#Benci Arab Atau Benci Islam?

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Januari 2017
#Benci Arab Atau Benci Islam?

Di Indonesia, agaknya orang yang anti arab mulai bermunculan. Baik dari kalangan artis sampai politisi dan aparat negara. Mereka menggunakan berbagai dalih untuk menutupi kebencian terhadap arab. Salah satunya adalah ungkapan ketua umum PDIP.  Dia menyatakan  "Kalau kamu mau menjadi  orang Islam, jangan jadi orang arab".

Dalam kasus lain, saat mengawal Imam besar FPI di Polda Jawa Barat untuk pemeriksaan, terdapat salah seorang peserta membawa bendera merah putih yang bertuliskan kalimat tauhid. Tidak lama, pembawa bendera itupun dilaporkan ke polisi. Dengan cepat diperkarakan.

Ia dituduh mencoret bendera merah putih. Padahal tidak ada maksud sama sekali menghina bendera dengan tulisan tauhid. Tuduhan yang mengatakan  kalimat tauhid sebagai coretan yang mengotori bendera, adalah hal yang sangat miris dan sangat disayangkan. Karena sama saja mengartikan  kalimat tauhid itu adalah hal yang kotor. Maha suci Allah dari anggapan buruk seperti itu. Namun kabar baiknya, pembawa bendera Indonesia berlafadzkan tauhid yang diciduk malam hari bak teroris itu, kini telah dibebaskan. 

Jika kita perhatikan lebih lanjut, sebelumnya ada bendera merah putih yang dipakai dalam pengawalan sidang Ahok. Di bendera tersebut tertulis"Bebaskan Ahok".

Jauh-jauh hari, sebelumnya juga ditengah konser musik ada bendera merah putih yang bertulisan metallica. Dan dipanggungpun beberapa peserta konser foto bersama menggunakan bendera itu. Ditempat lain, bahkan ada pembakaran bendera merah putih dengan terang-terangan.

Masih banyak lagi bukti lainnya yang bisa dianggap sebagai mencoret/melecehkan bendera.  Yang menjadi pertanyaan besar, kenapa bendera selain kalimat tauhid itu tidak diusut dan diperkarakan? Apa dianggap tulisannya tidak mengotori bendera?Atau hanya kalimat tauhid saja yang lebih patut diperkarakan?

Ada indikasi, baik dari kepala PDIP maupun Kepolisian sentimen terhadap arab dan sesuatu yang berbau arab. Begitu juga tercium bau menyengat ketidakadilan ditubuh pemerintah. Buntutnya, mereka akan dianggap membenci Islam. Sebab Islam tidak dapat dipisahkan dengan arab. Nabi yang menyebarkan Islam adalah orang arab. Al-Qur'an diturunkan berbahasa arab. Kita yakin, mereka dulunya juga belajar ngaji dan mau tidak mau melafadzkan kata arab. Shalatpun do'a yang mereka lantunkan berbahasa arab.  Apakah mereka ingin melanjutkan nasib sebagaimana kejadian di Turki masa lalu?

Tatkala Turki telah ditunggangi oleh bangsa sekuler, Mustafa Kamal sebagai kepala presiden membuat peraturan yang sangat diskriminatif, khususnya bagi umat Islam. Yaitu adzan harus menggunakan bahasa Turki. Nama masjid tidak boleh menggunakan bahasa arab. Bahkan Al-Qur’an dilarang beredar jika masih menggunakan bahasa arab. Banyak ulama di buru dan digantung karena tidak mendukung ide yang sangat anti arab dan Islam.

Namun Allah memberi balasan kepada kepala pemerintah itu dengan berbagai penyakit yang membuatnya tersiksa. Sekujur tubuhnya merasakan gatal yang hebat. Meski kulitnya telah terkelupas akibat digaruk, rasa gatal tetap tidak hilang.  Suhu panas pada badannya meninggi. Bahkan, berbagai cara tidak bisa menurunkan panasnya. karena sudah dianggap tidak ada cara lain, akhirnya mereka bawa  ke laut. Beberapa kali ia koma. Musuh Allah itu benar-benar merasakan penderitaan hingga ajal menjemput.

Adzab di dunia Allah berikan sebelum nanti adzab yang keras di akherat. Meski orang-orang sekuler menganggap orang ini menjadi bapak sekularisme, tapi dimata umat Islam, ia adalah perusak yang dinantikan keruntuhannya. Ia telah menggadaikan Islam kepada barat. Diantaranya merubah pemerintahan Islam menjadi sekuler dan ingin menjauhkan Islam dari bahasa arab.

Kita do'akan, semoga mereka yang saat ini membenci arab dan berbau arab, segera bertaubat. Jadikanlah akhir tragis sang pembenci arab diatas sebagai peringatan dan sekaligus ancaman.

 

 

  • view 106