Apa yang Dibutuhkan untuk Sebuah Bisnis yang Baik?

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 April 2016
Apa yang Dibutuhkan untuk Sebuah Bisnis yang Baik?

Cerita sebelumnya:

Guru Miskin dan Filosofi Celana

***

Dengan mempergunakan seluruh kelebihan yang saya peroleh dari teman-teman terhebat saya seperti yang telah saya tulis dalam volume sebelumnya perlit ini, saya panggil Si Eksentrik yang ada dalam diri saya, dan mulai menyusun ulang peta diri sekali lagi. Mulai dari grand design yang ‘sekecil-kecilnya’ hingga kepada blue print yang ‘sebesar-besarnya’.

Setelah dirasa cukup lengkap, saya pergunakan logika Mulan yang memang telah amat lama memarginal dalam benak saya, dengan beberapa modifikasi dan perubahan penting di sana-sini, dan menjadikannya sebagai sebuah logika terbalik paling aneh yang pernah saya miliki. Mengembangkan “we must to...” menjadi serangkaian panjang ”what if...” sebagai hipotesa terliar dari semua destinasi yang saya inginkan, dengan begitu banyak deretan ”how to...” yang lebih panjang dan benar-benar mewajibkan saya untuk menjadi setangguh Si Eksentrik, dengan karakter yang jauh lebih kuat lagi dari yang dia miliki.

Saat itu saya benar-benar dituntut untuk menjadi ‘yang terbaik’ dalam rantai kekuatan pengelolaan bisnis saya, yang selalu harus mampu untuk menekan gas atau sekedar menggoyangkan setir ke kanan dan ke kiri agar tetap meluncur lurus di jalan tujuan.

Dan itu seringkali menjadi tak mudah, terutama bila mengingat betapa otodidaknya saya dalam melakukan semua. Ditambah dengan mayoritas SDM yang saya punya dengan latar belakang amat sederhana dan terbatas, serta-merta menjadikan tanggung jawab sebagai motor penggerak mendarat tepat di punggung saya.

Mungkin kata-kata tersebut terdengar agak sarkas. Tapi memang terlalu sedikit yang bisa kita harapkan ‘secara umum’ dari seorang tukang obras biasa, atau karyawan pabrik, penjaga toko, bahkan juga mereka yang belum lagi sempat lulus SMU, dan beberapa mahasiswa yang mungkin baru sekedar memperoleh MKDU di kampus mereka. Dan saya cukup yakin jika saja mereka bertemu dengan wayang-wayang OVJ, tentu akan langsung dibombardir dengan pertanyaan yang menyebalkan tersebut, “Sebenarnya mau kemana sih arah hidup lo?”

Merekalah kru bisnis saya, dalam sebuah usaha serius yang bernama: Bisnis Pendidikan. Tentu dengan segudang keahlian -dan terutama sekali kecerdasan- yang amat dibutuhkan dalam Standard Operational Procedure di dalamnya.

Mereka kemudian memang menjadi kru terhebat yang pernah saya miliki, terutama setelah begitu banyak ‘formula’ dan ’teknik khusus’ yang harus mereka ganyang habis sebagai sebuah peningkatan kualitas. Namun saya yakinkan kepada kau bahwa hal itu tidaklah terjadi pada saat mereka baru bergabung dengan saya!

Dan semua itu menjadi lebih tidak mudah lagi saat saya menyadari bahwa inilah proyek pertama dalam hidup saya yang benar-benar tidak melibatkan Mulan sebagai guru tercerdas yang saya punya, yang selalu mampu untuk menjadi tempat saya bertanya atau meminta. Atau barangkali sekedar memeluknya saat saya merasa begitu lelah menghadapi semua, yang biasanya menjadikan saya langsung merasa full power kembali.

