Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Desember 2016
Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah

Matahari seakan enggan muncul kepermukaan. Mendung masih saja betah menggantung di awan. Menahan terpaan sinar matahari yang membasahi bumi. Angin cukup kencang bertiup dipagi hari. Meniup berhelai rambut seorang yang duduk termenung menatap nasib. Fadli memandang bisu hamparan kebun dihadapannya. Tenggelam bersama masa lalu yang saat itu baru ia sesali.

“Kenapa, kenapa dan kenapa?”

Serunya dalam hati.

Kini ia hidup seperti dipengasingan. Sebuah rumah yang cukup sederhana di pinggiran kota, mungkin itulah sebagai tempat pilihan terakhir memulai hidup baru untuk menutupi semua aibnya di masa lalu.

6 bulan yang lalu dianggap sebagai awal dimana ia bisa meraih kebahagiaan. Sebuah pintu mengawali bahtera yang akan ia bangun. Namun kandas begitu saja dengan persoalan sepele.

“Yang namanya nikah itu ya serius.  Nikah kok kayak mainan”.

Kata mantan kakak ipar diseberang telpon dengan bersungut-sungut. Dadanya seolah lautan bergejolak yang akan tumpah kedaratan. Ia tidak tega melihat adeknya, seperti dipermainkan dengan pernikahan bersama Fadli.

“Pokoknya ceraikan adek saya”. Katanya lagi dengan tegas. Telpon langsung terputus.

Fadli menghela nafas berat. Ia pandang hp yang barusan ditutup dari seberang. Bercampur sudah perasaan dalam hatinya. Namun ada sebuah sedikit kelegaan hati. Dia kurang tertarik dengan akhwat yang baru beberapa minggu ia nikahi.

“kalo kita poligami atau cerai, gimana dek?” tanya Fadli saat dimalam pertama pernikahan. Entah reaksi apa yang ada didalam hati istrinya kala itu.  Semestinya malam yang bertabur keindahan untuk merayakan cinta tiap detiknya. Tapi harus terluka dengan pilihan “poligami dan cerai”.

Ah, mungkin bagi sang istri seperti cerita dalam dongeng saja. Atau cinta fantasi yang jauh dari realita. Tapi malam yang dirasakan memang benar adanya.

Dari situlah si istri mencium ada keanehan dalam rumah tangga yang akan dibangun. Namun si istri mencoba mengalihkan kepembicaraan lain. Ia tidak menyangka bahwa si Fadli, suaminya harus mengatakan sesuatu yang begitu menusuk dan merobek hatinya.

Dua bulan kemudian akhwat tersebut cerai atas desakan kakaknya.

“Malam pertama kok yang dibicarain cerai sama poligami, aneh bener”. Celetuk kakak akhwat kepada temannya. Ia merasa jengkel dengan kelakuan Fadli.

“Kenapa dia itu tidak bilang dari awal.  Kalau memang tidak suka bilang saja saat taaruf. Bukan bilangnya saat malam pertama.” emosinya makin tidak stabil. Terkadang sampai mengeluarkan kata-kata kotor.

Fadli kembali membujang sebagaimana sebelumnya. Hidup yang ia rasakan begitu sempit. Menghimpit dirinya setiap jengkal menit yang ia lalui. Dan ia menarik diri dari pergaulan sosial, khususnya kepada teman-teman sekelas dulu. Mungkin berjuta-juta rasa malu sudah menghantui dirinya.

Ia tidak mau teman-temannya tahu kalau dirinya telah bercerai. Kehidupannya semakin memburuk. Bahkan sampai mengganggu pekerjaannya, hingga ia terpaksa dipecat karena terbebani dengan masalah cerai.

Ia memilih bercerai setelah sebelumnya baru akan membangun bahtera yang siap berlayar. Terjadi goncangan hati lebih  dahsyat saat akhwat yang telah ia pilih itu ada kekurangan yang susah ia terima. Ia merasa tidak tenang, dan harus segera diselesaikan antara cerai atau poligami. Itulah cara terbaik yang ia miliki.

Sebagaimana ada seorang sohabiyah yang menikah beberapa hari. Namun hatinya kurang menerima. Lantas ia utarakan kepada rosulullah ketidak cocokan tersebut. Maka Rosulullah memberikan pilihan kepada akhwat itu, apakah mau minta dicerai atau melanjutkan nikahnya. Kemudian wanita itu memilih untuk diceraikan.

