Gadis Rupawan yang Jadi Rebutan

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Renungan
dipublikasikan 23 November 2017
Gadis Rupawan yang Jadi Rebutan

Terdapat kisah seorang pria yang kagum dengan kecantikan dan keanggunan seorang wanita. Hatinya telah tertawan dengan pesonanya yang bak bidadari syurga. Pria itu mendatangi ayahnya dan berkata, “Wahai ayah, aku ingin menikahi seorang wanita cantik nan jelita.”

Ayahnya senang dan menjawab keinginan anaknya, “Dimana wanita itu, agar aku lamarkan untukmu?”

Setelah ayah pria itu melihat wanitanya, tiba-tiba ayahnya terkagum-kagum dengan pesonanya. Lantas berkata kepada putranya, “Aku akan menikahi wanita itu, karena ia tak cocok untukmu. Seharusnya ia untuk pria yang berpengalaman dan pintar sepertiku”.

Anaknya tidak terima, “Tidak wahai ayah, dia untukku bukan untukmu.” anak dan ayah ini pun beradu mulut hingga memutuskan agar mendatangi kantor polisi. Setelah mendengar penyebab pertengkaran itu, polisi meminta untuk mendatangkan wanita yang katanya cantik jelita.

alangkah takjubnya ketika polisi melihat wanita tersebut datang. dia berkata kepada si anak dan bapak, “Wanita itu tidak pantas untuk kalian, dia sesuai untuk orang yang berkedudukan tinggi sepertiku.”

Bertengkarlah tiga orang itu dan saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Berita pertengkaran terdengar sampai ke menteri. Menteripun mencoba menengahi dengan mendatangkan sang wanita itu.

Ketika melihatnya, terpesonalah sang menteri kepada wanita tersebut. Ia berkata, “Dia tidak cocok untuk kalian yang hanya rakyat, ia hanya cocok untuk menteri-menteri sepertiku saja. Pertengkaran pecah seperti sebelumnya. kini jumlahnya makin banyak. Akhirnya pemimpin negeri itu turun tangan mengatasi masalah rakyatnya dengan cara yang sama. Mendatangi wanita itu. Saat melihatnya pemimpin negera langsung jatuh hati dan ingin melamarnya pula. Pertengkaran terjadi lagi demi memperebutkkan si wanita.

Akhirnya wanita itu memberi solusi untuk mengakhiri pertengkaran mereka. Ia berkata, “Kejarlah aku, jika ada yang mampu memegangku, berarti ia milikku dan punya hak menikah denganku. “

Mereka setuju.

Semuanya mengejar wanita itu, saling sikut, tak ada yang mau mengalah. Kemudian tiba-tiba mereka semua terpeleset dan masuk pada sebuah lubang yang dalam. Wanita yang dikejar tadi tidak terpeleset dan berkata dari atas lubang, “Tahukah kalian siapa aku sebenarnya?” Aku adalah dunia yang semua manusia mengejarku sampai lupa segalanya. Bahkan sampai meninggalkan agama demi mendapatkanku. Mereka tidak akan puas mengejarku sampai maut datang dan masuk ke lubang kubur”.

“Dan perlu kalian tahu,”lanjut si wanita “Kalian tidak akan pernah mendapatkanku meski terus berusaha”

Demikianlah hakikat dari dunia. Semaksimal apapun kita kejar ia seakan terus menjauh. Ibarat orang yang mengejar bayangannya sendiri. Dikejar sekuat tenaga tidak akan bisa menangkapnya. Malah saat tak dikejar dan berjalan menjauhinya, bayangan itu justru mengikuti.

Memang secara kasat mata dan hitung-hitungan manusia, jika bekerja siang malam maka pemasukan akan tambah hartapun akan melimpah. Tapi apakah setelah mendapatkannya nafsu akan puas? Tidak. Meskipun kita punya emas satu pulau pasti kita ingin emas lebih banyak lagi.

Rosulullah telah menyebutkan perihal ini sejak berabad-abad yang lalu,

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Jujur saja, susah kita menganggap perhiasan dunia hari ini tidak cantik, indah dan mempesona. Jika diberi eletronik keluaran terbaru satu saja pasti pada berebut walaupun terkadang harus memenuhi berbagai syarat yang merepotkan. Ditempat lain ada pula rela mengantri panjang dan berhari-hari demi mendaftar ke salah satu ajang agar di kenal dan bisa mudah mengumpulkan uang.

Padahal tak sedikit saat seseorang sudah mendapatkan apa yang diinginkan dari dunia, yang terjadi adalah kehampaan hati. Tidak ada kebahagiaan didalamnya meski secara fisik terlihat senang. Seperti salah seorang miliarder yang akhirnya melakukan bunuh diri. Alasannya sangat sepele. Semua sudah tak ada yang tak ia dapatkan. Apa yang di inginkan selama ini telah tersedia. Akhirnya ia pun menghabisi nyawanya.

