Antara Cinta Allah Dengan Cinta Manusia

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 02 Januari 2017
Antara Cinta Allah Dengan Cinta Manusia

Jika seorang istri mencintai suaminya, maka si istri akan berusaha membahagiakan  sang suami. Begitu juga sebaliknya. Seorang suami akan membahagiakan sang istri karena cinta kepadanya. Itulah cinta diantara para hambanya. Tandanya saling memberi kebahagian diantara mereka dan tidak membiarkan saling menyakiti.
Namun analogi itu tidak bisa disamakan dengan cintanya Allah kepada hambanya. Karena kita tidak patut menyamakan-Nya dengan perbuatan makhluk.
 
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِير
 
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11).


Sering kita salah menilai bahwa mendapat kekayaan, kemapanan hidup, pangkat yang tinggi, anak-anak yang membahagiakan orang tua, istri penurut, dan kehidupan selalu nyaman dan tenang adalah bukti bahwa Allah benar-benar cinta 100% kepada hambanya .
 
Padahal diantara bukti cinta Allah kepada manusia justru dengan hal yang tidak disenangi jiwa. Sesuatu yang bertentangan dari nafsu. Seperti ditimpa musibah dan bertumpuknya rasa kesedihan. Contoh kecil adalah para hambanya yang mulia, yaitu para Nabi. Nabi Nuh diuji dengan anak yang durhaka. Dakwah selama 950 tahun tapi hanya segelintir orang yang menerima dakwahnya. Nabi Ibrohim diuji dengan seorang bapak pembuat patung, dibakar oleh kaumnya sendiri dan meninggalkan hajar serta anaknya Ismail yang masih kecil ditempat gersang yang sama sekali tidak ada air. Padahal Ibrahim mendapat surat cinta langsung dari Allah melalui firman-Nya,
“… dan Allah memilih Ibrahim sebagai kekasih-Nya”. (QS. An-nisa’: 125).
 
Nabi Ayyub diberi penyakit hingga daging-daging dari tubuhnya berjatuhan. Tidak hanya itu, bahkan harta yang sebelumnya banyak, telah terkuras habis, keluarga dan saudara-saudaranya menjauh, karena menderita penyakit yang mengerikan. Nabi Yusuf dijeburkan dalam sumur, dijual menjadi budak dan digoda oleh seorang wanita, istri dari menteri. Nabi Luth menghadapi kaumnya yang tidak pernah didapati perbuatan serong tersebut dari kaum-kaum sebelumnya. Istrinya pun durhaka kepadanya.
Nabi Isa dikejar-kejar oleh musuhnya untuk disalib. Nabi Muhammad diludahi dan dilempari kotoran. Beliau pernah terkena anak panah yang menancap pada pipinya. Hingga para sahabat sangat sungkan untuk mencabut anak panah itu dari tubuh seorang yang mulia.
 
Jadi kalau kita menganalogikan cinta Allah seperti cintanya manusia kepada manusia lainnya, berarti para nabi Allah ini termasuk manusia yang Allah benci. Padahal mereka adalah manusia-manusia mulia dimuka bumi yang menyebarkan kebenaran. Sengaja Allah utus mereka sebagai manusia yang diberi banyak ujian untuk menjadi pelajaran bagi manusia setelahnya.
Sebuah bukti yang konkrit bahwa Allah memang mencintai hambanya dengan diberi ujian adalah melalui perkataan Rosul mulia,
 
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
 
“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
 
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”
(HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
 
Maka saat seseorang mulai belajar Islam dan memperdalamnya, jangan dikira hidupnya akan lebih mudah dari sebelumnya. Rejekinya menjadi lancar, anak jadi sholeh dan kehidupan keluarganya semakin baik. Tidak. Justru terkadang ujiannya semakin berat. Karena untuk mencapai sebuah puncak suatu bangunan, akan banyak hembusan angin yang kuat. Semakin tinggi, angin semakin kencang. Begitu juga pada diri kita. Untuk mencapai derajat mukmin sejati, harus melewati ujian demi ujian. Perjalanan kehidupan tidak akan pernah sepi dari cobaan. Justru malah dipertanyakan orang yang mengaku beriman tapi sepi cobaan dalam kehidupannya.
 
Sebagaimana emas dan perak. Tidak akan menjadi emas dan perak yang benar-benar murni tanpa adanya proses pemanasan yang tinggi. Sama halnya seorang mukmin, tidak akan menjadi mukmin sejati tanpa lolos dari cobaan. Seperti Nasehat Luqman kepada anaknya,
 
يا بني الذهب والفضة يختبران بالنار والمؤمن يختبر بالبلاء
 
“Wahai anakku, ketahuilah bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api sedangkan seorang mukmin diuji dengan ditimpakan musibah.”
Musibah yang menimpa seorang muslim, hakekatnya dijadikan sebagai penyaring, siapa saja yang bersabar dan bersungguh-sungguh. Walaupun mereka mengaku beriman, tetap Allah uji. Dalam kehidupan kita pun begitu. Meski para murid mengaku paham terhadap apa yang diajarkan sang guru, tetapi ujian sekolah tetap dilakukan. Untuk mengukur seberapa besar mereka paham dari apa yang sudah dipelajari.
 
“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) keadaanmu” (Muhammad/47:31)
 
Orang-orang yang mendambakan syurga sangat mustahil bila ingin meraihnya tanpa ada kesulitan dan keletihan. Padahal orang-orang terdahulu untuk mencapai cinta Allah yang membuahkan syurga, hidupnya selalu ramai dengan kesusahan, kegelisahan dan goncangan hidup. Allah menyadarkan kita atas pernyataan dalam kitab-Nya, bahwa memang syurga tidak mudah untuk diraih.
 
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”(QS. Al-Baqoroh: 214).
Ujian-Ujian yang turun kepada hambanya bukan maksud Allah menghina dan mencampakkan, apalagi mendzhalimi. Tapi itu semua adalah bentuk kecintaan Allah yang selalu disalah artikan sebagian muslim dengan perbuatan yang kejam.
 
Al Munawi berkata, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam penjara, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup…”
 
(Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi, 1/158, Asy Syamilah)
 
Marilah kita ubah persepsi kita yang salah tentang antara cinta Allah dengan cintanya manusia. Agar saat menghadapi kesulitan dan gangguan hidup tidak melulu mengkambing hitamkan taqdir. Serta tidak mudah bersuudzhan (berburuk sangka) kepada-Nya dalam setiap kejadian yang menimpa kita. Semoga kedepannya kita semakin lapang dada dalam menerima setiap takdir yang telah Dia gariskan.

 

  • view 233