Belajar Menikmati Proses

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Motivasi
dipublikasikan 29 Desember 2016
Belajar Menikmati Proses

 

Manusia dilahirkan tanpa skill apapun. Kosong keahlian dalam segala bidang. Namun kenapa banyak orang ahli dan pakar? Dibalik sebutan itu  karena ada yang namanya kesungguhan. Kesungguhan  pada usaha dan jujur dalam tekad.

Kebodohan manusia mengenai pengetahuan terhadap sesuatu hal akan berangsur hilang jika mau belajar. Hanya terkadang sedikit yang bertahan meniti tangga proses. Padahal untuk mencapai keberhasilan, atau minimal menguasai salah satu bidang, harus melalui proses panjang. Didalam buku yang berjudul "How Master Your Habits" menyebutkan, untuk menjadi ahli seseorang membutuhkan 10.000 ribu jam latihan dibidang tertentu.

Jika berlatih selama 3 jam dalam sehari pada bidang yang ingin dikuasai, maka  perlu 10 tahun untuk mencapai 10.000 ribu jam tersebut. Jika 5 tahun saja, maka dalam sehari harus latihan sehari 6 jam. Jadi, tidak ada keahlian jika dilalui dengan cepat. Tidak ada kesuksesan tanpa ada kerja keras dan kesabaran. Berproses harus dilewati sebelum merasakan manisnya.

Sebagian manusia melihat orang sukses mencapai apa yang diraih terkadang hanya memandang dari  kesuksesannya saja. Sambil berfikir seakan kehidupannya mereka dari awal  hingga akhir selalu nikmat. Sayangnya mereka tidak memikirkan hal pahit yang dialami oleh orang sukses tersebut. Bisa jadi mereka menaiki tangga proses dengan menghabiskan waktu yang panjang dan melelahkan. Keringat selalu mereka peras. Rasa pahit pil kesulitan mereka telan. Setiap waktunya tidak pernah berfikir hal lain. Mereka hanya fokus ke satu titik saja. Yaitu cita-cita. Cibiran orang, gosip sana sini atas mereka sama sekali tidak digubris. Sibuknya pekerjaan tambahan tidak membuat kendor dalam melangkah lebih jauh.

Mereka tiada henti untuk terus melangkah. Seseorang tidak akan mampu mencapai puncak tangga jika dari awal saja dia masih berfikir untuk melangkah. Padahal yang harus dilakukan hanyalah menaiki tangga demi tangga itu. Tidak perlu mengukur berapa tinggi setiap tingkatan tangga dan berapa besar diameternya.

Orang sukses itu telah mengalahkan musuh eksternal dan internalnya. Justru terkadang musuh yang sulit dikalahkan adalah dalam diri seseorang. Kenapa orang sukses mau bersabar dan bertahan dalam pendirian? Karena dia telah meneguhkan hati dan menguatkan tekad. Apa mungkin seseorang bisa bertahan bila dia harus berkutat setiap harinya pada satu bidang, sedangkan hatinya oleng seperti daun dan tekadnya lemah seperti dahan pohon yang lapuk?

Sumber kekuatan dalam diri merupakan modal berharga yang harus dimiliki dalam meniti proses perjalanan yang panjang. Musafir yang cerdas tentu tidak akan sembarang bepergian tanpa bekal. Dia selalu mempersiapkan dan membawa bekal kemana saja. Sama halnya orang yang ingin sukses. Dia akan membawa bekal untuk modal agar bertahan sampai di garis final.

Saat seseorang telah sibuk dalam mengejar cita-citanya, banyak sekali yang telah menikmati proses. Padahal diawal-awal sangat berat membiasakan diri setiap hari menjadi orang yang disiplin.

Perhatikanlah Sultan Muhammad Al-Fatih. Apakah saat proses pembukaan Konstantinopel dia merasa bosan dan pesimis, sudah berkali-kali, berganti-ganti strategi hasilnya hampir sama? Tidak. Justru makin ada saja solusi untuk mengatasinya. Sultan menemukan ide berupa tangga, seolah benteng besar yang dapat diangkat. Kemudian berjalan ke benteng musuh. Kemudian dia mendapatkan ide untuk memciptakan senjata meriam pertama kali yang memiliki ukuran super besar. Hasilnya mampu menghancurkan benteng musuh dari setiap tembakannya.

Sampai akhirnya Sultan Muhammad Al-fatih mampu membuka gerbang Eropa Timur melalui takluknya benteng Konstantinopel. Padahal tidak sedikit kaum muslimin yang ingin benar-benar menghancurkan benteng tersebut. Mulai dari Bani Muawiyah, Abbasiyah hingga orang-orang sebelum Muhammad Al-Fatih dimasa Turki Utsmani.

Ia bisa menaklukkan kekuatan besar yang dibanggakan berabad-abad oleh Romawi Byzantium melalui proses panjang. Tidak tiba-tiba kemenangan ada padanya. Bahkan proses panjang itu bermula dari ketika ayahnya telah mewariskan tekad kepadanya untuk membuka Konstantinopel. Yaitu dengan menyerahkan Al-Fatih kecil kepada guru pilihan untuk diajarkan Islam secara mendalam. Guru pilihan itu bernama Syamsuddin.

Banyak kisah-kisah para pendahulu yang tidak ada satu pun meraih keberhasilan kecuali harus melewati proses yang panjang.

Jika ada orang yang berharap manisnya keberhasilan tanpa kerja keras dan tanpa melewati banyak tahapan, maka ia sama saja bermimpi kapal laut akan berjalan didaratan.

Salah seorang ulama mengatakan, “


تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلىَ الْيَبَسِ

"Kalian mengharapkan keselamatan namun tidak menempuh jalan-jalannya. Sesungguhnya kapal tidak akan berlayar di atas tempat yang kering"

Lantas, sudah dimanakah posisi kita? apakah masih jalan ditempat, berfikir mau melangkah? Atau sudah dipertengahan, melaju bersama teman kesungguhan?

Kita semualah yang memutuskan. Dan setiap keputusan ada konskwensi yang akan diterima nantinya.

  • view 380