Senang Bila Orang lain Susah, Susah Bila Orang lain Senang

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Februari 2018
Senang Bila Orang lain Susah, Susah Bila Orang lain Senang

 

“Orang yang hasad seakan meminum racun tapi berharap orang lain yang mati”
-Anonim-

Ada kisah nyata yang terjadi di zaman Khalifah Al-Mu’tashim. Seorang badui di angkat oleh Khalifah menjadi orang kepercayaannya. Kemudian ia leluasa bisa keluar masuk istana Khalifah.

Sang Khalifah memiliki menteri pendengki. Ia tidak suka dengan kedekatan badui itu kepada khalifah.

Ia berkata dalam hatinya, “Aku harus membunuhnya agar tidak mengambil hati khalifah dan menyingkirkanku”.

Kemudian ia membuat tipu daya dengan bersikap lemah lembut dihadapan badui supaya mau diajak ke rumahnya. Ajakannya pun berhasil. Ia dijamu dengan makanan yang bahannya dicampur bawang merah sebanyak-banyaknya.

Usai makan, menteri berkata, “Hati-hati, jangan mendekati khalifah, karena jika dia mencium bau bawang merah darimu, maka dia akan terusik. Ia tidak suka dengan aroma bawang merah”.

Lalu menteri ini mendatangi khalifah dan bertemu empat mata saja. Ia berkata, “Wahai amirul mukminin, si badui itu membicarakanmu ke orang-orang kalau engkau bermulut bau, dan hampir mati karena aroma mulut tuan.”

Kemudian di suatu kesempatan saat si badui akan bertemu khalifah, ia menutupi mulutnya dengan lengan baju agar aroma bawang tidak menyebar dan tercium olehnya.

Namun ketika amirul mukminin melihat kelakukan yang dilakukan badui itu, ia berkata, “Memang benar apa yang dikatakan menteri kepadaku.”

Khalifah kemudian membuat surat kepada pegawainya. Isi suratnya berbunyi, ““Bila pesan ini sampai kepadamu, maka penggallah leher si pembawanya!”.

Dipangggilah si badui itu dan berpesan kepadanya, “Bawalah surat ini kepada si fulan, setelah itu berikan aku jawabannya.”

Dengan keluguan dan kepolosannya, ia terima tugas itu dan segera pergi dari hadapan khalifah.

Saat di pintu gerbang kota, si badui bertemu dengan menteri. Seraya bertanya, “Kemana engkau hendak pergi?”

Aku membawa surat amirul mukminin untuk fulan, pegawainya”. Jawab Badui.

Si menteri berkata dalam hati, “Tentu hasil dari tugas si badui akan memperoleh uang yang banyak”.

Maka ia berkata kepadanya, “Wahai badui, bagaimana pendapatmu ada orang yang meringankan kelelahanmu dari perjalanan panjang bahkan orang itu memberimu upah sebesar 2000 dinar?”

“Engkau orang yang berkedudukan tinggi dan pemutus perkara, apapun pendapatmu lakukanlah.” Kata badui.

Lalu ia menyerahkan surat itu kepada si menteri.

Setelah pegawai menerima surat itu dari menteri dan memahami dengan dalam apa maksudnya, barulah ia eksekusi dan memenggal pembawa pesan tersebut.

Beberapa hari kemudian, amirul mukminin baru teringat akan masalahnya dengan orang  badui. Maka dari itu ia bertanya mengenai keberadaan menterinya. Lantas ia mendapat kabar bahwa si menteri sudah lama tidak terlihat, sedangkan orang badui masih ada di kota.

Mendengar informasi tersebut Sang khalifah takjub dan memanggil badui untuk menghadapnya. setelah datang, ia bertanya tentang kondisinya. Badui ceritakan semua kejadian saat bersama sang menteri dan apa yang disampaikannya perihal sesuatu yang dibenci khalifah.

Khalifah pun menceritakan tentang kabar mengenai keburukan badui yang kata sang menteri  telah menjelekkan ke orang-orang kalau aroma mulut khalifah bau.