Namun, bukankah cinta adalah kata kerja yang harus diusahakan agar cinta itu berbuah dan saling menerima kekurangan sesama pasangan?

Bukankah cinta butuh pengorbanan keras agar kecocokan dan ketenangan itu turut hadir dalam bahtera yang siap dilepaskan dari pelabuhan hati?  

Ah, mungkin belum sama sekali terpikirkan oleh Fadli. Sehingga tak ada usaha untuk mencintai pasangannya  yang kemudian menerima kekurangan-kekurangan yang ada.

 

***

 

Tiga bulan kemudian dia sedang mempersiapkan pernikahan dengan salah satu akhwat dipinggiran kota. Hatinya seolah berbunga kembali. Kesalahan pada pernikahan pertama menjadi cambuk dirinya untuk mencari akhwat yang benar-benar cocok untuk dirinya. Tanpa lewat perantara, dia langsung menghubungi ibu dari akhwat itu. Sering sekali dia menghubungi ibu si akhwat tersebut untuk mengorek semua informasi tentang anaknya.

Ia sudah menjatuhkan pilihan. Saat itu dia akan menikah untuk kedua kalinya. Ia sangat berharap membangun rumah tangga akan terwujud dikemudian hari. Terbayang dengan keluarga sederhana, dengan anak-anak dari rahim pasangannya, menuju keluarga sakinah ma waddah warahmah.

Teman-teman lama yang tidak tahu kehidupannya, sengaja tidak ia undang dalam pernikahan tersebut. Ia tidak mau kalau temannya tahu ia menikah lagi. Padahal semua temannya sudah tahu bahwa dulunya ia pernah menikah. Tapi hanya sedikit teman yang tahu bahwa ia telah bercerai. Cukup segelintir teman saja yang diundang ke acara pernikahannya. Itupun kaget bukan main jika Fadli menikah, lalu bercerai, dan akan menikah lagi.

Itulah pilihan dirinya. Teman-temannya menganggap dirinya adalah orang yang berilmu. Diantara teman sekelas, dialah yang paling pintar dalam masalah agama. Jadi tentu teman-temannya yang mengetahui kabar bahwa ia cerai, seakan tidak percaya. Tidak mungkin Fadli cerai. Dia bisa bijak dalam menghadapi masalah pernikahan. Maka kata cerai seolah kata hal yang mustahil untuk seorang Fadli.

Namun kenyataan menjawab itu semua. Fakta membuka tabir dirinya. Sebagian teman yang tahu masalah dirinya mengganggap Fadli orang aneh. Segudang ilmu seolah terhempas. Tidak tersisa sedikitpun pada dirinya untuk diamalkan. Terlalu memasang kriteria terlalu tinggi. Itulah yang terlihat saat dirinya meminta bantuan kepada salah seorang teman.

“Tolong carikan akhwat ya. Yang cantik, sholehah,  putih, tinggi, kaya, manis”.

Ujar Fadli suatu hari.

"Eh Fadli, kalo saya dapet akhwat sesempurna itu, mending untuk ane. Bukan untuk ente. Karena cari kayak gitu ibarat nunggu bidadari yang jatuh dari langit. gak akan dapet". Kata temannya yang biasa dipanggil Aziz. Suara dari seberang handphone itu sedikit menyolot. Aziz menyayangkan sikap Fadli dalam mencari pasangan hidup yang penuh kriteria.

"kalo pun ada, kemungkinan seribu satu. Toh meski tetep mau nyari, mending mati aja dulu. Baru nanti kalo memang taqdirnya masuk syurga, otomatis ketemu sama bidadari. Sekarang mah mana mungkin dapet akhwat sesempurna itu." Lanjut Aziz. Fadli hanya cengengesan. Namun dalam hatinya tumbuh rasa ragu. Apa iya akhwat seperti itu langka ditemukan.

"Entahlah". Kata Fadli dalam hati.

Dalam ilmu yang lain, seperti teori fiqih, aqidah, dan wawasan Islam memang Fadli begitu menguasai. Namun jika ilmu mengenai pernikahan, Fadli kurang begitu paham. Dalam pernikahan justru nanti dari kedua belah pihak bisa saling menyempurnakan.  Artinya, dari sama-sama memiliki kekurangan, kedepannya bisa saling melengkapi.

