Mengandaikan Kematian

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 25 Desember 2016
Mengandaikan Kematian

Tidak mudah seseorang itu bersabar dari perihnya goncangan dan musibah. Ujian dan cobaan pasti ada. Tidak pernah absen dalam perjalanan hidup manusia hingga menemui Tuhannya. Sampai terkadang ada manusia yang berangan-angan mati. Seakan begitu beratnya menjalani kehidupan, merasa kematian lebih baik dari pada melanjutkan hidup. Di negara-negara besar, salah satunya di Negara Jepang, tingkat bunuh diri mencapai sekitar 25 ribu orang, atau setiap harinya ada 70 orang yang melakukan bunuh diri.  

Sebagian besarnya adalah lelaki.  Hal itu sebagaimana yang dilansir dari situs dailyjapan.com. Padahal dari segi teknologi, Jepang termasuk sangat pesat perkembangannya. Namun ternyata teknonogi itu tidak menutup kehampaan hidup yang mereka jalani. Teknologi yang mereka ciptakan tidak menjamin dalam mengatasi problematika kehidupan mereka.

Berbeda dengan Korea Utara. Hal yang memicu banyaknya bunuh diri adalah karena peraturan pemerintahnya yang sangat aneh. Seolah masyarakat disana seperti budak. Kebijakan-kebijakannya seperti ingin menyengsarakan rakyatnya. Bahkan model rambutpun yang menentukan adalah pemerintah.

Dua negara besar dan maju tersebut adalah contoh dari sekian banyaknya negara dimana sebagian masyarakatnya putus asa pada kehidupan. Sebab terbesar adalah tidak memiliki sandaran hidup yang kuat. Yaitu sandaran agama.

Lantas bagaimanakah dalam pandangan Islam mengenai berandai-andai, bahkan sampai tahap praktek bunuh diri?

Islam melarang keras orang yang ingin mengakhiri hidupnya. Karena hakekatnya orang yang bunuh diri seakan mentakdirkan sendiri untuk memutus kehidupannya.  Padahal Allah yang berhak memutuskan kapan nyawa seseorang itu akan dicabut.  Orang yang bunuh diri bukan berarti berjalan diluar taqdir Ilahi. Hanya saja melakukan perbuatan tersebut adalah solusi yang salah dalam mengatasi kepelikan hidup. Bahkan sekedar berandai-andai saja Islam tidak memperbolehkan.

لاَ يَتَمَنَّيَنَ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengangan-angankan kematian karena suatu kemudaratan yang menimpanya. Kalaupun dia terpaksa menginginkan mati, maka hendaknya dia berdoa, ‘Ya Allah! Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Namun tidak ada api tanpa asap. Munculnya akibat tentu berawal dari sebab. Maka ada tiga kondisi manusia kenapa memiliki hasrat untuk mati. Dua kondisi dilakukan oleh orang yang lemah iman. Dan satu kondisi dilakukan oleh orang yang kuat iman. Sahal bin Abdullah Al-Tusturi berkata, “Tidaklah seseorang itu mengharapkan kematian kecuali 3 kondisi. Dua kondisi yang dilakukan oleh lemah iman. Dan satu kondisi dilakukan oleh orang yang kuat iman.

Kondisi yang pertama karena dia tidak tahu apa yang menunggunya di alam barzakh. Orang ini bodoh terhadap agamanya. Akibatnya buta atas amalan apa saja yang mengancam dirinya nanti setelah mati. Kondisi kedua adalah orang yang lari dari takdir Allah. Orang ini tidak mau berusaha dalam menyelesaikan masalah. Inginnya lepas dengan segara atas segala masalah yang dihadapinya. Itulah dua kelompok yang minim imannya. Yang ketiga adalah datang dari orang yang memiliki iman besar. Ia berandai mati karena rindu dengan Allah ta’ala.

Lantas, apakah dalam Islam berandai-andai mati seperti itu dibolehkan?

Mari kita perhatikan dari dialog salah seorang salaf.

