Kita Bukan Juri Niat

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 20 Desember 2016
Kita Bukan Juri Niat

Pada suatu peperangan di zaman Rosul, ada salah satu sahabat membunuh orang kafir meski telah mengucapkan kalimat Syahadat. Sahabat itu bernama Usamah bin Zaid. Sempat Usamah terhenti sejenak saat mendengar orang kafir itu mengatakan kalimat syahadat. Namun dia beranggapan bahwa hal itu adalah tipu daya, agar lepas dari pembunuhan.

Lantas sahabat yang juga sebagai cucu angkat  kesayangan Rosul itupun membunuhnya. Kabar pembunuhan itu terdengar sampai kepada Rosulullah.

Sesampainya di Madinah Rosulullah bertanya kepada Usamah. “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan Lailaha illallallah?”

“Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”. Jawab Usamah bin Zaid.

Lalu nabi bertanya lagi, 

أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا

“Kenapa engkau tidak membelah dadanya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlash ataukah karena alasan lainnya?”

“Beliau terus-menerus mengulang pertanyaan itu kepada saya sehingga saya berharap andai saja saya baru masuk Islam pada hari itu.” (HR. Bukhari: Kitab ad-diyat no. 6872 dan Muslim: Kitab al-iman no. 96).

Itulah teguran Nabi yang keras kepada Usamah atas tindakannya yang membunuh  salah seorang kafir setelah mengucapkan kalimat syahadat. Usamah dianggap tahu isi hati orang kafir yang dibunuhnya. Sehingga Nabi menyuruh membelah dadanya agar tahu isi hati orang kafir tersebut.

Pelajaran dari kisah ini sangat berharga bagi kita, bahwa manusia tidak ada hak untuk menilai niat seseorang. Karena perkara niat adalah Allah yang menilainya. Niat letaknya dalam hati manusia. Jadi mana mungkin manusia tahu sesuatu yang ada dalam hati. Baik buruknya niat seseorang Allah yang akan membalasnya.

Sosmed dan Ibadah

Teknologi yang terus berkembang, sebenarnya menjadi pendukung untuk memudahkan tersebarnya suatu ibadah ke media sosial. Membaca Al-Qur’an satu atau dua juz, dibuat status. Ibadah rutin kemasjid diunggah fotonya dilaman sosial. Sedekah kefakir miskin menjadi status hangat di sosialnya. Saat menunaikan ibadah haji tidak lupa selfie dan diunggah ke sosmed.

Itulah fenomena hari ini. Hingga terkadang sebagian muslim tidak tahan untuk mengomentari itu semua dengan nada miring. Langsung menilai hal itu sebenarnya telah terjerumus pada riya’, pamer ibadah ke orang lain. Atau ingin dapat pujian manusia.

Sebenarnya saat kita menganggap mereka riya’, atau sum’ah (ingin didengar orang lain) tanpa sengaja kita menilai niat mereka. Seolah kita tahu isi hati mereka. Tapi bukankah niat seseorang baik atau buruk bisa dilihat dari perilakunya? Memang. Memang ada yang mengatakan seperti itu. Karena terkadang niat akan memancarkan pada kelakuan tubuh. 

Namun alangkah baiknya kita tidak usah mengurusi orang mengenai niat-niat mereka. Biarlah mereka memposting semua ibadah ke media sosial. Kita doakan semoga mereka niatnya ikhlas, bukan yang tidak-tidak. Dan siapa tahu ibadah mereka yang diumbar di jejaring sosial tersebut bisa memberi semangat yang lain untuk beramal. Bisa jadi saat mereka memposting ibadah mereka, ada orang lain terpacu untuk melakukan ibadah dengan lebih giat.

Mari Berhusnudzhan

Dengan husnudzhan (berprasangka baik) lebih menyelamatkan kita. Sehingga akhirnya kitapun tidak termasuk orang yang sibuk menilai orang lain. Sedangkan amalan dan niat kitapun masih belum baik. Sangat jauh dibilang banyak dan berkwalitas. Meski telah berlapis-lapis amalan yang kita lakukan, tidak ada satupun manusia yang tahu bahwa Allah menerima amalan hambanya. Bahkan tidak ada jaminan satupun jika  amalan kita diterima oleh-Nya.
Maka alangkah baiknya setiap kita terus menyibukkan diri dalam ibadah. Selalu peka terhadap amalan pribadi dan tidak mau ambil urusan terhadap amalan pribadi orang lain. Karena setiap manusia akan mendapat ganjaran sesuai apa yang diusahakan.

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى 

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Kalau memang kita ingin meluruskan atau menasehati orang tersebut, maka  itu lebih baik. Siapa tahu dia mau berubah, dan menjadikan banyak amal yang disembunyikan. Karena amal yang disembunyikan lebih selamat dari Riya’ dan sum’ah. (Namun tidak berlaku untuk amalan yang seharusnya memang ditampakkan).

Semoga kita dijauhkan dari sifat riya’ dan sum’ah, serta penyakit hati lainnya yang mampu menghanguskan amalan ibadah kita semua.

 

 

  • view 262