Ternyata Cinta Tak Sekedar Memandang Rupa, Tapi Ini Rahasianya

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 November 2017
Ternyata Cinta Tak Sekedar Memandang Rupa, Tapi Ini Rahasianya

Saya dari dulu menganggap cinta itu berstatus setara. Maksudnya cinta akan didapat kalau misalnya orang tampan jodohnya cantik. Kaya dengan kaya. Pikiran saya seperti itu. Namun setelah saya perhatikan lagi, anggapan itu makin lama makin menyusut. Spekulasi ini mulai luntur ketika saya jalan-jalan di salah satu sosial media bernama facebook. Saya melihat ada suami istri yang nampak sedang selfie. Saya perhatikan istrinya tidak cantik-cantik amat tapi mendapat suami berparas tampan.

“Apa ada yang salah ya”. Pikir saya waktu itu.

Ah, mungkin cuma orang ini saja yang menerima pasangannya apa adanya. Kemudian dapat kabar kalau saudara laki-laki saya menikah dan dapat istri orang Karawang. Dari segi parasnya, si istri biasa saja. Dan saudara saya memiliki wajah yang menurut saya memiliki nilai tersendiri. Jadi kebelakang saya makin berfikir, kayaknya memang cinta bukan sekedar paras belaka.

Spekulasi saya dipatahkan saat seorang teman menikah dengan perempuan yang menurut saya dari segi fisik jauh bener dari kata bagus. (Maaf bukan maksud menghina). Padahal sebelumnya teman saya ini kalau ingin mencari wanita yang berparas cantik, kaya, penurut, menurut saya mudah-mudah saja.

Sebelumnya teman saya sudah banyak ditawari wanita dari perantara mbaknya yang kebetulan juga mengajar di salah satu sekolah. Banyak yang mau. Selain paras, dia juga memiliki tubuh yang bisa jadi dambaan para wanita.

Saya berkesimpulan, berarti cinta tak disatukan dengan sebatas paras belaka. Tapi juga seberapa besar menerima pasangan itu apa adanya, meskipun mendapati pasangannya gemuk atau terlalu kurus. Dan yang terpenting adalah pasangannya merasa nyaman dengan orang yang menjadi pendamping hidup. Ternyata itu kunci rahasianya.

Lebih mantap lagi kesimpulan yang saya buat, setelah saya mendengar seorang ustadz yang berpuluh-puluh tahun fokus dalam dakwah di bidang keluarga. Ust. Tri Asmoro namanya.

Saya pernah mendengar dalam isi ceramahnya yang kurang lebih dia mengatakan, banyak permalahan keluarga datang dari suami istri yang memiliki kelebihan paras dan harta.

Bahkan mungkin jika orang memandang tentu bakal iri.

“Bahagia ya pasangan itu karena cantik dan tampan”. Kurang lebihnya seperti itu komentar orang-orang.

Ternyata setelah di telusuri kedua pasangan yang memiliki kelebihan itu, tidak harmonis karena merasa tidak cocok dan tak saling menerima apa adanya. Kalau boleh saya berspekulasi, mungkin hidup mereka berdua jarang memberi waktu khusus. Jika ada masalah tidak segera diselesaikan secara dingin.  Atau bisa jadi salah satunya memiliki orang spesial yang tersembunyi, padahal sangat mungkin orang ketiga tidak begitu cantik/tampan seperti pasangannya. Hanya dari masalah keluarga yang tak diselesaikan itulah membuat kelebihan fisik pasangan seolah menjadi luntur.

Akhirnya melihat lawan jenis di luar rumah seakan menggoda, dan jika tidak ditahan sangat mungkin akan melakukan perselingkuhan. Jika itu yang terjadi maka bahtera rumah tangga tidak akan bertahan lama.

Jadi masalahnya bukan fisik belaka. Memang untuk di awal saat mencari pasangan hidup yang diprioritaskan setelah agama adalah fisik. Tapi untuk melanggengkan sebuah hubungan jangka panjang kuncinya dengan kekuatan hati, bukan rupa. Hati yang selalu nerima pasangannya, dan hati yang selalu bersabar bersama. Kalau fisik yang selalu diprioritaskan, maka lambat laun akan berubah. Tujuan ibadahlah yang menjadi akar penguat itu semua.

Ada seorang wanita yang hanya satu malam dia berubah menjadi buta hanya gara-gara salah minum obat. Dia meminum obat dengan dosis tinggi dan tubuhnya tidak kuat yang akhirnya mengalami kebutaan.

Maka mengharapkan langgengnya suatu keluarga dengan paras pasangan yang lebih adalah kesimpulan yang salah. Karena paras tidak akan lama bertahan. Tapi kebesaran hatilah yang bisa menguatkan pasangan.

Akhirnya pikiran saya terbuka, bahwa cinta yang murni tidak memandang rupa atau status sosial. Tapi cinta adalah bagaimana saling menutupi kekurangan kedua pasangan dengan terus mencintai tanpa koma.


Sumber gambar:  https://twitter.com/arabicbest/status/539377667381145600

  • view 394