Sebab lahir dari persepsi bahwa kebahagiaan itu bersumber dari harta dan kedudukan, maka setelah mendapatkannya seakan sudah tak ada lagi kebahagiaan yang dicapai. Menganggap ia telah berada di puncak kesenangan, padahal sebenarnya masuk pada jurang kebodohan dalam memandang kebahagiaan.

Pernah ada salah seorang yang sholeh bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat seorang pemburu sedang memburu rusa. Ketika hampir dapat, muncul singa besar menerkam dan membunuh pemburu itu. Rusa berhenti dan melihat pemburu yang terbunuh. Kemudian ada pemburu lainnya mengejar rusa itu. Saat hampir mendapatkannya, ternyata singa lebih cepat larinya, menerkam pemburu itu dari belakang. Muncul pemburu ketiga. Kejadiannya sama sebagaimana sebelumnya.

Lelaki yang bermimpi itu menyaksikan hingga ada seratus orang mengalami hal yang sama.

Ia pun berkata, “Kejadiannya sungguh menakjubkan”.

“Apanya yang menakjubkan?

“Atau tahukah kau siapa aku dan siapa sebenarnya rusa itu?” Tanya sang singa.

Lelaki tersebut menjawab, “Aku tidak tahu.

“Aku adalah malaikat maut, kata Singa, “sedang si rusa” Katanya lagi, “dia adalah dunia, dan para korban itu adalah orang-orang yang hendak mengejarnya. Aku terus membunuh satu demi satu sampai orang terakhir dari mereka.

Itulah dunia.  Setinggi apapun yang kita impikan dan kita kejar dari rencana dunia, bisa jadi terhenti karena kematian. Umur kita terlalu jauh untuk menikmatinya, sedangkan takdir kematian terlalu dekat untuk menyabut nyawa kita. Terkadang seseorang membangun rumah bertahun-tahun dengan niatan nanti bisa menikmatinya. Tapi ternyata yang menempatinya bukan dirinya, tapi ahli warisnya, karena maut lebih cepat menjemputnya.

Mereka Yang Memilih Tak Mengejarnya

Mungkin kita akan berfikir dengan orang yang sudah tidak mengejar dunia, “Bagaimana bisa makan kalau dunia saja tidak di kejar.”

Maka ada yang perlu kita luruskan dari hal ini. Patut kita ketahui, orang yang meninggalkan dunia dan memutuskan saat itu juga tak ingin mengejarnya, bukan berarti tidak bekerja, tak menikah, tak makan dan hanya berada di masjid untuk beribadah saja. Itu merupakan anggapan yang keliru. Sebab banyak orang sholeh terdahulu, bahkan para Nabi dan sahabat-sahabatnya tetap bekerja dan menikah.

Tapi dunia tak menjadi ambisi di kehidupannya. Ia hanyalah perantara saja dalam mengejar akherat.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).

Perhatikan bagaimana sahabat Ali bin Abi Thalib dalam menghadapi dunia. Beliau berkata, “Aku mentalakmu, aku mentalakmu, aku mentalakmu”.

Ali telah menceraikan dunia sepenuhnya dan hanya berharap kepada Allah ta’ala dalam memberi makan kepada keluarga. Ia sepenuhnya yakin kepada Allah bahwa Dia tidak akan menelantarkan seseorang yang telah berharap penuh kepada Sang Maha Kaya.

Namun bukan berarti beliau berpangku tangan menunggu uluran tangan manusia. Beliau juga bekerja sebagai seorang kepala keluarga dalam menghidupi anak dan istri.

Pada suatu kesempatan, istri Umar bin Abdul Aziz yang bernama Fatimah sedang asyik memilih perhiasan yang didapatkan dari warisan orang tuanya. Ia termasuk wanita yang beruntung. Kehidupannya selalu di kelilingi hal yang menyenangkan. Ia pun memiliki adek, kakak, ayah kakek dan suami seorang raja. Ditengah keasyikannya itu, datang suami tercinta dan melihat apa yang dilakukan istrinya.

Umar berkata, “Kau pilih dia atau pilih aku?”

Sang istri yang sholehah pun langsung tahu apa maksudnya. Kalau dia memilih perhiasan, berarti akan kehilangan suami plus raja yang amanah. Tapi kalau memilih suaminya berarti harus meninggalkan perhiasan yang saat itu berada digenggamannya.

Maka Istri tercinta tersebut langsung memilih sang suami dengan meninggalkan seluruh perhiasan peninggalan bapaknya.

Begitulah apa yang diajarkan Umar bin Abdul Aziz kepada istirnya dalam menyikapi dunia. Sifat  dasar wanita suka sekali dengan perhiasan. Tapi suami sekaligus raja tersebut tidak ingin sang istri terlena dengan itu semua, meski keadaannya mudah dalam meraih perhiasan dan kenikmatan lainnya.

