Kuantitas Bukan Segalanya

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 05 Februari 2017
Kuantitas Bukan Segalanya

 "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.....". 

(QS. Al-Baqoroh: 249)


Dalam Islam, kuantitas bukanlah segalanya. Kwalitaslah yang menjadi ukuran. Perjuangan mempertahankan Islam menjadi bukti konkrit akan arti sebuah kwalitas. Penuh darah, luka, peluh, keringat, selalu menemani perjalanan para pejuang menyebarkan Islam hingga menyebar hampir Separuh dunia.

Bermula dari Kota yang terkenal banyak penyakit, Kota Yatsrib. Tidak sedikit yang masuk ke kota itu melainkan akan tertimpa demam tinggi. Nama Yatsrib kemudian diganti dengan nama Madinah. Terkenal hari ini dengan sebutan Madinah Al-Munawwarah.
Kalam-kalam dan titah Ilahi tidak pernah berhenti tersebar. Terkadang mengharuskan angkat senjata agar kalamnya tidak dinistakan. Meski harus berhadapan dengan gelombang besar musuh, tapi tidak pernah membuat ciut para pejuang Islam. Berikut bukti-bukti bahwa kuantitas bukanlah segalanya. Tapi kwalitaslah yang menjadi faktor utama.

Perang Badar
Perang Badar adalah perang pertama kali dalam Islam. Keadaan pasukan saat itu hanyalah berniat untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan. Jadi, alat yang digunakan tidak disiapkan untuk perang. Ala kadarnya. Persiapanpun jauh dibilang lengkap. Apakah hasilnya kalah?
Simak dulu.

Jumlah pasukan musuh perang badar 1000 personel. Pasukan Islam hanya 313 personel. Tapi peperangan dengan jumlah tak imbang itu dapat dimenangkan oleh kaum muslimin. Salah satu faktor dimenangkannya kaum muslimin dalam perang perdana ini adalah do'a Nabi setengah memaksa kepada Rabb-Nya. Mengadahkan tangan keatas hingga nampak sedikit putih ketiak beliau. Surbanpun tak terasa jatuh dari pundak beliau.


"Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini."
Pasukan Islam dengan senjata apa adanya maju dengan keberanian yang membaja mengalahkan banyak pasukan musuh. Menghancurkan segala keangkuhan ketika dulunya mereka menyiksa dan menghina muslimin sebelum hijrah.
Tidak hanya itu. Ternyata dalam pasukan Islam ada bantuan tak kasat mata. Jin? Bukan. Syetan? Apalagi.
Bantuan itu adalah tentara malaikat yang merangsek maju membasmi orang Quraisy yang telah lama menganggu dakwah Nabi. Bahkan ada salah satu sahabat yang ingin menebas leher musuh, tiba-tiba saja terpenggal sendiri. Ternyata tebasan sahabat keduluan oleh tebasan malaikat.
Perang ini terjadi di bulan 17 ramadhan 2 hijriyah.

Perang Khandaq
Pecahnya perang khandaq berawal dari pengusiran Yahudi Bani Nadhir dari kota Madinah karena mengganggu kehormatan kaum muslimin.

“Kami akan bersama kalian berperang sampai berhasil menghancurkan kaum Muslimin.” Janji Tokoh Yahudi yang telah bekerja sama dengan musyrik Quraisy untuk menghabisi Nabi Muhammad. Terkumpul dari berbagai suku sejumlah pasukan siap mengepung Madinah. Jumlahnya 10.000 personel. Jumlah sebanyak itu hampir sama dengan jumlah penduduk kota Madinah seluruhnya.

Demi menghalangi pengepungan dari pihak musuh dan dikhawatirkan terjadi kontak langsung, muncul ide brilian dari salah seorang kelahiran Persia. Salman Al-Farisi namanya. Dibuatlah parit sepanjang 5.544 meter, lebar 4.62 meter, dengan kedalaman 3.3 meter.

Pasukan ahzab, gabungan dari berbagai suku telah mengepung kota Madinah. Pasukan Islam yang menghadang pasukan musuh saat itu hanya terkumpul 3000 pasukan saja.
Ditengah pengepungan, Bani Quraidzhah yang sebelumnya telah bersepakat  melakukan koalisi pada liga Musyrik Quraisy, saat itu telah berkhianat dan membatalkan perjanjiannya. Itu merupakan hasil dari hasutan Nu’aim bin Mas’ud bin Amir Al-Asyja’i. Sahabat Rosul yang keislamannya tidak diketahui oleh para sukunya. Dia menghasut antara musyrik Quraisy dengan Bani Quraidhah.

Untuk mengetahui pergerakan musuh, Rosulullah mengutus beberapa intelijen ke tubuh pasukan musuh pada malam dingin yang menusuk. Yaitu Hudzaifah Ibu Yaman. Hudzaifah membawa kabar kepada Rosul bahwa Musyrik Quraisy bersiap-siap hendak pulang ke Makkah. Esoknya yang terjadi pasukan musuh telah diusir oleh Allah dengan datangnya angin kencang. Semua perkemahan mereka hancur dan porak poranda. Tidak ada yang terpasang kecuali pasti akan tercabut.
Peperangan dimenangkan oleh pasukan Islam. Dari pihak musuh mengalami kerugian besar. Semenjak itu mereka tidak pernah memerangi Islam. Islamlah yang akan memerangi mereka. Perang khandak terjadi pada Syawwal 5 H.

