Dari Cewek Remaja Ini Saya Belajar Banyak Hal

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 15 April 2016
Dari Cewek Remaja Ini Saya Belajar Banyak Hal

seperti embun yang menggelayut di puncak pucuk daun ubi

cintaku padamu begitu murni dan membumi

lalu coba kulukis wajahmu dengan mentari pagi

dengan semilir angin yang berkelindan ke sana dan sini

bayangmu menjelma

bersama ribuan kunang yang berpijar merangkap sempurna

 

adakah cinta menyalamimu,

menimbunmu dengan rindu yang terus menyerbu?

mungkin dari sana semua rasa bermula

entah di mana akan bermuara

atau barangkali tak akan pernah sempat merupa

(‘Sketsadalam Di Bawah Kibaran Dosa}

 

Cerita sebelumnya:

‘The Best Damn Thing’ of Us

***

Guru yang aneh. Seringkali saya merasa malu sendiri karena begitu banyak terinspirasi oleh wanita, sosok yang tadinya saya anggap cuma ‘makhluk halus’ yang selalu membuat saya repot dengan segala polah anehnya. Rasa malu yang kerap memojokkan saya dengan berbagai dakwaan yang menghasut pikiran untuk saya mengakui bahwa sebenarnya saya memang tak lebih dari seorang pencuri.

Tentu pencuri berdasi mengingat yang saya curipun bukanlah yang kelas teri. Walau kadang sambil menghibur diri saya bantah semua itu, dan mengatakan bahwa sebenarnya saya cuma seseorang yang bisa saja secara kebetulan memiliki kepribadian kapas, influence philosofi, yang membuat saya mampu untuk menyerap semua yang terbaik dari mereka, dan menjadikannya sebagai kelebihan bagi diri saya sendiri. *Eaaa….^_

Saat saya berbicara tentang logika, banyak yang dapat menduga dari siapa saya memilikinya. Walau jelas tak satu kata karena sebagian akan menebaknya dari Mulan, sementara yang lain lebih mengira dari Si Eksentrik.

Tapi apapun itu, tak pernah bisa untuk mengurangi rasa hormat dan terima kasih saya kepada mereka. Terutama bila mengingat bahwa apa-apa yang telah mereka ‘tularkan’ begitu memberi tampolan keberhasilan yang sangat telak dan bertubi-tubi dalam hidup saya setelahnya.

Dari Mulan saya banyak belajar tentang logika, juga tentang pemahaman kualitas diri dan pemanfaatannya, yang ketika saya mempraktekkannya, seringkali membuat saya ‘jauh lebih besar’ dari yang semestinya.

Dari Si Eksentrik saya memperoleh pengetahuan tentang betapa pentingnya memiliki karakter diri yang kuat, serta cara terbaik menyusun ulang peta diri, dari sudut dan orientasi yang paling diingini.

Hal ini jelas merupakan satu-satunya pengetahuan terpenting yang pernah saya miliki, yang menjadikan saya mampu untuk melangkah dengan lebih gagah ke lokasi dan situasi mana saja yang perlu untuk saya datangi atau sekedar lewati, dalam proses eksistensi dan juga destinasi yang telah saya miliki dengan cukup matang, sejak usia yang relatif dini.

Saya bersyukur telah mendapatkan pemahaman yang amat berharga ini, walau hanya dari wanita yang –pada saat terjadi- masih sangat belia. Dan lebih bersyukur lagi terutama bila mengingat banyak orang yang saya kenal yang bahkan hingga usia senja mereka, selalu merasa ragu dan tak pernah mengerti tentang apa yang paling mereka inginkan dalam hidup, selain sekedar menghabiskan waktu dengan segala macam rutinitas pekerjaan atau kesibukan yang seringnya hanya seputar itu-itu saja, sambil berkali-kali menggerutu betapa salah langkah atau amat membosankannya hidup mereka.

Dengan pengetahuan yang saya dapatkan dari Si Eksentrik ini pulalah tanpa sadar ternyata telah menjadikan saya seseorang yang memiliki kepribadian yang tangguh juga, dengan daya juang yang amat tinggi dalam setiap pencapaian keinginan yang saya kehendaki, tanpa peduli apakah amunisi yang saya miliki telah cukup untuk membuat saya mampu mendapatkannya, atau justru cuma bisa menjadikan saya terkencing-kencing, yang lantas dengan keringat dingin yang sebesar biji-biji bunga matahari memaksa saya untuk terjengkang-jengkang melepaskannya.

Dan yang paling utama adalah, betapa dengan pengetahuan ini saya dapat menjadi begitu ‘kebal’ dan ’tahan banting’ saat menghadapi situasi serta kondisi yang paling ekstrim sekalipun, yang ketika saya tengah mengalaminya, dikomentari oleh kalangan terdekat saya dengan ucapan yang memiliki nilai empati amat tinggi, “Kalo gue jadi lo, Bay, gue pasti udah gila atau bunuh diri...”.

Dari Dian saya belajar, terutama sekali tentang cara memahami sesuatu dengan sesedikit mungkin kata-kata dan atau informasi yang lainnya. Belajar untuk membaca apa-apa yang tak terlihat –termasuk di dalamnya hipotesa dan antitesa- lalu menerjemahkannya searif mungkin: Cuma lewat sorot mata!