Proyek inipun ada jauh hari setelah teman-teman hebat saya tak lagi di depan mata. Walau ingatan tentang mereka seringkali dengan cara yang aneh membuat saya tetap mampu untuk menyelesaikan semua, dan mungkin akan menjadikan saya keluar sebagai pemenang dengan begitu bebasnya finansial yang saya miliki tanpa perlu bekerja lagi, dengan begitu banyak ‘karya-karya besar’ yang mungkin telah selesai saya buat, sebelum semuanya tiba-tiba harus lenyap beberapa saat sebelum saya berhasil mencapai garis finish, yang setelahnya membuat saya ‘lagi-lagi’ terlahir kembali, dan menjadi pangeran kodok yang terus saja berlompatan ke berbagai daerah. Menjadi orang rumahan yang justru tak pernah ada di rumah. Menjadi naked traveler yang sama anehnya dengan pola hidup saya sebelumnya, yang kembali akan mengisi tulisan saya selanjutnya, setelah kisah ini selesai saya bagi.

Apa susahnya membuat uang memburu kita, tanpa kita perlu bersusah-payah mengais-ngaisnya dalam tumpukan rutinitas kantor dan atau tempat kerja lainnya, sambil diam-diam berharap ada rejeki besar yang membuat kita tak perlu lagi berlelah-lelah dalam mengumpulkan setiap sennya?

Kembali sambil bersiul-siul dan menjentikkan jari saya ajak kau ke tempat di mana uang telah sekian lama duduk dengan manisnya seperti mempelai wanita yang siap untuk kau pinang dan kau nikahi.

Sedikit melangkah ke Utara Jakarta akan kau temui mereka yang butuh untuk kau pasok secara rutin ikan cakalang sebanyak satu setengah ton perhari. Dan dengan jumlah rupiah yang tak lebih dari 30 juta sebagai penukar kuota ikan tersebut untuk 2 kali pengiriman, dengan sangat rela mereka akan memberimu selisih harga sebesar 250 ribu rupiah, dengan hasil tambahan dari biaya pengangkutan benda tersebut ke daerah Tangerang sebesar jumlah yang sama, mulai dari pengiriman kedua dan seterusnya.

Tak perlu kau repot-repot berpartisipasi dalam operasional bisnis ini, karena hanya dengan memotong 100 ribu dari income-mu tadi, telah cukup membuatmu memiliki supir + mobil losbak sewaan. Dan dengan sisa laba yang 400 ribu dikalikan 1 bulan, tentu saja cukup untuk membuatmu ‘nikah ala kampung’ setiap bulan... sebanyak yang kau mau!

Kurang banyak? Silahkan melangkah sedikit lebih jauh ke daerah Banten, sebab di sana kau akan mengetahui bahwa ternyata ada sebuah mesin pencacah gelas aqua bekas, dengan kapasitas kerja tak kurang dari 2 ton perhari yang bisa kau miliki cuma dengan harga 50 juta saja. Tinggal kau tambahkan rupiah sebesar maksimal harga mesin tersebut sebagai cara memperoleh bahan baku dan pengoperasionalannya, maka kau tidak perlu bingung lagi untuk menghitung, berapa besar laba yang kau punya jika setiap kilogram yang dihasilkan dari mesin pencacah tersebut kau bisa mengantongi tak kurang dari 6000 rupiah.

Tahukah kau berapa yang bisa kau dapatkan dalam sebulan? 360 juta, Bro...!!! Dan dengan teknik serta perhitungan tertentu maka kembali kau tidak perlu bersusah-payah untuk ‘kerja rodi’ di dalamnya. Cukup kau potong dengan sangat... sangat... sangat..., dan sangat sedikit dari penghasilan yang kau peroleh tersebut, secara otomatis akan menjadikanmu orang yang paling produktif menghasilkan rupiah, walaupun hanya sambil ngopi dan atau mengasuh bayi! Dan dengan pendapatan yang sebesar itu saya amat yakin bahwa kau tentu tak akan memilih ‘kawin berkali-kali’ sebagai arah hidupmu, haha... :P

