Cerita Dari Tukang Ketoprak

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Agustus 2017
Cerita Dari Tukang Ketoprak

Seperti biasa saya mulai kerja jam 8 pagi. Kebetulan hari itu belum sarapan. Karena sudah tidak kuat nahan rasa lapar, akhirnya saya keluar kantor sebentar cari sesuatu, biar bisa akur sama si perut. Rencana mau cari nasi kuning langganan. Karena terlalu siang, warung nasi kuningnya sudah tutup.

Saya cari alternatif sarapan lainnya seperti nasi uduk. Ternyata sama saja nasibnya. Sudah pada tutup. Akhirnya mau tidak mau ambil alternatif terakhir, sarapan ketoprak. Sebab saya lihat dari tadi ketoprak sudah nongkrong di pinggir jalan. Mangkalnya dekat dengan sekolah tsanawiyah. Saya langsung memakirkan dipinggir jalan dekat gerobaknya.

Terlihat banyak anak sekolah berbaju coklat bersliweran di jalan-jalan. Sepertinya sedang istirahat. Saat tengah menunggu pesanan, lewat disamping saya beberapa siswi. Kemudian lewat satu lagi sambil mengucapkan kata kumpulan beberapa hewan yang tak sopan kalau menyebutnya sebagai bahan luapan kekesalan. Saat itu dia tertinggal dari teman depannya. Saya menilai, ucapan satu kalimat yang penuh kata hewan itu buat saya jadi ngelus dada.

Tukang Ketoprak yang masih sibuk ngebungkusin ketoprak sampai geleng-geleng. Tertawa kecut sambil ngeliat siswi yang berucap kata hewan tersebut.
“Anak-anak sekarang emang makin ancur aja” ujarnya. Sayapun geleng-geleng sambil senyum pahit.
Sangat miris dengar kalimat hewan itu. Padahal sekolah Islam tapi bisa dengan mudahnya mengucapkan kata kotor seperti itu.

“Kayak gitu mungkin ngikutin orang tuanya ya mas”. Kata tukang ketoprak.
“ Bisa jadi pak. Apa yang diucapin orang tua akhirnya nular ke anaknya.” Kata saya.

Orang tua adalah madrasah awal dalam mendidik anak. Mereka merupakan pengaruh besar yang siap mewarisi sikap ke anaknya nanti. Bisa mengubah menjadi baik atau buruk diawali dari orang tua. Kalau orang tua tidak ada, berarti orang-orang yang didekat mereka. Bisa teman, saudara dan lainnya. Pengaruh baik buruk ke seorang anak juga bisa dari lingkungan dan kepada siapa anak itu berteman.

“ Mas tau gak” kata tukang ketoprak seolah memancing penasaran.
“Dulu sekolah ini punya kasus. Ada satu perempuan diperkosa sama 7 laki-laki. Gila gak?” Ujar Tukang ketoprak.
Saya sempat kaget dengar kabar seperti itu. Sebab biasanya saya dengar kasus semacam itu dari berita-berita online dan cetak saja.

Yang makin terdengar aneh, kata tukang ketoprak, 7 anak yang memperkosa itu sama pihak sekolah cuma di skors saja. skorsnya habis, berarti para pelaku kasus itu kembali masuk sekolah. Menurut saya lebih baik dikeluarkan. Karena kasus semacam itu sudah merobek nama baik sekolah dan yayasan. Dan juga kalau hanya di skors tidak akan membuat mereka jera. Jika tidak dikeluarkan, kemungkinan bakal ada korban selanjutnya.

“Terus orang tua siswinya gimana pak, bawa kasus ke polisi gak?” Kata saya coba menelisik.
“Gak mas. Gak diperkarakan ke polisi. Cuma diselesain lewat jalur damai aja”.
Saya husnudzan saja sama ortu dari siswi itu. Mungkin ortunya pemaaf sekali. Jadi dimaafkan semua siswa yang sudah menghancurkan masa depan anaknya. Tapi sebenarnya sikap seperti itu kurang pas menghadapi kenakalan anak sekarang. Justru diberi pelajaran saja agar nantinya tidak mengulangi ke calon korban lainnya. Minimal membuat mereka kapok.
Tapi biarlah. Semoga Allah beri pahala besar ke ortu korban dan terkhusus putrinya, karena ditimpa musibah seperti itu.

Pagi itu saya benar-benar gak nyangka, nyari nasi kuning untuk sarapan malah dapat cerita yang buat hati ini makin miris dengar kelakuan anak sekarang. Tingkatan sekolah mereka padahal masih menengah. Tapi kok kasusnya bisa sebesar itu?
Jawabannya mungkin karena gadget dan tidak ada pantuan dari orang tua. Anak-anak yang sudah punya gadget dan kurang dipantau, maka mereka menggunakannya dengan bebas. Akhirnya konten-konten yang seharusnya dlarang untuk di akses, menjadi konsumsi mereka.
Puberitas pun menjadi cepat sekali muncul. Ya, pergaulan dan perkembangan teknologi saat ini mempercepat puber anak-anak.

Saya jadi teringat video yang sudah di share cukup banyak di FB. Video amatiran itu merekam seorang bocah yang berada disamping ibunya. Si Ibu sibuk sendiri memperhatikan handphonenya, eh anaknya asyik-asyikan melihat film dewasa. Padahal melihat dari postur tubuhnya, anak itu masih TK. Tapi bisa-bisanya si ortu sampai lalai, membiarkan anaknya menonton film yang merusak. Itu yang dekat saja tidak terpantau, apalagi yang jauh dan sudah dewasa. Entah bagaimana bisa selamat dari kejahatan teknologi hari ini.

Itulah sekelumit yang bisa jadi mewakili kelakukan anak-anak jaman sekarang. Makanya kenapa orang tua harus mendidik anaknya tidak hanya agar seperti mereka. Tapi harus lebih baik lagi dari orang tuanya. Sebab jaman saat mereka besar, kondisinya lebih keras lagi. Tidak seperti jaman saat mereka masih anak-anak. Apalagi jaman ortunya dulu. Sangat jauh.

Sumber gambar: Google

 

  • view 41