‘The Best Damn Thing’ of Us

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 15 April 2016
‘The Best Damn Thing’ of Us

Cerita sebelumnya:

Jangan Pernah Mencintai Secara Terlalu

***

Banyak cara untuk menjadi The Best Damn Thing, beberapa di antaranya hanya perlu menggunakan jari dan sedikit kata-kata.

“Lo yang salah...!!!” ucap Bay menunjuk kuman di seberang lautan, sambil diam-diam berharap dengan cara itu gajah di pelupuk mata jadi tak kentara, menghasut dan menjebak Bay untuk berbicara tentang adab, etika dan kesopanan... sambil telanjang!

“Sampolu bademu tenaku melar...!” yang langsung saja membuat Bay ‘penyak-penyok’ di kepruk lima orang -dengan bambu di salah satu mereka- beberapa waktu yang lalu saat Bay singgah di pinggir Jakarta.

Ketika parang dan golok mulai berdatangan, saat itulah yang paling tepat untuk mengakhiri ‘olahraga fisik’ yang tak pernah melibatkan pihak asuransi tersebut. Jantankah...? Barangkali sudah saatnya menyelesaikan semua masalah dengan cara yang lebih betina.

“Ssstt...! Saat lo belum lahir, gue udeh mahir...” bungkam Bay dengan gaya sengak, tak peduli meski kenyataan berulang kali membuktikan bahwa ada duluan bukan jaminan untuk menjadi yang terdepan. Terutama saat ada yang dimaksud tak banyak berbeda dengan tiadanya, yang semakin diperparah lagi dengan keberadaan yang cuma seperti antara ada dan tiada. Hadir, hanya untuk sekedar mondar-mandir dan atau memasung pikir dengan satir yang tiada akhir, sambil sesekali bersikap nyinyir seakan semua yang zahir tak lebih dari takdir yang getir.

“Hidung Lo terlalu panjang, Bay...” menjadikan Bay terus saja membaui segala macam urusan yang harusnya tak mesti menjadi beban dan tanggung jawabnya. Menyangga dunia dengan pundak rapuhnya, tanpa sedikitpun ingat dengan dunianya sendiri yang kian kusam dan pecah-pecah.

“Kuhabiskan hidup dengan terus berlari...!” ucap Bay getas mengutip puisi yang dulu pernah ditulisnya, dalam sebuah kesalah pahaman yang entah kenapa selalu urung mengujung.

“Dalam hal ini, lo tuh cuma bayi...!” ucap seseorang berulang-ulang seperti kaset soak yang amat menyebalkan, yang seringkali tanpa sadar banyak lagi yang melakukannya. Dengan kalimat yang berbeda, walau jelas dengan makna kata yang sama, yang cuma Bay jawab dengan kalimat singkat, “Lihat, Si Hebat, memainkan seringai bayi...!!!.

Bertambah tua itu pasti. Tapi bertambah dewasa? Itu tentu sesuatu yang lain lagi. Terutama saat usia yang dilalui sekedar ‘habis percuma’ di bawah sengatan matahari. Tua kejemur, tanpa pernah berkeinginan menyisipkan pelangi sekalipun di sela-selanya.

Who do you think you are...?!!!” teriak Bay kesal pada semua yang terus saja mengganggu hidupnya. Dan ketika teriakan itu sebagian besar membentur dirinya lagi, membuat Bay merasa kecut sendiri dengan gaung yang terpantul-pantul kembali di telinganya, “You are what you were, Bay...” Bay rindu kemarin, rindu sehelai waktu yang harusnya memang sudah menjadi basi.

Dunia Aneh Si Bay, ThornVille, Tahun Apek.


  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Masbay, udah keupload Blm, pesanan saya,

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Tumben Mas Bay menulis cukup ringkas, hehe ....
    Diksi-diksinya memukau, lagi-lagi saya suka ....

    Besok lusa ketika memilili waktu luang yang cukup panjang, saya pengen belajar nulis sama Mas Bay, nih ....

    • Lihat 2 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Itu fotonya mirip banget yaa..

    • Lihat 7 Respon

  • Lilik Fatimah Azzahra
    Lilik Fatimah Azzahra
    1 tahun yang lalu.
    *Bay kesal pada semua yang mengganggu hidupnya...*
    Begitu ya kak...termasuk pada si manusia baru?