Tips Agar Tak Menunda Amal

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Motivasi
dipublikasikan 27 Januari 2018
Tips Agar Tak Menunda Amal

 “Tidak ada penyesalan bagiku yang melebihi penyesalanku atas suatu hari yang mataharinya telah terbenam, umurku telah berkurang namun amalanku tidak bertambah.”
-Ibnu Mas’ud-


Menunda adalah menangguhkan suatu pekerjaan yang seharusnya dilakukan diawal waktu, dengan jaminan akan mengerjakan di waktu yang lain. Sikap ini menjadi salah satu musuh bagi yang ingin segera menuntaskan sebuah perencanaan.

Rencana besar hanya khalayan belaka jika terhalang dengan tempok yang bernama penundaan. Apalagi menunda ibadah. Sikap ini bisa menyeret kita pada perilaku stagnan. Akibatnya tak ada perkembangan apapun dalam ibadah. Padahal Islam menganjurkan kita agar hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Dengan menunda, banyak amalan yang lewat begitu saja karena berfikir akan ada waktu lain untuk mengerjakannya.

“Ah, itu bisa dikerjakan lain kali”

“Mending besok aja, kan ada waktu longgar.”

Padahal waktu terus bergerak melindas banyak kesempatan. Mungkin diantara kita bertekad mewakafkan sebagian harta. Tapi begitu ditunda, kesempatan itu berlalu dan harta habis.

Betapa banyak yang tahun kemarin menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan dan berharap akan meningkatkan ibadah puasa ditahun setelahnya. Namun sebelum bertemu ramadhan setelahnya ternyata jasad sudah di timbun tanah.

Itulah kenapa banyak hari ini yang menyia-nyiakan kesempatan dengan menunda beramal lantaran merasa waktu masih panjang. Sebab nikmat kesempatan adalah salah satu kenikmatan yang manusia suka tertipu dengannya. Rasulullah bersabda,

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari dari Ibnu ‘Abbas)

Ada pepatah, matahari pagi tidak akan terbit dua kali untuk menyapa manusia di hari yang sama. Demikian juga dengan kesempatan, ia tidak akan datang dua kali dengan wajah yang sama, tetapi selalu datang dengan wajah yang berbeda.[1]

Jika hari ini kita sehat dan memutuskan untuk menunda suatu ibadah, bisa jadi sehari setelahnya saat akan mau mengerjakannya kondisi badan sudah berubah. Bisa jadi masuk angin disertai batuk-batuk.

Oleh sebab itu suatu kesehatan dan kesempatan jarang kita dapatkan. Benarlah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Jauzi, “Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya). Karena lawan waktu adalah kesibukan, dan lawan sehat adalah sakit, jika tidak mati.” [2]

Untuk mengalahkan sikap suka menunda beramal adalah dengan segera beramal tanpa tapi. Tidak perlu menunggu banyak orang mengerjakan baru kemudian ikut bangkit. Allah dan Rasul sebenarnya mengajarkan kita melalui ayat-ayat yang tersurat. Diantaranya,

“Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran [3]: 133).

Rosul bersabda, “Bersegeralah melakukan perbuatan baik, karena akan terjadi fitnah laksana sepotong malam yang gelap.” (HR. Muslim)

Beramal dengan segera berarti meniadakan seluruh pikiran yang membuat langkah kita berhenti. Tidak pernah berfikir panjang dalam setiap ada kesempatan baik. Selama itu baik, maka sayang untuk dibiarkan begitu lama. Adalah Abu Bakar Asy-Syiddiq dikenal oleh sahabat lainnya selalu bersegera dalam beramal. Bahkan sekelas Umar bin Khattab pun tidak pernah bisa mendahuluinya. Padahal Umar mengira dia mampu mengalahkan Abu Bakar dalam beramal shaleh.

Pernah setelah shubuh, Rasulullah menghadapkan wajahnya kepada para sahabat.

Lantas beliau bertanya, “Siapa diantara kalian yang puasa hari ini?”

Umar menjawab, “Ya Rasulullah, aku tidak berniat puasa semalam, maka aku berbuka hari ini.”

Kemudian Abu Bakar berkata, “Alhamdulillah saya semalam berniat puasa dan saya kini sedang puasa”.

Rasulullah bertanya lagi, “Lalu adakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit?”

Umar menjawab, “Kita belum memasuki siang, bagaimana kita bisa mengunjungi orang yang sakit?”

Abu bakar berkata, “Aku mendengar bahwa saudaraku Abdur Rahman bin Auf sakit, maka sembari berangkat, aku melewati rumahnya sekalian aku menjenguknya”.

