Aku, Kau Dan Maut

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Juli 2017
Aku, Kau Dan Maut

Bahas tentang cinta memang tidak akan pernah habisnya. Sebab cinta adalah anugerah dari Allah untuk manusia. Dengan cinta perdamaian bisa tersebar. Pun dengan cinta mampu terjadi pertikaian yang tak pernah ada habisnya.

Namun hari ini bila membahas cinta, sering kali dikonotasikan kepada muda-mudi yang baru berpadu rasa. Saling suka diantara keduanya. Memang itu bisa disebut cinta. Tapi terlalu sempit bila cinta hanya antara yang muda saja.

Sebab cinta bisa ke siapa saja. Seperti cinta ibu ke anaknya, cinta anak ke ayahnya, cinta kakek ke cucunya dan masih banyak lagi. Justru cinta selain muda-mudi terkadang lebih tulus dan langgeng. Bisa bertahan sangat lama dan sangat mungkin abadi.

Justru ini yang tidak kita sadari. Sering bahas cinta di sana sini, tapi pembahasan ini yang sering terabaikan. Sebuah takdir yang tak jauh beda dengan takdir cinta. Aku, kau, kita dan semuanya bakal “dipersunting” dengan kematian. Ngeri? siapa yang tidak ngeri.

Semua manusia takut dengan takdir ini. Sebab saat kematian datang dan nyawa perlahan dicabut, kata Rosul seperti di sayat 70 kali dengan pedang. Kita tersayat silet saja rasanya pedih tak karuan. Apalagi dengan pedang, dan 70 kali lagi. Entah bagaimana rasanya.

Kita dapat leluasa memilih pujaan hati, saling berbagi rasa dan merajut masa depan bersama. Tapi tidak dengan maut. Suka atau tidak, ia akan dipaksakan menjadi “pengantin” bagi kita. malaikat maut melamar kita tanpa pemberitahuan. Secara otomatis dunia akan kita ceraikan.

 

Berat atau tidaknya tergantung seberapa tebal kantong amal sholeh yang kita punya.

Bagi orang yang memiliki Khosyah (rasa takut kepada Allah) dan raja’ (pengharapan kepada Allah), setelah dicabut nyawanya tidak akan terasa sedih, menyesal dan berbagai rasa ketidak nyamanan dalam hati. Sebab Khosyah dan Raja’ telah menuntun ke jalan Ridho-Nya. Pernikahan dengan kematian hanya berat di awal. selanjutnya bakal menjadi pengantin yang tidak pernah putus bahagia. Bahagia menerima balasan, dan bahagia karena siap bertemu dengan-Nya.

 
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Begitu nikmatnya berada dalam ketaatan, hingga akan ada orang yang berjuang untuk mati dijalan-Nya. Maut bukan lagi menjadi momok, tapi seakan bidadari yang siap dipersunting oleh pelamar.

Mari perhatikan bagaimana para sahabat yang cinta terhadap kematian seperti cintanya sang pemuda dengan seorang gadis.

“Aku akan mendatangkan pasukan”, ujar Saad bin Abi Waqqash ketika menemui raja Persia, “yang sangat mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan”.
Alangkah nikmatnya hati yang terikat dengan iman. Kematian bukan hanya sebagai perantara menuju alam lain. Tapi juga sebuah yang layak dicintai, sebagaimana orang kafir mencintai kehidupan.

Bahkan Abu Thalhah, menyiapkan dada untuk melindungi Nabi dari sasaran panah dari musuh pada perang Uhud. Kematian dimatanya begitu kecil. Selama dalam ketaatan, kematian justru akan diburu, layaknya pemburu hewan yang memburu buruannya.

“Kami akan mengorbankan diri kami, agar engkau tak terkorban”. Ujar Abu Thalhah kepada Rosul disaat perang Uhud berkecamuk.

Namun yang menjadi renungan bagi kita, apakah justru kita takut mati, sebab terlalu lama menikmati kehidupan? menghindari segala kesempatan dibawah naungan rahmat-Nya?

Bila iya, itu berarti virus Al-Wahn telah menguasai hati kita. Cinta dunia dan takut mati.

Semoga kita diberi petunjuk agar selalu Istiqomah dalam melangkah pada setiap ketaatan. 


Sumber Gambar: Google

  • view 66