Dengan cara yang tak banyak berbeda kau bisa pergi lebih jauh ke daerah Serang dengan bisnis PE tikusnya, dan setelahnya dalam waktu yang relatif singkat akan membai’atmu menjadi raja. Atau ke Pasar Induk dengan segala macam pasokan bahan makanannya. Atau ke pusat Jakarta dengan gudang berasnya, dan tentu saja Bulognya. Atau sembakonya, atau cuma jasa pengangkutannya dari satu pasar yang lebih besar ke pasar-pasar yang lebih kecil dan tradisional dengan kau cuma perlu mengumpulkan 10 pelanggan serta standby selama lebih kurang 1 jam, maka 100 ribu bersih akan langsung menghuni kocekmu. Tinggal kau tentukan sendiri kemudian berapa jumlah pelanggan yang ingin kau miliki, yang tentu saja berimbas kepada berapa rupiah yang akan kembali menimbun kocekmu.

Jika kau ‘siap tempur’, mengubah pasar tradisional di daerahmu menjadi sebuah kompleks ‘koperasi pertokoan’ jelas sebuah tantangan tersendiri untukmu, yang walaupun mungkin lebih rumit dan ‘butuh’ melibatkan beberapa unsur dalam masyarakat, namun jika berhasil kau lakukan, akan serta-merta menyejajarkanmu dalam deretan pengusaha properti ‘terselubung’ selama minimal 30 tahun ke depan!

“Modalnya gimana, Bay...?”

Sering saya ingin menjawab sambil terkekeh-kekeh seperti aki-aki tua yang kebanyakan minum teh tubruk: Modalnya ya... dari Mbah Moyangmu, tentunya...!!! Namun jawaban tersebut tentu saja cuma beredar di benak saya. Karena ini memang pertanyaan yang cukup serius. Dan saya jelas tidak pernah iseng atau bercanda jika tentang hal-hal yang serius. Walau saya juga tahu bahwa pertanyaan ini adalah penyakit paling tua yang pernah dibopong oleh manusia. Entah lebih tua mana dengan penyakit bangkotan yang bernama: Cinta.

Sambil pura-pura berpikir keras dan mengelus janggut khayal saya yang rata dada, dengan setengah arif saya akan langsung menyarankan kepada si penanya untuk memulainya dari yang kecil-kecil saja.

Dengan dana yang tak lebih dari 200 ribu, siapapun bisa untuk langsung berjualan pulsa, dan atau mencari uang receh yang banyak tersebar di blog dan facebook, dan atau kegiatan bisnis ecek-ecek yang lainnya.

Tapi tentu saja saran tersebut bukan dari ‘arif’ saya yang berdefinisi ‘bijak’, melainkan ‘arif’ dalam bahasa daerah yang berarti ‘ngantuk’, yang jelas amat perlu dipertimbangkan kembali pelaksanaannya.

Saya pernah mendengar petuah tentang ‘berpikir global bertindak lokal’, atau juga tentang berpikir besar dan memulainya dari aksi yang paling kecil dan sederhana.

Alangkah dahsyatnya kebenaran dalam kalimat-kalimat tersebut, yang tetap saja mampu untuk menipu atau setidaknya membuat begitu banyak orang terjebak di dalamnya, dan terperangkap dalam ilusi tentang kearifan teori ‘dari yang kecil kemudian menjadi besar’.

Memang ada saja situasi khusus yang sampai kepada saya tentang kebenaran teori ini. Namun jauh lebih banyak lagi fakta-fakta umum yang saya lihat betapa amat banyak orang yang memulai dari yang kecil, namun tak juga kunjung menjadi besar.

Entah kenapa tetap saja kecil itu terus kecil, bahkan tak jarang semakin mengecil sebelum tiba-tiba, “Psst...” menghilang seperti asap yang tertiup angin.

Teorinyakah yang salah? Jelas bukan saya yang bertanya. Walau saya juga tak ingin repot-repot menyalahkan para ‘praktisi kecil’ yang telah gagal dengan amat sukses itu, yang tak pernah bisa sekalipun untuk sempat mencicipi besar.

Namun jika boleh memilih, maka saya tentu menyarankan dengan amat tegas agar kau tidak memulai segala sesuatu yang kau inginkan, dari yang kecil...!!!

