Aksi Super Damai 212, Panggilan Hati Demi Mengetuk Langit

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 05 Desember 2016
Aksi Super Damai 212, Panggilan Hati Demi Mengetuk Langit

 

Peristiwa yang menjadi ukiran emas sejarah terbesar bagi umat Islam Indonesia

Peristiwa yang menggetarkan musuh-musuh Allah

Peristiwa yang menyatukan hati seluruh kaum muslimin

Peristiwa sebagai reuni akbar umat Islam demi tegaknya keadilan

Umat Islam berbondong-bondong datang dari pelosok negeri dengan beraneka suku memenuhi monas dan jalan sekitarnya. Biarlah ada perbedaan tapi satu dalam pembelaan. Aksi super Damai 212 meruntuhkan keangkuhan hegemoni kafir yang selama ini mencengkeram kuat atas masyarakat Islam. Mereka kebakaran jenggot menghadapi gelombang besar yang membanjiri menara monumen di Ibukota.

Namun, tetap mereka tidak tinggal diam menghalangi dengan berbagai upaya agar aksi gagal. Minimal berkurangnya peserta aksi. Tapi masyarakat tidak bisa dibohongi terus menerus dengan berbagai lagu lama. Masyarakat semakin cerdas kemana mereka harus berpihak.

Wahai penghalang kebenaran. Tidak takutkah kalian pada hari pembalasan? Dimana semua perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban?

Kemana pembelaan kalian terhadap Al-Qur’an, Padahal kalian dimuliakan dengan Al-Qur’an?

Mau jawab apa saat ditanya oleh penjaga kubur tentang Al-Qur’an, sedangkan kalian tidak membela saat di Dunia?

Hati ini bergetar menyaksikan peserta aksi super damai yang tidak semua sehat dan kuat fisik. Ada orang tua renta menggunakan kursi roda. Ada cacat kaki yang mengharuskan berjalan menggunakan kedua tangan. Ada yang menggunakan tongkat bantuan. Bahkan ada pula yang buta, dituntun dengan tongkat penunjuknya. Apapun cacat mereka, tidak menghalangi untuk menjawab panggilan suci.

Justru kita harus iri kepada mereka yang memiliki cacat fisik. Karena bisa jadi cacat fisik yang mereka derita menjadi saksi akan perjuangan berat menempuh demi pembelaan atas Qur’an.

Patung monumen nasional menjadi saksi bisu akan hadirnya jutaan muslim yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Saat itu, umat Islam menyerahkan diri semuanya kepada Sang pengatur alam semesta dan penguasa jagad raya, setelah usaha maksimal membela kitab-Nya. Menuntut keadilan yang tumpul ke atas dan runcing ke bawah pada pemerintah tidak pernah bersambut. Hanya merasakan pahit yang terus menyesakkan dada. Maka, melalui perantara aksi super damai umat Islam mengetuk pintu langit agar pertolongan turun. Memohon diturunkan ganjaran yang setimpal atas penistaan Al-Qur’an.

Tak lama setelah itu, hujan yang penuh rahmatpun mulai membasahi jutaan peserta. Mungkin ini menjadi perwakilan akan jawaban dari-Nya, bahwa ketenangan dan rahmat diturunkan kepada hamba pembela kitab-Nya.

“Sesungguhnya Allah manjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk membersihkanmu. Karena dengan air hujan itu, Allah Swt. menghilangkan gangguan syetan darimu dan menguatkan hatimu serta memperteguh  kedudukanmu.” (Q.S.Al Anfal:11)

Tetes demi tetes terus berlanjut, kemudian menjadi deras. Satu hal yang menarik dalam pemandangan itu, tidak satupun aksi menghindari hujan yang turun sebagai rahmat. Peserta aksi membiarkan air hujan itu membasahi seluruh pakaian.

Banyak yang merasakan bahwa tetesan dari langit membawa ketenangan yang tidak terkira. Semuanya berlangsung khidmat akan do’a yang dipanjatkan saat qunut Nazilah. Derasnya hujan menambah kekhusyuan tiada banding. Bahkan jiwa ini sampai mengandai, “andai setiap do’a merasakan khus’yu seperti itu, alangkah beruntungnya hati ini”..

Rasa haru terus mendera jiwa tanpa henti saat lantunan do’a Istighotsah menggema memenuhi atmosfir. Tidak pernah terbayangkan bila hari itu termasuk bagian dari lautan manusia. Mungkin tidak berpengaruh apa-apa tanpa ketiadaan manusia kerdil ini. Tapi dengan hadir ketengah aksi, setidaknya menjadi perbedaan kepada siapa diri ini berpihak.

Aksi super damai tidak membenci NKRI

Aksi super damai tidak membenci kedamaian

Aksi super damai tidak membenci persatuan

Aksi super damai tidak membenci bhinneka tunggal Ika

Aksi damai tergerak menuntut sebuah keadilan yang seakan terancam punah di negeri pertiwi

Biarlah musuh Allah menganggap Aksi ini pemecah belah bangsa

Biarlah Musuh Allah mengira aksi ini memunculkan bibit kebencian

Biarlah, biarlah mereka beranggapan negatif terhadap umat Islam

Karena kami terbiasa dengan tuduhan buruk yang mereka lemparkan tanpa bukti

Kami umat Islam akan terus bersatu dan satu kata bila kitab suci dinodai oleh para penista. Meski nyawa sebagai taruhannya, umat akan membela sampai darah titik penghabisan.

 #Salam_Semut_Ibrahim

 

  • view 136