Toleransi Ala Ashabul Kahfi  

Toleransi Ala Ashabul Kahfi  

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 24 Desember 2016
Toleransi Ala Ashabul Kahfi   

 

Perayaan natal akan datang. Masih banyak umat Islam yang kebablasan dalam bertoleransi. Beranggapan bahwa toleransi setidaknya harus mengucapkan natal kepada mereka. Sebenarnya miris sekali sikap seperti ini. Terlebih terdapat perusahaan yang memaksa karyawannya memakai atribut natal. Bila tidak menggunakannya, akan diancam pecat dari pekerjaannya. Ini merupakan ujian iman bagi seorang muslim untuk mempertahankan orisinalitas keimanan. Muslim yang memiliki prinsip kuat akan menolak ajakan tersebut meski terancam di pecat.

Namun bila tetap menerima ajakan hanya karena khawatir kerjaannya akan hilang, maka sama saja ia tidak menjaga orisinalitas keimanannya. Mereka menodai akidah meski hanya ucapan selamat natal, terlebih menggunakan atribut mereka.

Selayaknya mereka harus belajar kepada Ashabul Kahfi.  Sekumpulan pemuda yang menyelamatkan keimanan dari bahaya yang mengancamnya. Mereka yang berlatarbelakang dari keluarga bercukupan, tidak saling mengenal diantara lain, tapi bisa terhubung karena sama-sama menyelamatkan aqidah.

Pemuda Ashabul kahfi merupakan simbol akan ketegasan suatu komitmen yang harus diambil oleh pribadi muslim. Tidak membebek pada suatu kaum yang telah Allah hinakan. Tidak mudah tergoda hanya karena banyak manusia yang melakukannya. Usaha besar mereka untuk memutuskan pergi kesebuah goa demi menjauhi tempat fitnah dan merupakan bentuk ketegasan dalam prinsip aqidah, akhirnya Allah abadikan mereka dalam Al-Qur’an sebagai manusia beriman lagi mendapat petunjuk.

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى

“Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” Al-Kahfi: 13)

Seharusnya umat Islam memiliki prinsip yang tidak boleh ditawar sebagaimana pemuda Ashabul Kahfi. Toleransi tidak menjadikan seorang yang berstatus muslim menggadaikan imannya. Toleransi adalah membiarkan umat selain Islam merayakan hari besarnya. Tidak mengganggu dan meneror mereka. Namun sangat disayangkan, justru salah seorang oknum tokoh Islam malah membolehkan ikut dalam merayakan natal. Dibilang itu adalah toleransi. Padahal toleransi yang kebablasan.

Kita harus tahu bahwa orang kafir diam-diam menyerang umat Islam melalui adanya momen seperti ini. Sebab bisa jadi mereka paham, jika seorang muslim mengikuti atau setidaknya mengucapkan selamat natal berarti akan mempengaruhi keimanan mereka. Kedepannya mudah diajak mengikuti acara-acara yang mereka adakan. Lambat laun akhirnya terjerumus pada pemurtadan.

Sudah saatnya umat Islam sadar bahwa mengucapkan natal apalagi mengikuti acara agama lain berarti termasuk golongan mereka.

Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan).

Kemungkinan besar tanpa disadari kondisi hati orang Islam yang mengucapkan selamat natal tidak jauh beda dengan golongan yang dia ikuti. Stabilitas hati akan mengalami hempasan dahsyat dan melahirkan pribadi yang rapuh. Kedepannya mudah tergoyah hanya dengan bisikan kecil dunia. Sensifitas terhadap Islam akan menurun. Sehingga, ghiroh yang selayaknya dimiliki setiap pribadi muslim lambat laun terkikis dan lenyap tak tersisa.

Pada awalnya natal merupakan perayaan adat budaya masyarakat penyembah berhala. Perayaan yang tiap tahunnya dirayakan oleh agama kristen tersebut sebetulnya bukan dari agama mereka. Karena pada 4-M perayaan natal baru masuk dalam ajaran kristen Katolik.

Sedangkan pada abad 1-M sampai 4-M masih dikuasai oleh bangsa Paganis Politheisme, yaitu Imperium Romawi.

Setelah Raja Konstantin dan rakyat Romawi masuk agama Katolik, diputuskanlah pada saat konsili II bahwa tanggal 25 desember adalah hari kelahiran Yesus. Kemudian dilestarikan oleh agama Kristen hingga sekarang dan disebut sebagai perayaan natal.

Maka natal bukan sekedar perayaan biasa dan acara tanpa makna. Tapi natal merupakan doktrin untuk mengakui ajaran kristen.

Hj. Irene Handono, mantan Biarawati mengatakan: “Natal bukan urusan duniawi, sosial dan seremonial semata, tapi perayaan doktrin ketuhanan yesus yang sungguh sangat berlawanan dengan aqidah Islamiyah.”

Namun jika masih banyak umat Islam yang ikut-ikutan merayakannya dengan mengucapkan selamat natal dan memakai atribut perayaan mereka, jangan salahkan kalau keimanan mereka akan tergadai. Mereka berada dimbang pintu murtad tanpa sadar. Karena saat ikut dalam perayaan, berarti menyetujui budaya dan tradisi kaum penyembah berhala, sekaligus menuduh bahwa Allah punya anak. Padahal Allah berfirman,

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” (Al-Ikhlas: 3)

Wallahu A’lam Bisyowab.

 

  • view 349