Ada begitu banyak cara untuk mendapatkan uang. Bahkan jika kau tidak punya modal sebagai sarana pemancingnya, tetap teramat banyak cara untuk kau bisa mendapatkan modal tanpa perlu bertahun-tahun menyisihkannya dengan kecepatan seekor kura-kura yang menderita asam urat atau setengah lumpuh karena rematik. Dan cukup banyak juga cara untuk kau tetap bisa mendapatkan begitu banyak uang, tanpa modal uang sama sekali.

“Bagaimana mungkin, Bay...?”

Anything is possible, ucap saya berbarengan dengan ucapan Mulan yang secara abadi terekam dalam memori saya. Dan saya yakin ucapan itu akan semakin tegas jika kau bertanya kepada Merry Riana, cewek muda Indonesia yang belum lama ini namanya naik daun seperti ulat bulu dalam kancah bisnis di Singapura, sebagai sosok yang telah berhasil bebas finansial di usia yang relatif muda. Dan semua jawaban lantas saja seperti merujuk ke sebuah kesepakatan yang sama: Belajar!

“Hah...! Belajar bisa bikin kaya, Bay...?!”

Hehehe... Yang jelas, jangan kau ajukan pertanyaan tersebut kepada temanmu sesama siswa, atau juga kepada guru dan dosenmu, karena saya khawatir bukan jawaban optimis dan menyenangkan yang akan kau dapatkan, melainkan justru ucapan setengah menghardik dan atau paling banter pengiyaan yang kental dengan aroma ragu yang tebal. Sebab mereka yang kau tanya tadi umumnya tidak lebih pintar dengan kau yang bertanya, jika soal uang.

Tapi belajar tentang uang memang jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan belajar yang lainnya. Terutama ketika kita bahkan tak tahu sama sekali harus ke mana dan atau kepada siapa belajar tentangnya.

Semua orang tentu akan langsung menunjuk bank saat kita bertanya dimana bisa menemukan uang dalam jumlah yang besar. Namun tak semua dapat memberikan jawaban pasti saat kita bertanya di mana bisa belajar tentang uang.

Sebagian orang tetap konsisten menunjuk ke bank, yang kemudian dengan ragu-ragu membelokkan arah telunjuknya ke sekolah bisnis, atau mungkin langsung menunjuk ke deretan pebisnis kaya yang wajahnya sering tercetak di media massa, yang kembali menekuk telunjuknya karena tak yakin yang ditunjuk tadi membolehkan untuk belajar tentang uang.

Dan pilihan semakin mengerucut saat membayangkan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan cuma untuk bisa ‘duduk manis di sekolah bisnis’. Atau dengan keciutan nyali yang sama tatkala membayangkan tatap mata curiga dan senyum setengah sinis yang diberikan oleh para pebisnis kaya tersebut, saat kita mengutarakan maksud untuk belajar tentang uang kepada mereka, yang seketika membuat pilihan jatuh kepada belajar tentang uang cuma dari buku.

“Membaca buku, Bay...?! Huahh...!!!”

Ingin rasanya saya menyarankan yang lain kepada wajah-wajah kecut yang tak telahir sebagai penikmat buku ini. Misalnya dengan belajar ilmu kelas satu melalui praktek langsung dari pengalaman, yang mungkin akan membuat mereka seketika menjadi lebih hebat dari profesor keuangan manapun saat berhasil mempraktekkannya.

Namun bayangan tentang kegagalan yang berdarah-darah memaksa saya tetap berkeras menyarankan untuk setidaknya tetap membaca buku, bahkan pada saat mereka telah memulai praktek bisnisnya! Walau saya dapat membayangkan betapa akan semakin kecut wajah mereka nanti saat mengetahui bahwa buku-buku tersebut bahkan ada yang lebih tebal dari kitab suci, dengan muatan isi yang banyak memaksa kening berkernyit menangkap maksud yang hendak dicapai.