Ternyata semua itu adalah siasat licik si menteri dan kedengkian terhadap badui.

Itulah bentuk iri dengki yang terjadi. Selalu tidak senang melihat orang senang. Buruknya iri dengki membuat pelakunya berusaha menghilangkan nikmat itu dari orang lain. Sehingga segala cara akan ditempuh agar niat busuk itu terlaksana. Orang semacam ini seakan meminum racun tapi berharap orang lain yang mati.

Dalam kehidupan ini pasti kita pernah merasa senang. Dapat bonus dari kantor bagi yang bekerja, mendapat nilai bagus bagi yang sekolah, bertemu sahabat dekat yang sudah lama berpisah, dan mendapat rejeki dari jalan yang tidak dikira.

Namun ternyata ada saja beberapa orang yang tak suka. Ingin jika nikmat itu berpindah padanya. Seolah Allah salah alamat memberi rejeki kepada hamba-Nya.

Dikala tetangganya miskin, mungkin orang ini biasa. Tapi ketika tetangga itu sudah memiliki mobil, sedang orang ini masih saja menaiki motor, barulah ada rasa cemburu. Hatinya sesak, merasa tak terima dengan nikmat yang ada pada orang lain.

Berat hati melihatnya menerima rezeki dari Allah, padahal disisi lain tetangga tersebut biasa saja saat orang itu mendapatkan nikmat yang jauh lebih besar.

Hatinya selalu dirudung gelisah tak karuan. Sehingga muncul suudzhan, kalau-kalau orang yang mendapatkan nikmat itu dari jalan dan cara yang hina.

Maka jika terjadi seperti ini, ada yang salah dengan hatinya. Ia tak paham salah satu karakteristik kehidupan. Yaitu berputar seperti roda. Terkadang orang itu dibawah, dan bisa jadi pada suatu saat nanti berada di atas.

Senang ketika orang lain susah, dan susah bila orang lain senang karena mendapatkan suatu nikmat, maka masuk pada sifat hasad. Iri dengki atas nikmat yang diberikan kepada orang lain.

Saudara Yusuf Alaihi Salam Dan Qabil

Sifat seperti ini banyak kita dapati dalam sejarah. Dalam Al-Qur’an pun menceritakan mengenai bahayanya sifat hasad.

Yang mendorong anak-anak Ya’qub untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur adalah karena iri. Yusuf lebih di sukai dari pada saudara-saudaranya. Bahkan ada yang mengusulkan Yusuf di bunuh saja. Tapi mereka akhirnya memasukkan Yusuf ke sumur. Intinya ingin meniadakan Yusuf dari ayahnya agar cintanya hanya kepada saudara-saudaranya saja, bukan pada Yusuf. Allah berfirman, 

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
اقْتُلُوْا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوْهُ أَرْضًا يَّخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا مِنْ بَعْدِهٖ قَوْمًا صٰلِحِيْنَ
قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوْا يُوْسُفَ وَأَلْقُوْهُ فِيْ غَيٰبَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ.

Artinya, “Ketika mereka berkata, "Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah dari pada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata,

bunuhlah Yusuf dan buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik."

Seorang di antara mereka berkata, "Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat." (QS. Yusuf [12]: 7-9)

Yang mendorong Qabil membunuh Habil, saudaranya sendiri adalah lantaran tidak suka Habil diterima kurbannya, Sedangkan kurban Qabil di tolak oleh Allah. Allah menerima kurban Habil karena ia termasuk orang yang bertakwa. Kisah ini diabadikan dalam surat Al-Maidah [5]: 27-29.

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu.’ Dan berkata yang diteirma kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak menggerakkan tanganku aku membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Robb sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa (pembunuhan ini) dan dosa kamu sendiri yang lain, maka kamu menjadi penghuni neraka, dan yang demkian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.”