Pernah suatu ketika terjadi perbincangan antara Alim Al-Kindi dengan Abul Abbas Al-Ghifari diatas loteng. Lalu muncul seseorang yang terkena wabah. Kemudian dia berkata, “Wahai wabah, ambillah aku kepadamu”.

Dia mengulangi permintaan itu tiga kali.  Kemudian Alim bertanya, "Kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah Rasulullah telah bersabda, "Jangan sekali-kali seorang dari kamu sekalian menginginkan mati, karena ketika itu terputuslah amalnya, dan tidak dikembalikan lagi. (umurnya) untuk meminta keridhaan (taubat)?"

Maka Abul Abbas menjawab, “Aku pun mendengar Rosulullah bersabda; "Segeralah meminta mati jika telah terjadi enam perkara: Orang-orang bodoh jadi pemimpin, banyaknya tanda-tanda (kiamat), hukum dijual-belikan, pembunuhan dianggap remeh, silaturrahim diputuskan, dan generasi yang menjadikan Al Qur'an sebagai nyanyian,  mereka menyuruh seseorang tampil menyanyikan Al Qur'an padahal ia paling sedikit pengetahuan agamanya." (Shahih Al-Jami' (2812) 24. dan Ash-Shahihah (979) karya Al-Albani Rahimahullah. [At Tadzkirah, Imam Syamsuddin Al Qurthubi]

Dalam hadist diatas bahwa meminta mati dibolehkan asal dalam kondisi 6 perkara tersebut.

Sebagaimana Maryam binti Imran.  Saat hamil Isa Alaihis salam ia berangan-angan untuk mati. Bukan karena berat dan susahnya melahirkan Isa. Tapi karena khawatir akan fitnah setelahnya.

قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

“Ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". (QS. Maryam: 23)

Bunda Maryam berandai-andai mati karena dua hal:

Pertama karena dia takut berbuat buruk dan dicela sebagai wanita pezina. Padahal Maryam adalah wanita yang suci dan termasuk dalam keluarga yang baik-baik.

Kedua:: Bunda Maryam khawatir nanti masyarakat akan menuduhnya berzina. Padahal menuduh zina seorang wanita yang suci adalah dosa besar. Sehingga Maryam khawatir, nanti masyarakat berbuat dosa karena perantara tuduhan keji tersebut.

Dua perkara diatas merupakan fitnah hidup yang sangat ingin dijauhi oleh Maryam. Makanya dia sampai berandai mati sebelum fitnah itu terjadi.

Salah seorang sahabat Rosul, yaitu Umar bin Khattab pernah berangan-angan mati. Yaitu melalui do’a supaya dimatikan dalam keadaan tidak menyia-nyiakan masyarakatnya.

Do’anya berbunyi: "Ya Allah, kekuatanku benar-benar sudah lemah, usiaku sudah tua, sedang rakyatku sudah tersebar ke mana-mana. Maka, cabutlah (nyawa)ku dalam keadaan tidak menyia-nyiakan ataupun melalaikan kewajiban."

Selain itu, Sahabat Umar juga melazimi doa yang dipanjatkan oleh Rosul. Do’a Nabi yang diriwayatkan oleh Malik, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al-Bani. Doanya berbunyi, “ Ya Allah aku meminta kepadamu perbuatan kebaikan, dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, mencintai orang-orang miskin. Ya Allah, jikalau engkau ingin untuk menimpakan bencana kepada umat manusia dengan fitnah yang besar, maka cabutlah nyawaku ya Allah Tanpa aku mendapatkan bencana atau fitnah itu.”

Maka bila ujian yang kita rasakan begitu berat, berandai-andailah mati bukan karena musibah itu menimpa fisik atau harta kita. Bukan pula  karena kehilangan seseorang yang sangat dicintai, lantas galau tingkat tinggi dan ingin bunuh diri. Tapi berandai-andailah mati yang terpuji sebagaimana 6 kondisi yang telah Rosulullah sebutkan. Karena indikasi muslim yang baik adalah bukan berangan-angan mati karena putus cinta, kesempitan hidup, banyaknya hutang yang melilit dan masalah dunia lainnya. Tapi karena ancaman fitnah dunia yang membahayakan Iman kita.

 

  • view 233