Carper dan Baper Lillah

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 04 Februari 2017
Carper dan Baper Lillah

 

Sering dengar kata carper dan baper? Berarti kita hidup sejaman. He.

Kata ini sering kali diarahkan ke anak muda mudi yang bisa disebut sebagai masa pencarian jati diri. 
Kalau diilihat dari maknanya, ternyata carper dan baper bisa mengena siapa saja lo. Bukan saja untuk anak muda. Kita pun yang akan, dan sudah dewasa bisa kena.  Iya, serius.

Sudah tidak asing dua kata itu kalau sebenarnya kata singkatan. Carper: cari perhatian. Baper: bawa perasaan. Biasa kita nilai dua kata tersebut ditujukan hal yang mellow-mellow. Misalkan,

“anak laki itu carper sama perempuan disampingnya.”

“Perempuan itu langsung baper setelah baca status mellow facebok temannya”.

Tetapi sebenarnya carper dan baper bisa diubah menjadi hal positif. Tidak selalu dinilai jelek dan buruk. Caranya tinggal kita setting cara berpikir kita, bahwa carper dan baper bukan hanya perkara dunia saja. Tapi perkara yang akan abadi, Akherat. Rugi dong kalau setiap harinya melulu hanya perkara dunia. Terus akherat dikemanakan? Padahal kalau akherat dilibatkan dalam aktifitas, pahala akan terus mengalirkan ke kita.

Contoh carper untuk akherat, atau bahasa mudahnya carper lillah, adalah dengan mencari perhatian Allah ketika shalat dan ibadah lainnya. Loh, kenapa cari perhatian ke Allah, padahal Dia kan Maha Melihat? Walaupun kita gak ada niatan carper pun Dia tetap memperhatikan kita, kan?

Gini bro, sis, carper lillah dalam ibadah itu harus terus diurus kayak tanaman. Biar kita itu sibuk membenahi niatan kita dalam ibadah. Karena kalau tidak menanam carper kepada Allah, nanti carpernya bisa pindah ke selain Allah. Bisa dinilai kalau carper sudah pindah, akibatnya pahala ibadah akan habis. Nah lo..

Dan juga saat kita ibadah shalat, misalnya, tidak lantas syetan diam. Berputus asa kalau mangsanya ternyata sudah taat. Justru syetan tetap masih mengganggu dengan gencar. Dia mampu melencengkan niat seseorang dengan cara memanfaatkan keadaan. Misal, ternyata di sekitar orang shalat tadi ada calon mertua. Langsung niatnya buyar. Awalnya untuk Allah tiba-tiba shalatnya karena ada calon mertua. Itulah perlunya menjaga niat, agar tidak melenceng ditengah ibadah.

Contoh baper lillah, yaitu mudah tersinggung dalam arti positif saat mendengar atau membaca nasehat dari buku atau kutipan kata mutiara. Atau juga dari sebuah tulisan yang baik/inspiratif di media sosial. Hatinya gampang membandingan dirinya dengan apa yang dibaca. Misalkan saat membuka facebook, tidak sengaja melihat gambar yang didalamnya terdapat nasehat singkat, “Orang hidup akan mati, jadilah orang yang berarti”.

Setelah membaca itu terasa tertembak. Kemudian dari situ bertanya pada diri sendiri. “Apa hidup saya sudah berarti, minimal untuk sendiri, terlebih orang lain? Karena, kalau sudah ajal datang, pasti saya bakal mati.” Renungan itulah sebagai buah dari baper. Orang yang baper lillah kepekaan hatinya besar. Mudah sensitif terhadap hal yang mampu menarik perasaan terhadap kebaikan.

Banyak contoh carper dan baper lillah yang digambarkan Al-Qur’an.

Salah satunya mengenai sifat-sifat orang mukmin. Orang mukmin itu kalau sedang mengingat Allah hati mereka akan meleleh, tunduk dan patuh. Ketika dibacakan ayat-ayat Allah keimanan mereka bertambah.  Sifat-sifat ini terdapat pada surat Al-Anfal.

Contoh aplikasinya adalah sekelumit dari kehidupan Abu Bakar Asy-Syiddiq. Salah seorang sahabat Rosul yang hatinya benar-benar lembut. Setiap bertemu ayat yang menerangkan tentang neraka dan adzab, pasti menangis tersedu-sedu. Perasaannya tidak kuat untuk ditahan. Bisa dibilang tingkat bapernya sangat tinggi.

Pernah ada salah seorang ulama besar, zaman tabiut tabi’in melakukan sebuah safar. Di malam hari tengah istirahat, lampu didekatnya mati. Setelah dihidupkan kembali oleh temannya, ternyata jenggot ulama ini sudah dibasahi air mata. Setelah ditanya kenapa dia menangis, sebabnya adalah merasa khawatir, kondisi gelap yang barusan terjadi akan sama saat di alam kubur nanti. Gelap dan mencekam.

Orang yang baper lillah mudah tersentuh dengan keadaan sekitar. Cepat tersinggung dan segera menghubungkan kondisinya nanti setelah mati. Padahal bagi manusia biasa, keadaan gelap hanya karena tidak diterangi lampu.

Contoh dari carper,  kehidupan salah seorang cicit Rosulullah, Yaitu Zainal Abidin. Sebelumnya tidak ada yang tahu kalau dia biasa membawa karung-karung gandum setiap malam ke rumah-rumah fakir miskin. Setelah dia meninggal, barulah orang-orang tahu.

Kenapa? sebabnya terdapat bekas lebam dipunggungnya. Setelah kematiannya pun, karung-karung gandung yang biasa diletakkan di pintu fakir miskin sudah tidak pernah ada lagi.

Jiwa dari carper lillah membentuk kuat dalam kehidupan seseorang. Tidak besar hati tatkala dipuji dan tidak merasa hina saat dicaci. Ibadah dikala ramai dan sepi tidak berpengaruh. Tetap khusyu'. Pandangan manusia tidak membuat ibadah menjadi kendur, dan omongan mereka tidak membuat langkah menjadi mundur. Karena orang yang carper lillah telah sibuk mencari pengakuan dari Allah. Bukan kepada makhluk. Sebab hatinya telah sadar, yang memberi pahala bukan manusia. Tapi Dialah Sang Maha Pencipta.

Ayo, jangan khawatir dibilang baper dan carper kalau itu memang Lillah, untuk Allah. Bisa jadi carper dan baper kita kepada Allah membuat kwalitas ibadah kita dimata-Nya menjadi semakin baik.

  • view 95