Dua kisah diatas ialah perbuatan yang didorong karena hasad. Sebenarnya jika sakit hati ini tidak ditampakkan dengan perbuatan, tidak akan membahayakan orang lain. Sebab tak sedikit manusia memiliki sifat tersebut. Hanya saja orang yang baik tidak menampakkan rasa iri itu. Maka dari itu salah seorang ulama mengatakan,

مَا خَلَا جَسَدٌ مِنْ حَسَدٍ لَكِنَّ اللَّئِيمَ يُبْدِيهِ وَالْكَرِيمَ يُخْفِيهِ

“Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad (iri). Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia (hatinya) akan menyembunyikannya.”

Namun sebenarnya jika menginginkan kenikmatan yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat itu hilang darinya tidak dikategorikan hasad. Tapi Ghibthoh. Itu seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah. Perbuatan tersebut tidak tercela. Yang dicela adalah jika berharap nikmat pada orang lain itu hilang.

Mengobati Hasad

Jika diantara kita terjangkit penyakit hasad ini dan tidak di segera diobati, maka penyakit ini akan terus mengrogoti hati. Akibatnya tidak pernah bersyukur atas nikmat yang Allah berikan lantaran sibuk pada nikmat orang lain yang lebih besar. Sebesar apapun nikmat yang ada tidak akan pernah cukup, sebab selalu memandingkan nikmat yang lebih besar dari apa yang diterima.

Ada beberapa hal agar penyakit ini bisa di obati.

  • Mendiagnosa penyakit hasad

Ada ungkapan menarik, “Tak kenal maka tak benci”. Tentu ungkapan ini sesuai untuk mengenal macam-macam maksiat, khususnya yang ada di dalam hati kita. Kita harus tahu dulu apa hasad itu. Bisa jadi jika kita tidak tahu suatu maksiat, yang ternyata dulu sering kita lakukan. Bagaimana mungkin kita akan menjauhinya, sedangkan kita saja tidak tahu apa bentuknya.

Setelah kita tahu ilmunya, barulah kita hindari sepenuhnya agar hasad itu tidak masuk dalam hati kita.

Namun bila terasa berat meninggalkan hasad, coba kita renungkan konskwensi dari perbuatan itu.

Salah satu akibat buruk hasad adalah kebaikan-kebaikan pelakunya akan habis. Jika setiap hari tidak pernah berhenti iri kepada teman kerja, teman kuliah, tetangga, saudara dan keluarga, maka setiap hari itu pula kebaikan terbakar.

Rasulullah  mengingatkan kepada kita, "Jauhilah oleh semua sifat hasad (dengki/iri hati) itu, karena sesungguhnya sifat dengki itu bisa menghabiskan amal-amal kebaikan sebagaimana apai menghabiskan kayu bakar " (HR. Abu Dawud).

  • Bersyukur dengan apa yang ada

Obat yang mujarap adalah dengan membiasakan syukur setiap kali mendapatkan nikmat. Rasa syukur membuat kita fokus pada nikmat yang ada. Hasilnya tidak akan risau pada nikmat orang lain yang lebih besar. Hati kita tetap tenang mendengar orang lain dilebihkan nikmat dari pada kita. Bahkan terkadang ikut senang jika melihat orang bahagia karena mendapatkan nikmat.

Dengan bersyukur pula Allah akan menambahkan nikmat kepada kita. Karena Allah senang melihat nikmat yang Allah berikan itu di syukuri.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim [13]: 7)

Semoga dua tips diatas setidaknya mampu menghilangkan sedikit demi sedikit penyakit hati yang menjangkiti orang-orang disekitar kita. Teruslah kita fokus pada tujuan kita untuk apa diciptakan. Sehingga kita tidak mudah terlena terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki manusia yang terkadang membuat kita iri kepada mereka. Jadikan ancaman yang Rasul kabarkan adalah sebagai tameng jika suatu saat nanti muncul rasa senang melihat orang lain susah, dan gelisah saat orang lain senang.

 Sumber Gambar: www.daruttauhid.org

 

 

  • view 249