Kekuatan Dibalik Boikot

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 08 Desember 2016
Kekuatan Dibalik Boikot

Sebutan kata boikot akhir-akhir ini menjadi viral di media. Berawal dari Metro TV yang selalu membuat panas umat Islam saat mendengar berita-beritanya.  Pada saat aksi damai II wartawan metro TV sudah nongkrong di TKP. Akhirnya diusir oleh peserta aksi. Hal itu tidak berhenti di dunia nyata. Ajakan boikot Metro TV dari channel TV mulai tersebar di dunia maya. Sebab konten berita yang dihasilkan sangat banyak sekali yang menyudutkan Islam. Objektifitas media telah hilang. Kontennya pun selalu bersebrangan dengan fakta.

Hingga hari ini seruan boikot metro TV terus menyebar. Bahkan petisi boikotnya tembus  84.289 dukungan.

Penggunaan kata boikot ini semakin melebar. Kini pihak mana saja yang terkesan membela, baik dengan pernyataan ataupun sekedar iklan yang menunjukkan dukungan kepada penista, maka boikot akan terjadi.

Sebelumnya perusahaan yang terkena boikot sebagian masyarakat Jabodetabek adalah Perusahaan Grab bike. Sebab pernyataan dari akun resminya di twitter ada kesan keberpihakan pada Ahok.

Selanjutnya yang terbaru dan terhangat adalah seruan boikot Sari roti. Bermula dari klarifikasi kepala sari roti mengenai para karyawannya yang menggratiskan dagangannya untuk aksi 212. Diduga kemungkinan adanya klarifikasi itu ingin mengambil jalan netral. Tapi sebenarnya salah langkah. Kemudian klarifikasi yang diposting dalam website resminya itu telah menyebar ke media sosial. Kemudian disimpulkan netizen bahwa klarifikasi tersebut terkesan memojokkan aksi super damai 212.

“Justru adanya klarifikasi bahwa sari roti tidak ikut politik”, kata seorang pebisnis dan CEO keke busana, Hendry Saputra, “ malah menyeret Sari Roti pada isu yang tidak seharusnya dimasuki.”

Bambang Sumaryanto, praktisi humas korporasi mengatakan dalam situs mix.co.id, pernyataan klarifikasi sari roti,  “tidak terlibat kegiatan politik apapun” justru terkesan keberpihakan. Padahal aksi super damai 212 tidak ditunggangi tokoh politik yang berafiliasi ke partai politik tertentu. Dari klarifikasi itu pula sari roti diyakini melakukan ‘judgement’ bahwa aksi damai 212 adalah aksi politik.

Tidak hanya itu, kutipan klarifikasi yang berbunyi“....senantiasa berkomitmen menjaga nasinalisme, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tuggal Ika…” berarti aksi super damai jum’at lalu dianggap tak sejalan dengan nasinalisme, keutuhan negara dan Bhinneka Tuggal Ika.

Kita husnudzhan saja. Mungkin kepala perusahaan sari roti sedang ditekan sebagaimana perusahaan bis yang saat itu akan memberangkatkan pejuang Aksi 212 ke Jakarta.

Melakukan aksi boikot di nusantara sudah menjadi senjata yang cukup ampuh. Sebab dari segi jumlah konsumtif produk dalam negeri begitu banyak. Dan jelas mayoritas muslimlah para konsumtif terbanyak. Sehingga bila gerakan boikot ini serempak mengenai target sebuah perusahaan yang berkesan membela seseorang, hal itu sudah cukup menggertak dan mematikan langkah mereka. Selanjutnya mungkin mereka akan berfikir ulang untuk tidak gegabah dalam bersikap.

Maka, perusahaan-perusahaan yang produknya telah menjadi bagian konsumsi masyarakat Indonesia, selayaknya perlu menimbang ulang bila akan memberikan pernyataan ataupun klarifikasi yang berbau politik. Sebab ditengah isu panas hari ini, klarifikasi yang kontroversi rentan menyinggung hati masyarakat Indonesia yang mayoritas umat Islam. Bila hal itu tetap terjadi, jangan salahkan isu boikot akan terus menggema seantero nusantara. Dan sangat mungkin perusahaan gulung tikar karena konsumen berpindah ke lain produk.

 

  • view 199