Memasang kriteria tinggi seperti Fadli akan menyusahkan diri sendiri. Semakin lama kemungkinan besar seluruh akhwat akan menjauh dari ikhwan yang memperketat kriteria semacam itu. Orang-orang pun menilai dengan sebelah mata. Alangkah hinanya mencari kesempurnaan. Namun bila mencari pendamping hidup dengan tujuan membangun sebuah keluarga, disitulah kesempurnaan akan berusaha dibentuk. Bukan dengan mencari kesempurnaan baru membangun keluarga.

Fadli telah resmi menikah kedua kalinya dengan akhwat pilihannya yang masih muda belia. Baru lulus Aliyah. Wajah Fadli nampak berseri-seri dengan pernikahan tersebut. Serasa hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Setiap detik dan menit dilaluinya tanpa sedih, galau dan guratan kehampaan tidak sebagaimana setelah perceraian waktu lalu. Saat itu dia akan memulai lembaran baru kisah bahtera yang siap lepas dari pelabuhan. Lautan masih tenang. Sebab masih baru memulai. Belum saling tahu sifat masing-masing. Mungkin itulah yang belum disadari oleh Fadli.

Suatu saat, pasti menemui badai yang menjadi ujian dalam bahtera rumah tangga.

“Ada apa? Udah nanti aja, assalamu alaikum.” Fadli menutup handphone. Wajahnya masam, sedikit kesal dengan sikap sang istri dari seberang telepon. Dia merasa istrinya egois. Setiap beberapa jam Fadli pergi, selalu ditanya. Baik kabar keadaannya, sedang melakukan apa, dimana keberadaannya, dan apa saja sampai membuat Fadli bosan dengan rentetan pertanyaan itu.

Bukankah itu tanda bahwa sang istri perhatian kepada Fadli? Bukankah itu bukti ada cinta dihati pasangannya?

Perhatian yang besar akan lahir dari rasa cinta yang tinggi. Dan cinta di ekspresikan oleh wanita yang baru menikah dengan bentuk pertanyaan-pertanyaan saat orang yang dicintai tidak ada dihadapannya. Tinggal bagaimana sikap sang suami dalam menghadapi hal itu agar si istri mengerti pasangannya saat bekerja. Sehingga nantinya tidak mengganggu rutinitas kerja suami.

Kegembiraan pada muka Fadli semakin mengendur. Tidak seperti diawal-awal ia menikah. Terkadang jika malam ahad banyak ia habiskan bersama temannya. Bahkan sering sekali menginap di rumah Aziz dan teman kuliah lainnya yang saat itu mengontrak, dari pada meluangkan waktu liburan bersama sang istri.

“Fadli, mana istrinya, kok gak malming sama istri? Kasian lo sendirian di rumah...hahaha!” goda Aziz bersama temannya, Arif.

Malam itu Fadli mampir disalah satu warung yang ditunggu Aziz dan Arif dalam acara pasar malam. Aziz sedikit tertawa sambil memandang Fadli yang hanya sendiri sambil memencet tombol handphone. Arif pun yang sedang membantu di warung Aziz tersenyum kecut. Wajah Fadli hanya memandang monitor layar kecil handphonenya saja. Ia tidak mau berkomentar satu patah katapun dari candaan Aziz dan Arif itu.

Pernikahan Fadli masuk 1 bulan. Namun masalah-masalah itu telah nampak, walaupun ia menyembunyikan dengan rapih. Ia tidak mau terlihat ada yang tahu lagi kalau dirinya punya masalah dengan istri dari pernikahan yang kedua. Sebab, dari perceraian yang pertama saja sudah dianggap aneh oleh teman-temannya. Teman yang sudah nikah saja bisa terus langgeng hubungan nikahnya. Tapi kok Fadli tidak.

Alasannya memutuskan untuk cerai pada pernikahan yang pertama karena mengikuti perintah sang mantan ipar. Dan Fadli pun dulu tidak berjuang mempertahankan pernikahannya. Langsung memutuskan kalau akhwat pilihannya kurang cocok.

Aziz dan Arif telah mencium aroma ke tidak harmonisan pernikahan Fadli. Sebab tak ada satupun curhat atau sharing. Padahal mereka berdua termasuk sahabat yang cukup dekat.

