Kau, Yang Menunggu Dipenantian Hidupku

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Lainnya
dipublikasikan 03 Agustus 2017
Kau, Yang Menunggu Dipenantian Hidupku

Sudah berapa lama aku mencari seseorang yang dapat menemani hidup dalam sendiri. Dari medsos, kenalan istri teman, teman sesama komunitas dan sampai dijodohkan orang tua. Dibandingkan teman seumuran, aku termasuk orang yang layak disebut jones, jomblo ngenes. Ah, sebutan yang bagiku seperti menyilet kulit sendiri. Pedih rasanya.

Tapi itulah kenyataanku.

Namun tanpa sadar, kau ternyata telah menanti lama akan kehadiranku. Apa mungkin ini adalah jawaban do’amu tiap malam, memohon dihadirkan penyempurna hidupmu?

Aku sempat ragu, saat ada tawaran teman yang menyodorkan biodatamu secara lengkap. Mungkinkah ini yang akan menjadi jodohku?

Kuyakinkan diri dengan Istikharah, berulang kali hingga pilihan itu mantap dan tak ngambang. Akhirnya kumenangkan pilihan ini untuk maju menerimamu. Tapi masih terselip rasa ragu. Apa engkau mau menerimaku apa adanya?

“Bismillah”

Katamu saat itu disamping ayahmu.

Lengkap sudah keyakinan ini. Berarti engkau siap menerimaku, dan aku pun akan menerimamu apa adanya.

Engkau yang siap berada disisiku, bukan hanya menghilangkan statusku sebagai jomblo, single, dan entahlah, apalagi julukan lainnya itu.

Tapi dengan adanya engkau, aku mampu menyempurnakan segala amal yang tak bisa disempurnakan kecuali dilakukan berdua. Bahkan bercandapun terhitung pahala.

Mungkin engkau tak banyak menuntutku tentang kesempurnaan fisik dan harta. Tapi engkau adalah wanita yang layak dimuliakan dengan hak-hakmu.

Dan kemuliaanmupun semakin besar saat ketaatan kepadaku meningkat.

Aku siapkan segala hal ilmu tentang keluarga. Dari beli buku, kumpulan artikel, dan sampai membuat Fanspage khusus keluarga. Kukumpulkan semua ilmu dari berbagai sumber situs islami, hanya untuk persiapan bagaimana membangun keluarga bersamamu. Karena menurutku, segala hal butuh ilmu. Bukan setelah bulan madu, baru sibuk mencari ilmu ini itu.Bahtera semakin jauh dari pelabuhan, maka gelombang semakin besar.
Begitu seingatku kata petugas di KUA, ditengah penataran pernikahan kita saat itu. Namun jauh sebelumnya, aku sudah tahu, bahwa nikah ada manis pahitnya. Malah ada yang bilang, manisnya hanya 5%, lebihnya manis bangeeeeeet.  Maaf, mungkin agak lebay.

Kusadari dan kuyakini, perjalanan hidup bersama pasti terjadi perselisihan yang menimbulkan masalah. Tapi akupun yakin, justru permasalahan itu menjadi bumbu yang membuat semakin nikmat hidup bersamamu. Sebuah anugerah yang tak dapat dirasa kecuali harus ada masalah yang menyertai.

Selama hidup, tak mudah memberikan rasa cinta kepada wanita yang tak halal bagiku. Cinta ini kusimpan baik-baik pada tempatnya. Dan akan kubuka khusus untukmu. Sebuah persembahan sebagai hadiah karena telah bersedia masuk dalam kehidupanku.

Yang perlu diingat wahai calonku. Proses taaruf bukan saja pada awal sebelum melangkah kepelaminan. Tapi juga setiap detik dalam menjalani peran ditengah keluarga nanti. Terus saling mengenal kekurangan dan kelebihan masing-masing.Tak ingin aku bahagia bersama hanya diawal saja. Dengan kehadiranmu, semoga rasa bahagia ini langgeng sampai dipenghujung waktu. Bersama menikmati hidup dalam ikatan sunnah, demi menggali keberkahan pada setiap langkah.

Aku sudah kehabisan kata-kata untuk engkau yang telah lama menunggu dipenantian hidupku. Tapi, mungkin lirik dari Maher Zain bisa menjadi penutup indah untukmu.


aku bersyukur kau di sini kasih

di kalbuku mengiringi

dan padamu ingin ku sampaikan

kau cahaya hati

dulu kupalingkan diri dari cinta

hingga kau hadir membasuh segalanya

oh inilah janjiku padamu


sepanjang hidup bersamamu

kesetiaanku tulus untukmu

hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku

sepanjang hidup seiring waktu

aku bersyukur atas hadirmu

kini dan selamanya aku milikmu


yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim

semoga Allah berkahi kita

kekasih penguat jiwaku


berdoa kau dan aku di Jannah

ku temukan kekuatanku di sisimu

kau hadir sempurnakan seluruh hidupku

oh inilah janjiku kepadamu


Sumber Gambar: Google


























  • view 28