan serta banyak mengandung gajlukan antar paragraf efek dipanjang-panjangkan secara tidak alami. Sampai di sini tentu kita semua paham seberapa besar potensi karya tersebut dipilih untuk diterbitkan, hiks… T_

Tapi ada baiknya juga artikel ini dicukupkan sampai di sini saja karena satu dan lain alasan, terutama sekali alasan muak akan kalimat-kalimat panjang yang bikin bête. Karena sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan beberapa masukan saja kepada peserta kopdar perdana inspirasi.co, yaitu baiknya kapan waktu ada kegiatan lagi, siapkan serta bawalah naskah terbaik kalian, dan Serbulah Inspirasi! Karena tak ada yang dapat memprediksi bahwa bisa saja ketika dipertemukan dengan Elite Team inspirasi.co naskah kamu kemudian menemukan takdir terbaiknya. Who Knows? (Hidung siapa.. ? ^_)

Bagaimana dengan rekan-rekan inspirator yang belum beruntung dapat mengikuti kopdar? Saya jawab, baca ulang saja postingan ini, eh barangkali ada terselip satu-dua paragraf yang bisa dimanfaatkan dari sekian banyak kalimat cacat serta tak berguna yang berserakan di dalamnya kan lumayan...^_

Betewe, postingan  ini termasuk salah satu contoh karya yang ditulis dengan menggunakan sistem buta non edit. Mohon untuk tidak dicari kutunya serta seroklah bila ada kebaikan di dalamnya, barangkali agak senggang nanti saya coba edit ulang agar lebih enak untuk dibaca.

Terima kasih sebelumnya, salam hangat, bye from Bay… ^_

 

ThornVille, Tahun Ngiri Sama yang Pada Bisa Kopdaran, Hiks… ^_


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Selain berkaitan dengan euforia Kopdar Sabtu lalu, kami memilih tulisan ini sebab mengandung informasi yang sangat padat dan mengetengahkan ide segar bagi siapa pun yang hendak berkecimpung di dunia penulisan atau sekadar mempunyai ketertarikan di bidang yang sama. Ditulis dengan gaya bahasa yang santai, tidak terlalu serius, karya ini enak dibaca, terutama bagi mereka yang ingin memperoleh masukan dengan cara mengasyikkan.

    • Lihat 29 Respon

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Hebatnya

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    1 tahun yang lalu.
    Woooowww.... jangan2 kemarin pas kopdar itu kamu ada diantara kita mas maulana, tapi pake ajian seribu bayangan, jadi gak keliatan *apa sih
    Ahhahahahahaaa
    Penjelasannya lebih jelas dari yg dapat penjelasan secara jelas #deeeuuhhh

    • Lihat 5 Respon

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Cieeeee jadi tulisan pilihan redaksi, cieeeeeeee

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Ini curcol penulis ya mas?