Yakin, Hidup Kita Penuh Pahala?

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Renungan
dipublikasikan 24 Juli 2017
Yakin, Hidup Kita Penuh Pahala?

Indah rasanya saat hidup kita dipenuhi ketaatan. Selalu dihiasi kesibukan dalam mencari ridho-Nya. Tak ada waktu sedikitpun terbetik melakukan maksiat. Sampai mengira hidup kita dipenuhi pahala. Dan syurgapun sepertinya selangkah lagi kita dapatkan. Tapi tunggu dulu. Apakah itu hanya perasaan kita saja? Merasa hidup kita penuh pahala hanya karena banyak amal shalih yang kita lakukan.

Memang Allah mengganjar sebuah amal shalih dengan banyak pahala. Bahkan Al-Qur’an dan hadist sering menyebutkan keutamaan dan balasan yang berlimpah ruah bagi yang melakukan ketaatan.
Tapi tahukah kita, justru perasaan yang keseharian kita dipenuhi pahala adalah hal yang membuat kita celaka?
Ya, benar.

Sebab bila itu yang kita rasakan, justru akan timbul sikap bahwa amalan selalu diterima. Padahal dijalan menuju ridho-Nya banyak berserakan jebakan-jebakan yang bisa menguras pahala kita.
Amalan sholeh apa saja bisa berpotensi terkena jebakan yang selalu dipasang syetan. Amalan besar sekalipun.
 
Pernah suatu ketika Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ditanya mengenai hadist yang pernah disampaikan Rosul kepadanya. Lantas beliau menyampaikan hadist tersebut. Hadist itu menyebutkan bahwa pada hari kiamat didatangkan 3 manusia yang membawa amalan-amalan terbaiknya. Kitapun bakal menyangka kalau mereka pantas mendapat balasan yang terbaik, karena amalan mereka bukan sembarang amalan. Jihad, sedekah dan membaca Al-Qur’an.

Saat Mereka menghadap Allah, merasa bakal setelahnya akan mendapat kebahagiaan yang besar. Akan diberi nikmat syurga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya. Bidadari yang siap kapan saja melayani penghuninya.
 
Setelah Allah mengungkapkan keutamaan dari tiga amalan besar itu, Allah berkata yang membuat mereka terhenyak.
“Kamu dusta!!!!”
“Kamu berjihad agar dianggap pahlawan”
“Kamu sedekah agar dibilang dermawan”
“Kamu mengaji Al-Qur’an hanya ingin dilihat manusia”

Apa sebabnya Allah berkata itu? Tidak lain karena mereka saat di dunia tidak ikhlas. Mereka sudah masuk pada jebakan syetan. Merasa amalan diterima padahal Allah tolak mentah-mentah. Merasa amalan mereka diberi ganjaran syurga, tapi justru oleh Allah dibalas neraka.
Kemudian 3 orang ini diseret dengan muka tertelungkup dan dilemparkan secara hina ke neraka.
Orang yang selalu beramal besar saja bisa berpotensi masuk neraka, apalagi kita, yang amalan besar saja jarang, bahkan mungkin tidak pernah kita lakukan.
 
Alangkah baiknya jika memang kita merasa banyak melakukan amal shalih, seperti shalat tepat waktu, mengaji selalu on time, sedekah tidak pernah terlambat, puasa sunnah rutin,  dan bajibun amal shalih lainnya, jangan sampai yang sedari awal sudah ikhlas akhirnya terpeleset ditengah jalan menjadi niatan agar dilihat manusia. Bila dibiarkan maka lambat laun muncullah jumawa. Sebab amal shalih itu tidak menjadi satu-satunya syarat masuk syurga. Syarat  mendapat tiket syurga adalah rahmat yang ada pada-Nya.
Bahkan setingkat Rosulpun, masuk syurga karena rahmat-Nya.

“Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Kata Rosul.
“Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)
Jika amalan harian saja sudah bisa membuat kita besar diri, pantaskah mendapat rahmat Allah sebagai tiket masuk syurga?
 
Sebaiknya setiap kita selepas melakukan amal kebaikan apa saja ditutup dengan sikap tawadhu’. Supaya terhindar dari racun yang kapan saja bisa menginveksi hati.  Apa itu tawadhu? Tawadhu adalah rendah hati. Banyaknya amal shalih justru merasa orang lain lebih baik dari pada diri sendiri.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

Begitu juga dalam hal dunia. Meski seumpama kita memiliki kelebihan, baik dari fisik dan harta, tapi tidak pernah membuat kita besar hati, apalagi sombong.
 
Mari perhatikan, bagaimana Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang seorang pemimpin negara, seorang utusan Rosul sekaligus seorang suami bagi istrinya saat berada dalam rumah. Beliau tanpa malu dan sungkan membantu pekerjaan istrinya. Beliau mengesol sandal dan menjahit baju sendiri. Ini sebagaimana apa yang dituturkan langsung oleh Ibunda kita ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha,
“Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
 
Tawadhu berbeda dengan rendah diri. Orang rendah diri adalah tidak mampu menilai diri sendiri dan orang lain. Sehingga ketika didapati bahwa dirinya memiliki kekurangan, maka orang lain pantas melakukan apa saja dari pada dirinya. Orang rendah diri cenderung pesimis. Tidak percaya diri melakukan banyak hal. Padahal setiap manusia diberi kelebihan masing-masing..
 
Sikap tawadhu menuntun kita selamat dari jurang-jurang penyakit hati. Mengingatkan kita bahwa ada orang yang lebih baik dari pada kita. Sebanyak apapun yang kita lakukan, tidak seberapa dari pada orang lain. Sebaik apapun perbuatan kita, tidak sebaik orang lain.
 
Hasilnya kita terus sibuk mengumpulkan amal shalih tanpa merasa banyak pahala, hingga tanpa sadar kita sudah diberi rahmat-Nya.
Wallahu a’lam bisyowab

Sumber Gambar: Google

  • view 61