Rasulullah kembali bertanya, “Lalu siapakah di antara kalian yang memberi makan orang miskin pagi ini?”

Umar berkata, “Kami shalat Ya Rasulullah, dan matahari belum juga terbit.”

Abu Bakar berkata, “Saat memasuki masjid kudapati seseorang meminta-minta. Aku dapatkan sepotong roti dari Abdur  Rahman. Lalu aku ambil roti itu dan aku berikan kepada orang yang selalu meminta-minta tadi.”

Lantas Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar, “Kabar gembira bagimu dengan syurga”

Kemudian Rasulullah mengatakan satu kata yang membuat Umar ridha. Dan Umar mengatakan bahwa setiap kali dia menginginkan sebuah kebaikan, dia selalui terkalahkan oleh Abu Bakar. [3]

Bagi Abu Bakar, sekecil apapun peluang tidak pernah dilewatkan. Penglihatan dan pendengarannya tajam sekali dalam melihat keadaan. Sehingga satu hari saja ia sudah dapat memanen banyak pahala. Kebaikan yang ada baginya terlalu berharga untuk disia-siakan.

Untuk itu bagi kita yang masih suka menunda beramal, sudah saatnya kita buang kebiasaan yang mampu menggilas berbagai kebaikan tersebut. Banyak keuntungan yang akan kita dapat bila kita selalu bersegera dalam berbuat. Ada beberapa hal yang harus kita ketahui agar hati kita mudah tergerak untuk bersegera beramal.

Pertama: Motivasi Diri

Dengan adanya motivasi, kita akan terpacu supaya tidak menunda barang sebentar saat ada peluang amal sholeh. Motivasi bisa didapat dengan menghadirkan apa saja balasan suatu ibadah, baik dalam Al-Qur’an maupun hadist. Misal jika kita menolong orang lain, maka Allah akan menolong kita. Bila kita membaca Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menolong kita di hari kiamat. Menghadirkan balasan itu baik dengan menghafal maupun menuliskannya akan memotivasi kita agar tidak lagi menundanya.

Kedua: Renungkan, Bahwa Kesempatan Hanya Sekali

Kesempatan emas tak datang dua kali. Bisa jadi kita tunda suatu pekerjaan hari ini, esoknya bakal ada pekerjaan lain yang membuat kita sibuk, sehingga pekerjaan sebelumnya menjadi tertunda.

Maka sadari bahwa kesempatan kita hanya hari ini saja. Esok belum tentu ada untuk kita. Bahkan semenit setelahnya bisa jadi punya orang lain, bukan milik kita.

Lihatlah betapa Ukasyah bin Mishan yang peka dalam mengambil suatu kesempatan. Saat Nabi menyebutkan golongan manusia yang masuk syurga tanpa hisab, Ukasyah berdiri dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah, agar saya termasuk golongan mereka!”

Nabi menjawab, ‘Engkau termasuk mereka”.

Lalu berdirilah seseorang yang lain dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah, agar saya termasuk golongan mereka!”

Lantas Nabi menjawab, “Ukasyah telah mendahuluimu'” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Sahabat lainnya tidak dapat permohonan itu karena tidak lebih cepat dari pada Ukasyah. Seolah Nabi mengajarkan kita untuk peka dalam segala peluang. Karena kesempatan hanya datang sekali. Jangan sampai kita membiarkan kesempatan yang baik itu terbuang sia-sia. Tentu akan ada orang lain yang mengambil peran itu jika kita telat dalam bertindak.

Ketiga: Umur Sedikit Sedangkan Kewajiban Banyak

“Alwaajibatu Aktsaru minal Auqoot.” Kata Hasan Al-Banna. Artinya kewajiban lebih banyak dari pada waktu yang ada.

Jika mau kita hitung, umur kita dengan kewajiban yang ada tentu tidak berimbang. Lebih banyak kewajiban dari pada umur kita. Itupun kita tidak tahu berapa lama kita akan hidup. Saat kita menunda salah satu kewajiban, itu artinya kita sedang menumpuk kewajiban untuk diselesaikan. Sedangkan semakin lama kita hidup, kesempatan beramal akan semakin sedikit. Jika terus melakukan penundaan, maka akan banyak amal kebaikan yang tidak sempat kita kerjakan.

Jadi renungkanlah, umur yang Allah beri tak sebanyak amal sholeh yang Allah wajibkan, sehingga tak ada kesempatan untuk berleha-leha apalagi menunda.

Mari segera beramal dan lawan perilaku suka menunda-nunda, supaya lebih banyak lagi kita membawa bekal untuk perjalanan yang panjang.  

Sumber gambar:  http://2.bp.blogspot.com

  • view 107