Dan pembelajaran ini amat saya rasakan manfaatnya dalam karir saya, yang memang cukup banyak menerapkan proses konsultasi dan psyco-analisys di dalamnya. Juga sangat berperan penting dalam memuluskan hampir setiap Memorandum of Understanding baru yang saya buat, yang seringkali keberhasilannya amat terpengaruh dari sense of understanding yang saya perlihatkan sejak pertemuan awal, tanpa saya perlu untuk terlihat cerdas atau justru berpura-pura bodoh.

Dijey menekankan kepada saya betapa pentingnya untuk selalu bersikap sumringah, yang dalam banyak hal mampu membuat pihak lain merasa nyaman saat tengah berinteraksi dengan saya, sesulit dan sebingung apapun situasi yang tengah dihadapi! Dijey juga mengajarkan teknik terbaik memberikan umpan balik, yang walaupun hanya dengan ucapan terlemah namun mampu untuk merubah masalah menjelma solusi.

O’ir mungkin yang terbaik tentang pemanfaatan sorot mata, dengan cara yang paling maksimal! Walau jelas hal ini sangat tidak obyektif mengingat teknik serta trik yang dia pergunakan waktu itu terlalu pribadi dan penuh luapan emosi. Mungkin juga cinta, kepada saya tentunya. Tapi dengan beberapa modifikasi dan reduplikasi menjadikan saya bisa mempergunakannya sebagai cara terbaik untuk menunjukkan kasih sayang kepada seluruh SDM dan siswa yang saya miliki... tanpa skinship sama sekali. Juga terhadap ibu-ibu mereka yang seringkali terlihat amat cantik dan muda untuk berperan sebagai wali siswa.

Sementara dari Na, saya tak belajar tentang apapun yang bisa saya terapkan dalam bisnis maupun dalam kehidupan saya. Hanya ada satu hal yang saya dapat dari Na, yaitu bahwa saya selalu berhasil untuk menjadi manusia kembali, setelah sebelumnya kehidupan berkali-kali menekan dan menggoda saya untuk menjelma robot, boneka atau cuma benda.

Dari teman-teman yang hebat inilah saya belajar, dan mendapatkan begitu banyak kemampuan yang mewah dan menggugah, yang setelahnya ‘menciptakan’ beragam pengalaman yang amat berharga dalam hidup saya, dengan metode pengajaran terbaik dan terutama sekali yang paling saya sukai.

Begitu berharganya mereka di mata saya, hingga kadang saat sedang iseng saya suka berpikir, alangkah enaknya jika bisa mengawetkan mereka lalu menaruhnya dalam galeri pribadi saya, agar saya bisa setiap saat melongok mereka, tanpa batas ruang apalagi waktu.

Namun tentu saja hal itu tak berani saya lakukan. Karena, walaupun mereka cuma perempuan, tapi saya amat yakin jika saya mengutarakan keinginan tersebut, pastilah mereka akan langsung secara beramai-ramai menendang pantat saya. Dan resiko untuk jatuh terguling-guling serta menggelinding karena ditendang wanita bukanlah sesuatu yang saya sukai, sehormat apapun saya terhadap mereka!

Lagi pula saya memang telah menemukan cara yang lebih baik untuk mengabadikan mereka. Sebagian dari mereka telah berulang kali saya awetkan dalam puisi, sementara sisanya telah saya patri dalam kisah ini.

Dan kenangan tentang mereka semakin menegaskan kepada saya bahwa pertemanan, memang benar-benar sebuah petualangan yang amat menyenangkan...! Walau si cewek FTV dengan rambut cepak imo-nya masih saja bolak balik berbisik berisik dari balik bilik benak membuat saya bosan dan agak jengkel dengan dialognya yang itu-itu juga,

“Iya...! Iya...! Teman ga ciuman. Teman ga ML... : Jing!” ucap saya sebal sambil mengakhiri tulisan ini.

 

Catatan Jempol Kaki:

Bay tidak pernah ML dengan semua karakter wanita yang di klaim sebagai guru terhebatnya tersebut. Dan tak perlu ada pertanyaan tentang apakah Bay ciuman/pelukan/skinship dengan mereka -dan atau sebagian dari mereka- atau tidak, karena pertanyaan itu jelas termasuk jenis kalimat yang sia-sia, yang tak akan pernah bisa menghasilkan jawaban apapun dari Bay.

Sekilas catatan jempol kaki ini, yang harus segera dihentikan karena Bay mesti mencuci jempolnya berkali-kali agar tidak menimbulkan kontroversi tentang bau tak sedap yang berpotensi terjadi, hihihi... (Bersambung…).

 

Dunia Aneh Si Bay, ThornVille, Tahun Meguru.


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    .

    • Lihat 1 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Catatan Jempol kakinya terlalu vulgar Bay. Tahan dikit, bnyk yg masih hijau di sini. Hihi...

    Terlepas dari itu, kisah ini diceritakan dengan gaya bahasa yg 'kaya'. Apadanya (warnamu). Saya sangat suka pembukanya.

    Bravo, Bay

    • Lihat 9 Respon

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    Ternyata banyaaak ya om. hwkkkkk
    Kalo diantara tante Mulan sama tante Nha.
    Hati om sebenarnya pada akhirnya tertambat sama siapa?

    • Lihat 2 Respon