Perang Mu’tah
Perang ini terjadi pada pada bulan Jumadil ‘Ula tahun ke-18 Hijriah.
Mu’tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam. Desa ini sekarang bernama Kirk.
Penyebabnya ketika utusan Rosul yang akan dikirim ke Bushra dihadang, kemudian dibawa kehadapan raja Romawi. Dihadapan raja utusan rosul tersebut dipenggal. Utusan itu bernama Al-Harits bin Umair. Membunuh seorang utusan adalah sebuah kejahatan yang keji.

Rosul begitu murka mendapat kabar seperti itu. Akhirnya Rosul menyeru kepada para sahabat untuk bersiap-siap memerangi pasukan musuh di negeri Syam. Terkumpul 3000 Sahabat yang siap perang. Rosullah tidak ikut pada perang tersebut. Hanya mengangkat sebuah pemimpin.
Pesan Rosul kepada para pasukan, “Yang bertindak sebagai Amir (panglima perang) adalah Zaid bin Haritsah. Jika Zaid gugur, Ja’far bin Abu Thalib penggantinya. Bila Ja’far gugur, Abdullah bin Rawahah penggantinya. Jika Abdullah bin Rawahah gugur, hendaklah kaum Muslimin memilih penggantinya.”
Musuh mendengar bahwa pasukan Islam sedang dalam perjalanan menuju Mu'tah. Maka Romawi menyiapkan pasukan berjumlah 100.000 personel dibawah komando Raja Heraklius.
Ditambah dengan pasukan koalisi dari berbagai kabilah disekitar Mu’tah yang berada dibawah kekuasaan Romawi  berjumlah 100.000 pasukan. Seperti Lakham, Judzam, Qain, dan Bahra’. Jumlah total seluruhnya 200.000 pasukan musuh.

Jumlah yang sangat tidak berimbang. Dalam perang ini 3 panglima terbaik gugur. Persis sebagaimana Rosul kabarkan sebelumnya di Madinah. Kemudian Pemimpin pasukan diambil alih oleh Khalid bin Walid. Dia mengatur strategi agar bisa bertahan meski peluang menang sangat kecil. Khalid membuat strategi dengan memindahkan pasukan belakang ke depan dan pasukan depan ke belakang. Pasukan sayap kiri dipindah ke sayap kanan dan yang berada di kanan dipindah kekiri. Berubahnya strategi itu, pasukan Romawi menganggap pasukan Islam semakin banyak karena mendapat bala bantuan.

Akhirnya pasukan musuh mundur dan pulang. Kaum muslimin pun dapat mundur dan pulang ke Madinah.  Korban dari pihak pasukan Islam 12 orang. Dari pihak musuh tidak diketahui jumlahnya. Dengan perang ini telah menggoyahkan nyali orang Romawi untuk tidak main-main dengan kaum muslimin. Karena pasukan Islam tidak perang karena jumlah maupun kekuatan senjata. Tapi sejatinya perang demi agama.

Abdullah bin Rawahah berkata, “Kita tidak berperang dengan manusia karena jumlah, kekuatan dan banyaknya personel. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena agama ini.”

Perang Yarmuk

Saat khalifah Abu Bakar telah memegang kendali, Terjadi perang besar.  Bisa dibilang kelanjutan dari perang melawan Romawi pada perang Mu’tah dan Tabuk. Pasukan Romawi terkenal dengan pasukan yang anti mundur, kompak dan memiliki strategi yang cakap.

Saat itu pasukan Islam berjumlah 24.000-40.000 pasukan. Sedangkan jumlah musuh berkisar 100.000-400.00 pasukan.

Lagi-lagi jumlah pasukan tidak berimbang. Lihatlah, betapa Allah selalu mentaqdirkan pasukan-Nya yang sedikit untuk menghadapi musuh yang berjumlah banyak. Tapi perhatikan hasilnya nanti.

Khalid bin Walid sebagai panglima satuan pasukan Islam berupaya keras menyusun strategi jitu. Jumlah sedikit harus lebih efisien dalam bergerak. Salah langkah sedikit akan menuai kekalahan telak.

Sang pedang Allah ini membagi pasukan 40.000 menjadi 40 kontigen/lkelompok. Setiap kelompok terdiri dari satu kabilah. Setiap kelompok dibagi keberbagai sudut strategis yang sangat berpotensi menjadi tempat serang musuh. Strategi itu menuai hasil.

Akhirnya Pasukan Romawi mundur dan kalah. Padahal Heraklius telah memasang rantai-rantai besi kepada setiap pasukannya agar tidak muncur. Akhirnya pertempuran dimenangkan oleh pasukan Islam.

Jumlah yang sangat tidak sebanding. Tapi tak bisa dibayangkan, jumlah yang sedikit itu bisa mengalahkan pasukan musuh yang banyak. Sebab jumlah bagi pasukan Islam adalah nomor dua setelah keyakinan kuat akan kemenangan. Terakhir, mengejar sisa-sisa pasukan Romawi sampai terdesak dan masuk satu persatu ke jurang.

