Seorang Sopir Yang Kritis

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Lainnya
dipublikasikan 01 April 2017
Seorang Sopir Yang Kritis

“Eh mas, kalo ngelakui kayak gitu mending turun aja sekarang” Ujar sopir kepada dua penumpang di belakang.
 
Suaranya sedikit emosional. Meski dua penumpang itu harus dihormati karena memakai jasa online, tapi bukan berarti mereka bebas ngelakuin semaunya.
 
Didapati dua penumpang laki itu berciuman. Ternyata mereka sepasang homo. Naudzhubillah.

Sang sopir patut diberi apresiasi atas keberanian menegur langsung sepasang gay itu. Sebab jarang  ada sopir yang langsung menegur keras perbuatan yang jelas-jelas maksiat.

Tak lama dari situ, mobilnya terserempet mobil truk. Body mobil bagian depan peot dan lecet. Kemudian sang sopir menyalahkan dua penumpangnya.

“Ini gara-gara mas berdua ngelakuin kayak tadi. Makanya mobil saya jadi keserempet.” Ujarnya penuh emosional.

Sopir ini paham kalau maksiat dapat berpengaruh pada kehidupan orang-orang yang ada disekitar. Bisa membahayakan siapa saja yang berada dekat pada pelaku maksiat. Itulah dampak maksiat. Balasannya kontan gak perlu nunggu lama. Siapa yang disalahkan? Ya pelakunya.

Pernah seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

Moga aja banyak sopir-sopir online  yang berani seperti sopir ini. Gak takut kehilangan penumpang dengan menegur maksiat. Karena rejeki dari Allah, bukan dari banyak penumpang. Penumpang cuma sebagai perantara saja.

Kita pun bisa tiru keberanian orang macam ini.  Tak harus menjadi ustadz atau penceramah untuk menasehati orang.  Cukup kita paham Islam dan beramal, kemudian menyampaikan apa yang tidak sesuai dari ilmu yang dipelajari.

Gambar: dari Google

  • view 88