#Penjual Tas Di Emperan Jalan

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2017
#Penjual Tas Di Emperan Jalan

Suatu kali saya bersama seorang teman berbelanja buku di pasar Senen. Pulangnya kami menggunakan bus jurusan Pasar Rebo. Saat hendak melewati lampu merah, tepatnya sebelum stasiun Senen, dari kaca bis teman saya menunjuk dan memberi tahu ke suatu objek di pinggir jalan. Ternyata ada seorang ibu yang sedang berjualan tas di emperan jalan. Dari segi penampilannya sedikit lusuh dan tidak meyakinkan untuk orang yang ekonominya normal. Terlihat tidak banyak tas yang dijual. Lapaknya pun hanya menggelar sebuah tikar kurang lebih seluas 2 X 2 meter.

Yang membuat saya kaget dari ibu itu  adalah ia berjualan hanya karena nganggur di rumah. Suaminya kerja di konveksi pribadi. Ia membuat berbagai macam tas. Baik tas selempang maupun tas punggung. Kata ibu itu dari pada tidak ada pekerjaan, dia berinisiatif untuk memasarkan tas karya suaminya sendiri. Teman saya tahu kehidupan ibu itu karena  sebelumnya pernah berbincang-bincang dengannya saat sedang menunggu bis beberapa minggu yang lalu.

Saya lihat sekilas ibu itu seperti sedang benar-benar menghidupi keluarganya. Tanpa suami mati-matian menjadi punggung untuk keluarga. Tapi dugaan saya meleset jauh. Penampilannya telah menipu. Dia berjualan hanya karena ingin  mengisi kekosongan.

Ada satu hal yang tidak saya kira dari ibu penjual tersebut. Dia memiliki seorang anak yang sedang kuliah di jurusan kedokteran. Tinggal  2-3 semester lagi kuliahnya selesai. Padahal untuk masuk kuliah jurusan dokter tidaklah murah. Butuh mengeluarkan uang yang banyak. Dan rata-rata jurusan itu diambil oleh orang yang terbiasa hidup mapan. Keluarga yang ekonominya menengah keatas. Namun ternyata hal ini bisa dijalani oleh seorang bapak yang berprofesi sebagai pekerja konveksi pribadi dan seorang ibu penjual tas di emperan jalan.

Bagi Ibu itu hanya satu saja yang ia khawatirkan saat berjualan. Yaitu satpol PP. Katanya semenjak gubernur ganti, banyak sekali penjual di emperan yang khawatir ditahan barang dagangannya bila ketahuan. Kalau gubernur sebelumnya bebas-bebas saja berjualan. Tidak ada peraturan yang melarang.

Sepotong kehidupan dari seorang ibu penjual tas di emperan jalan, bagi saya ada hikmah tersendiri yang sayang bila diabaikan. Ibu itu seolah mengajarkan pada kita bahwa jangan mudah tertipu dengan penampilan. Belum tentu keadaan sesungguhnya mewakili dari seluruh kehidupannya. Bersikap berbaik sangka lebih menyelamatkan kita dari merendahkan orang lain. Karena banyak orang yang menghina dan merendahkan orang lain berawal dari penilaian secara lahir. Kemudian muncullah sikap merendahkan atas keadaan yang telah dinilai itu.

Mari kita menjadi manusia yang saling menghargai pekerjaan orang lain selama itu halal, dan tidak memandang hina atas pekerjaan yang dilakoni. Sebab, bisa jadi Allah jauhkan dirinya dari api neraka hanya karena berusaha menghidupi keluarganya dengan rejeki yang halal.

  • view 54