Jika seandainya perang Yarmuk dimenangkan oleh pasukan Romawi, maka sepertinya dakwah belum bisa masuk ke daerah Syam. Terkhusus di Damaskus, Suriah. Suriah sebelumnya menjadi tempat dimana Romawi berpusat dan mengatur pemerintahannya. Namun karena peperangan dimenangkan oleh pasukan Islam, mereka pindah dari Antiokia ke konstantinopel.

Kemenangan ini sebelumnya telah diprediksi oleh raja Heraklius. Dia mengatakan, "Ia (Muhammad) akan dapat memiliki tempat kedua kakiku berdiri ini.”

Perang Qodisiyah

sekitar 3 Bulan setelahnya, terjadi perang Qodisiyah. Dibawah khalifah Umar Bin Khattab, memerintahkan Saad bin Abi Waqqash pergi ke daerah Iraq. Disana menemui desa yang bernama Qodisiyah. Ditempat itulah nantinya terjadi benturan perang yang dahsyat. Peperangan pertama kali antara pasukan Islam dengan pasukan Persia.

Pasukan Islam berjumlah 30.000 personel. Komposisi pasukan yang terkumpul adalah orang-orang pilihan. Di antaranya adalah 99 orang merupakan ahlu (peserta perang) Badar, 318 orang yang pernah hadir dalam prosesi baiat Ridhwan, 300 orang veteran Fathu Makkah dan 700 orang putra-putra sahabat.

Persia saat itu dipimpin oleh raja terakhir, Yazdigird III. Raja persia mengutus panglima perang bernama Rustum dengan membawa pasukan yang lagi lagi tidak berimbang dengan pasukan Islam.

12.000 personel dengan persenjataan lengkap. Tidak hanya itu. Pasukan perang diperkuat dengan 33 gajah. Setiap gajah menarik gerbong yang berisi 20 serdadi dan peti persenjataan.

Mereka menempatkan pasukan gajah pada tempat yang strategis. Gunanya menghancurkan pertahanan musuh. 18 gajah ditempatkan di tengah pasukan, bersama 1 gajah milik raja. kemudian 15 gajah yang lain ditempatkan pada sayap kanan dan kiri pasukan.

Persia menambahkan pasukan khusus 30.000 yang dirantai besi agar tidak kabur.

Sebelumnya pasukan Islam mengirim beberapa spionase untuk memata matai ketempat musuh. Ternyata musuh berkekuatan 120.000 pasukan. Dibelakangnya pun sama. Info itu ia dapat dari tawanan pasukan musuh.

Sempat terjadi perundingan sebelum perang. Rib’i bin Amir diutus kehadapan Raja persia. Saat menemuinya, tenda dan apa yang ada disekelilingnya penuh dengan perhiasan dunia. Bahkan bantal bantalnya dirajut dari benang emas.  Tapi sama sekali utusan pasukan Islam tidak tergiur sedikitpun.

Setelah tidak ada titik temu dalam perundingan itu, perang pun terjadi.

Pasukan Islam kerepotan melawan pasukan kuda yang dihadapannya terdapat Gajah. Banyak kuda tunggangan dari pihak Islam yang takut saat bertemu hewan besar tersebut. Maka lahirlah ide dari salah seorang sahabat yang bernama Qo'qo' bin Amir. Strateginya adalah dengan menunggangi unta yang dihiasai dengan kain wol yang tebal hingga seperti gajah. Kemudian unta itu berada didepan pasukan berkuda kaum muslimin. Kini kuda-kuda pasukan musuh yang takut. Karena dikira melihat gajah. Padahal unta yang didandani seperti gajah.

Strategi dari sahabat ternyata membuahkan hasil. Bahkan strategi tersebut menjadi salah satu kemenangan tersendiri dalam perang Qodisiyah.

Imam Ibnu Katsir berkata atas menangnya kaum muslimin atas Persia,

“Tengkuk-tengkuk bangsa Persia pun tunduk lewat perang ini, dan generasi sahabat mampu menyerang negeri-negeri mereka di antara sungai Eufrat dan sungai Tigris, sehingga mereka memperoleh harta rampasan perang sangat banyak yang tak terhitung jumlahnya. Perang di Irak ini sebanding dengan perang Yarmuk di negeri Syam.” (Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Bidayah wan Nihayah, 9/597-599).

Demikianlah contoh-contoh kecil akan sebuah kwalitas. kuantitas tidak menjadi ukuran terpenting dimata Islam. Yang menjadi perhatian hanyalah kwalitas pada setiap pribadi pasukan. Sebab meski muslimin menang kuantitas tapi berkwalitas rendah, maka yang terjadi sebagaimana perang Hunain. Pasukan banyak tapi dapat dikalahkan oleh musuh. Oleh karenanya Umar bin Khattab pernah berkata, “Kita kalah karena kemaksiatan kita, sedangkan musuh menang karena kekuatan mereka”.

Sumber gambar: Google

 

 

  • view 130