 Terlebih Aziz dan Arif masing-masing telah berkeluarga, yang tentunya pernah mengalami masa-masa kritis dalam pernikahan dan bagaimana mencari jalan keluarnya.
 Namun Fadli hanya curhat pada saudaranya di dunia maya.

“Saya kurang cocok mbak sama istri saya. dia egois bener orangnya.”

“Mau cari yang lain lagi, Fadli?”
“Iya mbak, saya juga mau cari kerja di tempat lain. Mungkin gak di Jakarta lagi. Saya mau pindah ke Jawa Tengah. Biar temen-temen gak ada yang tahu masalah saya.”


“Ya, mbak cuma nyaranin ke Fadli, cinta itu butuh pengorbanan dan harus ada usaha untuk selalu cinta kepasangannya. Adanya kekurangan dalam pasangan itu wajar. Kita yang harus nerima kekurangan itu sambil memperbaiki kesalahan dan mengajarkan yang baik. Tapi kalo itu udah pilihan kamu, bahkan memutuskan pergi biar temen-temen kamu gak pada tau masalahmu....ya mbak gak bisa ngelarang. Tapi Mbak cuma pengen kamu ngerti satu hal. Cinta itu kata kerja. Jadi harus diusahakan.”

Chat berhenti. Fadli semakin gundah dengan nasehat mbaknya yang berada di seberang Sumatera. Perjalanan pernikahan yang baru seumur jagung ini sudah goyah. Fadli memutuskan untuk mundur dan kembali ke dermaga seperti sebelumnya. Dia kembali untuk mencari kapal lagi yang cocok baginya. Dia telah bulat akan pergi dari kehidupan Jakarta dan memulai hidup baru. Mungkin dengan pasangan barunya nanti.

Dia membuat alasan kepada saudaranya yang tahu persis seluk beluk masalah Fadli, bahwa akhwat yang akan dia cerai adalah akhwat yang suka menjelek-jelekkan gurunya. Bahkan merendahkan suaminya sendiri. Itulah alasan terkuat kenapa dia bercerai.

Sebenarnya sejak pertama kali ingin menikahi akhwat yang kedua ini, adalah sekaligus merubah pemahamannya yang sedikit berseberangan dengan pemahaman Islam yang dipahami Fadli. Akan ia luruskan semua kesalahan dan kesalahpahaman istrinya. Tapi  menurutnya terlalu berat diluruskan, akhirnya dia memutuskan untuk mundur.
Memang dari segi face dan postur tubuh masuk kriteria yang dicari Fadli. Tapi sayangnya dia hanya mementingkan segi fisik belaka. Sebelumnya tidak mencari tahu terlebih dahulu lewat saudara-saudara dan teman akhwat tersebut mengenai sifat dan perangainya.

 

   ***

 


Perceraian kedua telai usai. Tidak ada satupun teman dan saudaranya yang tahu. Kecuali hanya seorang saudaranya saja. Fadli telah pindah kerja dan tinggal di Jawa tengah. Di sebuah gubuk kecil di pinggiran kota. Ia termenung memandang kosong pemandangan indah dihadapannya. Pemandangan didepannya terlalu indah dari pada kehidupan rumah tangganya. Dua kali menikah, dan dua kali bercerai, terlalu dini untuk seorang yang umurnya masih 27 tahun. Namun, tidak semua perceraian adalah solusi akhir dari permasalahan. Selayaknya menutup rapat pintu solusi cerai jika masalahnya tidak begitu besar.

Fadli terpekur, mengamati jejak terjangnya selama ini. Betapa aneh dirinya. Sebagai penyempurna agama baginya telah hilang dua kali. Pengalaman pahit itu jadi cambukan keras untuknya. Kedepannya ia semakin hati-hati dan tidak memasang kriteria begitu tinggi dalam mencari jodoh. Ia begitu teringat dengan nasehat mbaknya saat curhat dulu, “Cinta itu butuh pengorbanan dan harus ada usaha untuk selalu cinta kepasangannya. Adanya kekurangan dalam pasangan itu wajar aja. Kita yang harus menerima kekurangan itu sambil memperbaiki kesalahan dan mengajarkan yang baik”.

Fadli menatap langit-langit depan gubug. Hatinya bergemuruh. Dadanya sedikit sesak. 
"Ya Allah, buka kan hati hambamu ini, untuk mudah menerima kekurangan yang ada".
Lirih Fadli penuh sesal.
 

 

  • view 183