Ada begitu banyak buku yang membahas cukup lengkap tentang uang, juga sikap kebiasaan serta kepribadian yang ‘katanya’ dapat membuat uang mendatangi kita. Renald Khasali dengan Change! nya akan mengajari kita dengan kalimat-kalimat serius yang lumayan berat. Juga Stephen R Covey dengan The 7 Habits dan lanjutannya yang cuma sedikit lebih ringan. Sementara Ari Ginanjar memberi kita banyak pencerahan yang bermanfaat dalam hidup dengan ESQ-nya.

Mau yang lebih spesifik? Donald Trumph mengajarkan hampir semua tentang bisnis properti, juga cara tepat untuk menendang balik siapapun yang telah ‘memakan’ kita. Atau Air Asia dan Virgin Air dengan bisnis penerbangannya yang padat modal dan resiko, walau dengan margin yang sayangnya sangat tidak padat.

Namun dari semua buku tentang uang yang pernah saya baca tersebut, pilihan saya jatuh pada serial Rich Dad karangan Robert T. Kiyosaki, dengan narasi yang cukup ringan dan amat mudah dicerna, yang semasa kuliah dulu sempat membuat saya ikutan jadi kuli menggotong-gotong buku Cashflow Quadrant ke UI dan Al-Azhar sambil sesekali membuka isinya.

Dan hasilnya? Tetap saja saya bingung dan tidak mengerti apa-apa! Bahkan juga terhadap buku-buku Mr. Kiyo tersebut, yang walaupun tetap saya klaim sebagai buku paling ringan dan mudah untuk dicerna dan dipahami, namun persoalannya akan menjadi lain sama sekali saat saya berkeinginan untuk mempraktekkannya!

Apa yang dibutuhkan untuk sebuah bisnis yang baik? Yap, sebuah produk yang bermutu. Apapun jenis bisnisnya dan apapun juga produknya. Begitu juga dengan lembaga pendidikan tersebut. Saya panggil penanggung jawab operasional harian untuk bertanya sudah sejauh apa situasi yang ada.

“Kita kesulitan memperoleh buku panduan belajar yang bermutu, Bay...”, ucap si penanggung jawab harian tersebut, yang selanjutnya mungkin akan terdengar lebih enak bila kita menyebutnya sebagai Er saja.

“Apakah benar-benar tak ada satupun buku yang sesuai dengan target yang kita inginkan, coba cari di kartel toko buku anu dan anu,” ucap saya dengan serius.

Tak lama Er membawa dua set buku belajar, yang agaknya merupakan satu-satunya panduan yang paling mendekati keinginan dan tujuan pencapaian kami. Dan ketika di kedua jaringan  toko buku terbesar tersebut barang yang kami maksud semakin langka, saya kembali meminta Er untuk menanyakan alamat penerbitnya untuk membeli langsung dari tangan pertama.

Dan berhasil. Sebuah masalah telah lagi selesai. Sementara untuk peningkatan kemampuan instruktur bahasa, saya datangi seseorang yang ada dalam pundi-pundi pertemanan saya, dan memintanya untuk memberikan pelatihan khusus dan intensif kepada SDM saya, dengan –seperti pelajaran dari Mulan yang selalu saya terima- tenggat dan target yang sesuai racikan dan formula saya, yang beralih bahasa agar lebih terkecap cita rasa keguruannya menjadi TIU dan TIK.

Dalam perjalanan ke depannya teman tersebut menjadi staff In House dan juga In Company Training yang melayani permintaan seorang direktur pabrik baja di wilayah Tangerang yang sempat menjadi kolega saya.

Tapi agaknya sang teman memang bukan teman seperti layaknya kebanyakan teman. Dari awal jelas dia sudah tidak menghargai saya sebagai seorang teman terbaik, dan juga lupa bahwa apa yang dia dapatkan selama ini adalah buah dari pembelaan saya terhadap hidupnya, karena saya memang sudah menganggapnya sebagai adik kesayangan saya sendiri.

