Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 27 Oktober 2017   07:20 WIB
Bunga Mawar Di tepi Jurang

Pada tahun 1998 pernah ada seorang pelatih memberi sebuah tugas kepada peserta yang terdiri dari anak-anak SMA. Tugasnya adalah membuat gambar yang menjelaskan tentang siapa mereka. Jika ada yang ingin menggambar cita-cita, maka gambarlah cita-cita. Kalau ada yang hendak menggambar untuk menjelaskan sebuah keluarga, maka gambarlah keluarga.

Ketika acara dimulai, maka keluarlah jiwa imajinasi peserta yang beraneka ragam. Bereksplorasi dengan karya yang mungkin bisa disebut asal-asalan. Sebab tak sedikit dari mereka sambil bercanda ria bersama teman disampingnya.

Ditengah canda dan tawa dalam menyelesaikan tugas, nampak seorang murid perempuan menggambar dengan tenang dan terlihat cukup serius. Tak ada senda gurau sebagaimana peserta lainnya. Dengan rasa penasaran, sang pelatih menghampirinya. Ia lihat murid yang satu itu tengah membuat bunga yang indah. Ternyata sedang menggambar bunga mawar. Bunga itu dihiasi dengan ranting yang berduri dan berlatar belakang yang gelap.

“Apa maksudnya kamu menggambar bunga?”. Tanya pelatih dengan dahi mengkerut.

Siswi itu menjawab, “Mawar lebih sempurna karena ada durinya. Mawar itu sempurna justru karena punya duri. Cuma banyak orang bilang, adanya duri mengganggu keindahan mawar. Duri itu merusak pemandangan mawar. Padahal justru duri itulah yang membuat mawar dikatakan mawar. Dan duri itulah membuat mawar dikatakan sempurna.”

“Lalu apa hubungannya dengan kamu?” tanya sang Pelatih.

“Saya menggambarkan diri saya sendiri seperti mawar. Dan duri seperti aturan Allah pada setiap wanita. Banyak orang bilang, bahwa aturan Allah bagi perempuan merusak keindahan perempuan. Membuat wanita susah kerja, sulit bergaul dan susah beraktifitas. Padahal seperti duri pada mawar. Aturan itu juga membuat wanita dikatakan wanita.“

“Saya mawar berduri” Ia lanjutkan penjelasannya, “Apa yang Allah mau saya katakan, akan saya katakan. Apa yang Allah mau saya lakukan, akan saya lakukan. Apa yang Allah mau saya kenakan, akan saya kenakan. Dan apa yang Allah mau saya rasakan, maka akan saya rasakan. Saya mawar berduri dengan apa yang Allah mau ada pada diri saya.”

Peserta yang kurang lebih 200 orang, teralihkan dengan jawaban temannya itu. Semuanya tersedot dengan penjelasan cerdas oleh salah satu peserta. Karena ternyata ada diantara mereka yang serius menggambar. Karyanya pun meski nampak sederhana, tapi memiliki filosofi yang penuh dengan makna.

Sang pelatih bertanya, “Kenapa kok di background pada bunga berwarna hitam, kan bisa diberi warna hijau, merah atau warna lainnya?”

Ia menjawab, “Saya tidak mau menjadi mawar berduri di tengah taman. Jika mawar di tengah taman, gampang seseorang akan memetik saya. Mungkin setelah memetik hanya di denda 50 ribu, atau di penjara tak lebih dari sebulan. Saya tidak mau seperti itu. Saya hanya mau menjadi mawar berduri di tepi jurang. Makanya saya warnai gelap dibelakangnya.”

“Apa maksudnya?” Tanya pelatih.

“Saya mau menjadi mawar di tepi jurang, karena suatu saat saya yakin kalau kelak ada laki-laki yang memetik saya, adalah lelaki yang berani mengerahkan segenap usahanya untuk saya. Resikonya begitu besar karena berada di tepi jurang. Taruhannya bukan lagi denda atau kurungan. Tapi bisa jadi nyawa. “

Serentak seisi rungan bertepuk tangan karena terkagum-kagum dengannya, yang cerdas mengaitkan sebuah benda, lantas difilosofikan pada sesuatu dalam menjalani kehidupan.

Siswi itu bukan dari anak yang kaya dan hidup diatas rata-sata. Ia menjalani hidupnya dengan sederhana bersama keluarganya dengan ekonomi biasa-biasa saja. Dari segi fisik dan paraspun tidak ada yang istimewa. Bahkan dia memiliki penyakit jantung.

Namun terdengar beberapa tahun kemudian, dia diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Di kampus ternama, Universitas Indonesia (UI). Sekarang dia sudah memiliki anak dan telah berhasil meraih cita-citanya, yaitu menjadi dokter spesialis di salah satu rumah sakit Depok.

Dia menjadi indah, karena dia tidak pernah memburukkan gambarnya. Jika ada orang yang bertanya kepadanya, dia akan menjawab indah. Karena dia yakin, Allah akan membantu masa depannya. Kalau ada yang bertanya apa cita-citanya, dia akan katakan yang terbaik, karena dia yakin apapun keadaannya dia hari ini Allah akan bantu mengindahkan cita-citanya.

Kisah ini menjadi pelajaran untuk kita akan kekuatan keyakinan. seorang bisa menjadi besar karena tidak pernah merasa kecil. Sebab tidak ada yang lebih besar kecuali Allah yang maha besar. Kalau hari ini kita merasa miskin, toh ada Allah Yang Maha Kaya. Jadi kenapa kita harus minder dengan kemiskinan kita. Jika kita merasa khawatir dan takut, toh Allah lebih dekat dari pada urat nadi kita. Jadi kenapa kita takut, minder dan khawatir, hanya karena apa yang kita hadapi sekarang.

Yakinlah, seberapapun ujian yang datang, semua akan meng-indahkan kehidupan kita. Siapa tahu semua ujian yang menimpa kita, berubah menjadi sekumpulan puzzle yang sedang Allah susun untuk mewujudkan cita-cita kita.


Sumber gambar: https://fhetyirmaa.wordpress.com

Karya : Rohmat Saputra