Gas Beracun itu"Merenggut"mu

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Renungan
dipublikasikan 06 April 2017
Gas Beracun itu

 

Belum lama ini kita dikagetkan dengan kabar-kabar yang berseliweran di Facebook dan IG, baik itu dari share, sampai berita yang disebar oleh Fanspage resmi dari para Lembaga sosial lokal dan internasional. Kabar itu begitu menyayat hati. Berita yang disertai video tragedi bom klorin tersebut, siapapun yang melihatnya bakal menjerit dalam hati dan tak tega melihatnya.

Peristiwa itu termasuk dari tragedi genosida terhadap rakyat Syiria yang sudah berapa kali saja terjadi. Berita terpercaya mengabarkan bahwa Pesawat-pesawat Rusia menjatuhkan bom yang berisi gas beracun Klorin. Gas ini begitu mematikan hingga banyak korban yang berjatuhan. Video tersebut menunjukkan bekas bom yang melubangi jalanan aspal cukup dalam. Ya, bom itulah yang merenggut banyak korban.

Tepatnya di di wilayah Khan-Sheikhun, Idlib, didapati banyak korban dari anak-anak sampai dewasa. Nampak dalam video itu korban berjatuhan di pinggir jalan dekat reruntuhan. Ada seorang bapak tergeletak tanpa baju diluar rumah, dengan kondisi nafas yang tak beraturan. Tubuhnya kejang-kejang, disertai mata yang melotot. Mulutnya terbuka lebar sambil mengeluarkan banyak busa.

Tak jauh dari situ, ada balita yang ditolong seorang relawan untuk bernafas. Matanya telah sayu. Hendak menangis tapi tertahan dengan sulitnya bernafas. Berkali-kali terlihat tenggorokannya seperti dicekik kuat.

Para relawan menggunakan masker anti gas beracun lainnya sibuk menetralisir racun dengan menyiram banyak air ke korban dan sekitarnya.

Video itu kemudian menshot korban yang tak tertolong, dari anak-anak dan orang dewasa yang sudah dijejer siap akan dikuburkan. Dengan cepatnya sekujur badan korban pucat pasi. Wajah ceria mereka telah direnggut paksa dengan cara biadab.

Ya Allah. Begitu menyedihkan melihat pemandangan dalam video itu. Tak kuat  rasanya hamba ini tertimpa sebagaimana mereka.

Terdapat video yang di share dari Muslimcare, Malaysia, bagaimana seorang dokter di Idlib berusaha penuh agar para korban gas klorin bisa bertahan hidup. Diperlihatkan pupil dari bola mata para korban berubah warna menjadi kuning. Akibatnya tak bisa merespon cahaya, dengan kata lain buta.

Disebutkan bahwa racun dari gas itu menyerang saraf begitu cepat, sehingga otot yang terhubung pada pernafasan tidak berdaya. Maka bila tidak ditolong cepat, tak sampai semenit korban itu bisa mati seketika. Naudzubullah. 

 

Tak sampai disitu saja. Bahkan rumah sakit yang menampung para korban gas klorin tak luput dari serangan Assad. Assad beserta sekutunya makin membabi buta dalam menyerang. Beberapa media telah memberitakan. Namun media mainstream bungkam. Tak ada satupun dari media itu memberitakan kekejaman Assad dan Putin.

Video yang tersebar bukan video yang didramatisir layaknya sinetron. Bukan juga video hasil rekayasa yang dibuat seperti para penipu dunia maya. Tapi video murni tragedi pembantaian yang tidak pernah terjadi dari cara yang digunakan sebelumnya. Masihkah ada yang coba menduga-duga kalau itu hoax? Mungkin selama ini hidup orang yang suka menduga itu dipenuhi hoax dan tipuan.

Itulah kejamnya Assad beserta sekutunya. Entah apa yang ada dibenak mereka saat memerintahkan pasukannya membunuh orang yang tak bersalah. Tidak berfikirkah jika seandainya keluarga mereka diperlakukan seperti itu? Hemm….Membicarakan nurani kepada mereka seperti membayangkan gajah yang masuk kelubang jarum.

Ah, kalau dipikir lagi daftar kejahatan mereka, rasanya jadi tidak kaget. Sebab kebencian mereka terhadap Islam sangat besar. Meski mereka menyerang dengan alasan melawan para pemberontak, tapi kenyataan di lapangan membongkar tabir busuk mereka. Cara apapun akan mereka tempuh untuk melibas habis orang yang tidak loyal dengan pemerintah.

Kejadian gas beracun ini hanyalah salah satu bentuk genosida yang mereka lancarkan. Meski dikecam oleh PBB lantaran menggunakan gas beracun, tapi tak ada satupun dunia yang mengutuk perbuatan mereka.

Sebetulnya sudah cukup kita menilai Bassar dan sekutunya adalah manusia keji dan tidak manusiawi. Karena daftar riwayat fakta sebelumnya penuh dengan sifat buas dan kejam. Beberapa bulan yang lalu geng Assad mengepung Halb hingga para penduduk banyak yang mati kelaparan. Semua jalur di blokade. Bantuan logistik dan obat-obatan apapun tidak dibiarkan masuk. Bau kematian telah tersebar ke sudut-sudut tempat.

Maka dari itu, bagi kita yang berada dalam negeri aman adalah saatnya untuk membantu mereka dengan semampunya. Lembaga-lembaga kemanusiaan dengan cepat tanggap siap menampung bantuan kita semua. Bila tidak bisa memberi materi, minimal luangkan waktu mustajab, melangitkan do’a untuk muslimin yang tertimpa musibah.

Tak hanya itu. Jadikan momen ini untuk mengaca diri, sudah berapa banyak nikmat yang tidak kita syukuri? Perhatikan para korban gas beracun itu. Hidup mereka sebelumnya sudah berada dalam kondisi mencekam. Kematian serasa mudah ditemukan. Suara bom bardir terjadi di sekeliling mereka. Desingan peluru seakan menjadi nyanyian yang mematikan.  Rasa aman telah Allah cabut dari negeri itu.

Bandingkan dengan kondisi kita saat ini, apa kita sudah bersyukur atas nikmat aman yang Allah berikan? Atau lupa karena tertutupi kesibukan yang menggunung? Maka dari itu, adanya musibah ini tentu banyak hikmahnya. Salah satunya agar orang-orang yang terikat dengan tali keimanan, terpanggil untuk menolong saudara semuslim. 

Wallahu A’lam

  • view 85