Big boy itu kemudian mendapat julukan Afkir, karena katanya, dia memang mirip barang afkiran yang jika dilihat dari wataknya tentu tidak bisa dipakai. Bahkan saat saya yang memintapun dia mengajukan biaya belajar yang cukup tinggi pada masa itu.

Saya jelas kecewa. Namun rasa sayang saya yang begitu besar terhadapnya membuat saya mengalah.

Jer basuki mowo beo, ucap saya dalam hati saat itu, yang kira-kira artinya adalah setiap cita-cita membutuhkan biaya, sebagai salah satu bentuk pemakluman saya terhadap dia. Imbasnya, saya tekankan kepada SDM untuk belajar sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya agar memperoleh skill termaksimal dalam durasi yang sesuai dengan yang ditetapkan afkir, yang mengakibatkan salah seorang dari SDM saya mundur karena merasa otaknya nge-hang.

Kembali sebuah masalah menghilang. Dan pada setiap perginya kendala, datang peluang sebagai penukarnya karena memang itulah sunatullah, yang lebih sering dipahami sebagai hukum generatio spontanea dan atau invisible hand yang mengatur agar semua tetap berjalan sesuai dengan keseimbangannya.

Mutu semakin baik, membawa serta nama yang semakin dikenal juga siswa yang semakin bertambah jumlahnya. Hingga suatu hari Er kembali memberikan laporan berkala kepada saya. Tentang kemajuan yang cukup signifikan baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Walau kendala buku panduan belajar masih  menjadi masalah yang cukup mengganggu karena terus saja berulang-ulang.

“Bikin buku aja sendiri, Bay...” ucap Er suatu kali, yang langsung membuat saya cukup lama termenung-menung seperti patung.

Kenapa tidak? Apa susahnya membuat buku? Toh saya pernah membuatnya bersama Dijey waktu sekolah dulu... Begitu monolog saya waktu itu.

Namun membuat buku tentu tak seremeh saat kita mengucapkannya. Terbayang bayaknya waktu yang harus saya investasikan dalam prosesnya, yang jika menggunakan komputer sewaaan akan langsung menimbulkan ‘biaya peluang’ yang tak masuk akal, bahkan walau misalnya cuma dilihat dari cashflow yang menggunakan staffel sekalipun!

Cari komputer saja! Langsung saya terbang ke lingkaran teman yang lain, yang tanpa saya membawa uang sepeserpun, ‘kotak pintar’ tersebut langsung tertata dengan manisnya di atas meja komputer ringkih seharga gobanan yang banyak beredar di pasar. Barang second, memang. Namun cukup memenuhi syarat bagi kebutuhan saya yang memang tak banyak menuntut spec tinggi.

Gratiskah komputer tersebut? Buat saya, ya. Namun tidak demikian bagi teman saya. Saya cuma membuat perjanjian agar dia membayar komputer entah milik siapa dengan uangnya, yang akan saya angsur secara perbulan, dimulai satu bulan setelah benda tersebut tergeletak di tempat saya. Untuk angsurannya saya minta persetujuan Er agar mengumumkan sedikit kenaikan biaya belajar. Tentunya dengan target pencapaian mutu belajar siswa yang akan lebih tinggi sebagai konsekuensi dari semuanya. Bereslah sudah.

Tinggal sebuah kendala lagi yang harus saya pecahkan agar saya dapat membuat buku. Dan kendala tersebut tentu saja... mengoperasikannya! Karena saya memang tak bisa menggunakan komputer (Bersambung ke DASB volume selanjutnya).

ThornVille, Tahun Anu.


  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    kemana => ke mana
    kau temui => kautemui

  • B.R. Karya 
    B.R. Karya 
    1 tahun yang lalu.
    Numpang ngelike tp g komen.. ehehe

    • Lihat 11 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Mas bay..saya dikasih les privat doonk..mau belajar nulis serius nih..eh saya baru bisa baca tulisan2 lain mas..soalnya quota mulai minta diirit

    • Lihat 4 Respon

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Yuhuuuu bisa , paketin laptop nya Saya Pinjam untuk mengetik hehehehe

    • Lihat 3 Respon