Mutualisme Antara Membaca Dan Menulis

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 Desember 2016
Mutualisme Antara Membaca Dan Menulis

Membaca dan menulis adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Ibarat koin. Tidak  bisa diabaikan dari salah satunya. Para penulis besar lahir dari tumpukan buku yang mereka “konsumsi” dan tajamnya intuisi. Memilih diksi, gaya tulisan, ketepatan dalam menyimpulkan, keberhasilan membawa emosi pembaca, tidak akan didapat tanpa diawali dari membaca dan menulis.

Setiap penulis terkenal, pasti memiliki gaya tulisan yang berbeda. Terkadang gaya itu sampai seolah melanggar EYD (ejaan yang disempurnakan). Tapi saat melihat keindahan dalam tulisannya, ternyata hal itu sah-sah saja dilakukan.

“Membaca adalah kuliahnya penulis.” Kata Asma Nadia. Mau dipisah bagaimana pun aktifitas membaca tidak lepas dari penulis. Pembentukan karakter gaya yang berbeda dari setiap penulis, pasti melalui proses latihan yang panjang. Membaca adalah termasuk bagian penting untuk membentuk karakter tersebut. Sebab dari membaca, bisa merekam seluruh komponen gaya penulis dalam mempermainkan diksi, dan kelincahan mereka dalam menyusun alur cerita. Hingga membangun kepuasan setelah membacanya. Sadar atau tidak, efek positif dari membaca bagi penulis adalah akan menambah gudang kosakata yang nantinya menjadi kaya dalam bermain kata ditiap tulisannya.

Kita menolak lupa, bahwa tradisi membaca dan menulis telah lama ada. Lihatlah sisa-sisa buku yang mampu kembali membangun pemerintahan atas dasar Islam di Turki, Daulah Utsmaniyah. Padahal sebelumnya di Baghdad  ada ribuan buku dibakar dan  sebagiannya dimasukkan kesungai hingga mampu menjadi jembatan. Bahkan air yang awalnya jernih, menjadi warna tinta. Namun sisa buku-buku tersebut mampu menjadi salah satu bagian motivasi dalam mengembalikan peradaban yang sempat redup.

Aktifitas membaca dan menulis pada peradaban Islam mulai digerakkan secara massif pada Dinasti Umawiyah.  Dan pada masa Abbasiyah segala bentuk literatur dirapihkan. 

Sebagaimana yang disebutkan dalam buku Dinasti Abbasiyah karangan DR. Yusuf Al-Isy, maka banyak ditemukan pada masa itu percetakan dan penerbitan buku. Sebanyak apa karya dari budaya tulis menulis saat itu?

Seorang ilmuan yang hidup pada abad 8 hijriyah pernah menemukan salah satu buku muridnya pada jilid ke 26. Dilihat dalam buku itu isinya hanya terdapat daftar nama penulis besarta judul dan tanggal wafat penulisnya. Tebal buku tersebut kurang lebih 800 halaman. Dalam buku itu dilihat ada kurang lebih 16 ribu nama penulis. Ingat, itu baru satu jilid buku pada jilid ke 26. Anggap saja setiap jilid ada 16 ribu nama dan pengarangnya, maka jika dihitung semua dari 1-26 jilid, totalnya kurang lebih 416.000 nama buku dan pengarangnya. Subhanallah.

Karya yang sangat banyak dan membuat decak kagum diatas, menunjukan aktifitas tulis-menulis pada zaman keemasan Islam merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan mereka. Lantas apa kaitannya dengan membaca? Karena tanpa adanya membaca, ribuan buku itu tidak akan lahir. Membaca bukan hanya membaca buku. Tapi bisa juga “membaca” keadaan sekitar. Segala hal kondisi mampu melahirkan ide yang nantinya dituangkan dalam bentuk tulisan.

Maka bagi orang yang tidak pernah membaca, tidak akan punya amunisi untuk menulis. Dan menulis tanpa membaca ibarat perang tanpa senjata”.

Semestinya bila kita mau menengok sejarah, peradaban dimana Islam pernah gemilang, tentu kita menemukan semangat yang luar biasa untuk tidak berhenti membaca, mengamati dan menulis kapan saja dan dimana saja. Keterampilan membaca buku dan  membaca keadaan sekitar sangat membantu menelurkan ide yang brilian. Para penulis hebat mampu membaca peristiwa yang ada disekitar menjadi ide sebuah tulisan. Contoh kecilnya seperti penulis lokal.

Kisah kehidupan dipesantren 6 santri dari 6 daerah yang memiliki tekad tinggi,  berubah menjadi ide. Dan lahirlah novel Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi.

Kehidupan 10 anak yang berlatar belakang dari keluarga miskin, yang berjuang dalam satu atap sekolah dasar Muhammadiyah dengan segala keterbatasan, menjadi ide oleh Andrea Hinata. Maka lahirlah Novel Laskar Pelangi.

Sebuah musibah besar yang merenggut banyak nyawa di Aceh, tak terkecuali menimpa seorang gadis kecil.yang periang, menjadi ide tersendiri oleh Tere Liye. Maka lahirlah novel “Hafalan Shalat Delisa”.

Jadi kekuatan membaca mampu melahirkan ide tulisan. Dan energi sebuah tulisan akan terus ada selama tidak berhenti membaca. Membaca buku-buku literatur klasik maupun modern, dan “membaca” keadaan sekitar dengan cerdas. Maka membaca dan menulis adalah suatu  mutualisme yang tidak pernah pudar. Saling menguntungkan selalu muncul sepanjang tidak diabaikan salah satunya.

 

  • view 283

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    11 bulan yang lalu.
    masih curious soal pembakaran isi perpus baitul hikmah (bener gak ya namanya?)
    padahal dari buku2 itu orang2 Barat banyak juga yang mempelajari. tapi mereka tega memusnahkan naskah2 aslinya
    next bisa ditulisin soal ini, kak? #maksa

    • Lihat 1 Respon