 

Cukup Di Genggaman Bukan Di Hati

Dinamis ternyata bukan saja sifat dari manusia. Teknologi hari ini pun bersifat dinamis dan berkembang. Dulu orang megang HP nokia Symbian sudah berasa mewah. Hari ini hanya orang-orang yang dibilang “katrok” memegang HP itu. Kenapa katrok? Karena sudah tertinggal jauh dengan kehadiran android.

Dengan teknologi ini seakan dunia mampu diakses hanya dengan sentuhan tangan.  Semua kelemahan sebelumnya telah sempurna dengan adanya teknologi terbaru tersebut. Bahkan elektronik yang tidak mau menggunakan teknologi itu pun tergusur dari pasaran.

Teknologi terus bergerak, berkembang dan tidak berhenti melakukan perubahan. Mungkin hari ini android masih tenar dan laku dipasaran, tapi bisa jadi 10 tahun kedepan atau lebih bakal ada teknologi yang menggeser sebagaimana dia sebelumnya menggeser symbian.

Maka bila kita menuruti nafsu dengan mengikuti perkembangan dunia elektronik saja, tentu tidak akan pernah puas dibuatnya. Sebab pasti terus ada yang baru dan memiliki kelebihan-kelebihan dari elektronik sebelumnya.

Itu baru elektronik, belum kendaraan, baik dari motor dan mobil. Jika dituruti semuanya, umur kita akan habis memperhatikan perkembangan-perkembangannya. Yang sangat dikhawatirkan bila kita suka memandang elektronik itu dari waktu ke waktu dan membelinya tanpa melihat kebutuhan (sekedar tren), maka bisa jadi cinta dunia sudah masuk ke hati kita. Gelisah rasanya bila barang-barang yang di elu-elukan tak kunjung dibeli. Bahkan berani menggadaikan barang lain agar barang itu bisa didapat.

Belakangan lambat laun membeli barang bukan lagi kebutuhan semata, tapi karena merknya sedang tenar. Jika nama merk mulai meredup, ganti lagi dengan elektronik lainnya. Jadi kehidupan seperti ini seakan dipermainkan oleh dunia. Sibuk mengurusi perkembangan zaman, padahal perkembangan hatinya tidak di jaga.

Bila semakin lama dibiarkan, akan membahayakan pemilik hati tersebut. Maka selayaknya kita sadar sedari awal sebelum sepenuhnya hati kita dikendalikan oleh nafsu.  Sebab nafsu berteman baik dengan syetan yang suka membisiki supaya terlena dengan perhiasan dunia.

Seharusnya kita belajar agar kecintaan dunia tak masuk hati, tapi cukup dalam genggaman saja.

Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan adalah diantara sahabat nabi yang kaya. Tapi lihatlah ketika kekayaan mereka dapatkan, tak satupun kekayaan itu membuat mereka cinta sama dunia. Meski setetes pun tidak dibiarkan masuk ke dalam hati mereka.

Hasilnya?

Utsman bin Affan membebaskan sumur rum milik Yahudi dengan membelinya agar penduduk Madinah bisa mendapatkan air. Saat itu Utsman membeli sumur seharga 12 ribu dirham.

Kemudian saat perang Tabuk, Beliau menanggung sepertiga dari biayanya. Seluruh hartanya ia sumbangkan sebanyak 900 ekor unta dan 100 ekor kuda. Tak hanya itu, beliau juga menyumbangkan uang ribuan dirham

Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar. Setelah laku hasilnya ia berikan kepada fakir miskin.

Meski harta mereka berada dalam genggaman, tapi tak ada kecintaan sedikitpun dalam hati mereka. Akibatnya mereka mudah sekali mengeluarkannya, karena dunia hanya pada genggaman. Namun banyak di antara kita yang kekayaan tidak ada ditangan, anehnya kecintaan kepada dunia sudah masuk ke dalam hati kita. Sehingga kalau sudah berbicara masalah dunia, berjam-jampun kita pasti kuat. Berbeda kalau yang dibicarakan masalah agama. Mungkin baru setengah saja jam sudah banyak yang mengantuk, sebagaimana setiap khutbah jum’at berlangsung. Naudzubillah.

Selagi belum terlalu jauh, mari sadar diri bahwa dunia yang kita kejar siang malam tidak akan pernah bisa memuaskan kita. Jangan sampai keasyikan mengejarnya tersadarkan dengan maut yang ternyata sudah menunggu dipersimpangan jalan. Jangan mau kita  terperdaya dengannya meski wajah mereka mempesona. Sebab itu hanyalah gambaran tipuan yang sebenarnya jebakan yang menyengsarakan.

 

 


 

  • view 32