Iblis Berkhutbah

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 03 Desember 2016
Iblis Berkhutbah

 

 Tidak ada manusia yang lepas dari godaan syetan. Semua godaan itu bermuara dari satu sumber, yaitu Iblis laknatullah alaihi. Saat Iblis diusir dari syurga, dia berjanji akan menggoda bani adam dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia mengerahkan bala tentaranya untuk mengoda dari arah kanan, kiri, belakang dan depan.
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).'” (QS. Al A’raf : 16-17).
Digoda dari arah depan, kata Ibnu Abbas, artinya dibuat ragu terhadap akherat. Digoda dari belakang maksudnya agar tertarik kepada dunia dan perhiasannya. Digoda dari kiri artinya dibuat senang melakukan maksiat. Dan digoda dari arah kanan dibuat samar-samar dalam urusan kebaikan. Melakukan kebaikan tapi ingin dipuji dan niatnya bukan untuk Allah.
Tidak satu detikpun syetan membiarkan manusia untuk tidak digoda. Sedikit saja manusia lengah, maka dengan mudah menjadi target godaannya. Dia akan mengumpulkan sebanyak-banyaknya pengikut  untuk menemaninya di neraka kelak.
Namun apa yang dilakukan saat didunia, akan ia akui seluruhnya melalui khutbahnya.
 
Khutbah Iblis ini akan berlangsung ketika urusan hisab telah usai. Para penghuni syurga telah berada di syurga, dan penghuni neraka telah berada di neraka. Kemudian Iblis berdiri diatas mimbar dari api dan memulai khutbahnya dihadapan seluruh para penghuni neraka.
Iblis berkata dalam khutbahnya:
"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". (QS. Ibrahim: 22).
 
Mengenai ayat diatas, kata salah seorang ahli tafsir terkemuka, Imam Ibnu Katsir, Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya. Yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan…." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489)
 
Dari khutbah iblis diatas, ada 5 poin pernyataannya yang menjadi pelajaran untuk kita.
 
Pertama: Janji Allah selalu benar, janji Iblis tidak pernah ditepati
Iblis mengakui bahwa janjinya tidak pernah ditepati. Dan janji Allah selalu ditepati. Tapi anehnya banyak sekali manusia yang termakan oleh rayuan dan janji manis Iblis. Contoh kecilnya dia menakut-nakuti manusia menjadi miskin kalau bersedekah. Padahal Allah berjanji akan melipat gandakan bagi yang bersedekah. Akhirnya tidak sedikit yang mengiyakan ajakan iblis. Wal hasil kita jarang menemukan orang bersedekah. Padahal balasan sedekah sudah jelas. Janji Allah tidak pernah meleset. Hanya terkadang sifat manusia ingin segera mendapat balasan. Biasanya langsung memvonis kalau Allah tidak menepati janjinya. Padahal yang harus dilakukan adalah cukup dengan sabar, sembari selalu berbaik sangka kepada Allah Ta'ala.
 
Kedua: Iblis Tidak Memiliki Kuasa Atas Manusia
Iblis tidak bisa menguasai manusia. Artinya tidak punya hak mutlak mengendalikan manusia. Tapi manusialah yang seolah menyerahkan diri pada dekapan Iblis dengan menerima semua arahannya. Padahal si Iblis sekedar mengajak untuk diikuti. Tidak ada sangsi apapun kalau melanggar ajakannya. Sayangnya karena begitu lemah hati seseorang, mudah sekali terperangkap akan jebakan rayuannya. Malah parahnya ada yang sampai menjadikan Iblis sebagai teman.
 
“Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.”
(An-Nisa’ 38)
Manusia mulai menjadikan syetan sebagai teman saat lupa kepada Allah. Akibatnya hatinya menjadi kosong. Lalu syetan datang mengisi hatinya.
“Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (al-Quran), Kami Biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.” (Az-Zukhruf 36)
 
Jadi, manusia yang mudah sekali dikuasai oleh Iblis adalah manusia yang sangat lemah hatinya. Godaan demi godaan darinya yang telah membuat manusia terlena, di neraka nanti sang iblis tidak akan bertanggung jawab. Meski janjinya dulu akan menjadi penolong dan pelindung, itu semua hanyalah ilusi. Karena Iblis mengingkari janjinya. Ia cuci tangan dari semua usahanya dulu di dunia. Godaan-godaan itu sejatinya agar banyak pengikutnya ke neraka.
 
Ketiga: Cercalah Diri Sendiri, Jangan Mencerca Iblis
Mungkin ini menjadi tabiat manusia. Yaitu saat tertipu oleh seseorang, maka dia langsung mencerca dan menghardik orang yang menipunya. Ungkapan rasa jengkelnya itu dituangkan melalui hardikan. Tapi ketika di neraka nanti, Iblis menyampaikan kepada para korban rayuan, agar tidak mencercanya. Memang dia tidak pernah berhenti sedetikpun untuk menggoda manusia. Tapi alangkah bodohnya manusia mau menuruti godaannya.
 
Dari perkataan Iblis“Janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri” seakan menunjukkan kalau dia tidak dalam posisi yang salah saat penghuni neraka mencercanya. Justru menurutnya para pengikutnyalah yang salah, kenapa mudah sekali tergoda oleh rayuannya. Oleh karenanya lebih baik cercaan itu diarahkan kepada masing-masing, jangan mengarahkan cercaan itu kepada Iblis.
 
keempat: Iblis Tidak Dapat Menolong Manusia, Dan Manusia Tidak Dapat Menolong Iblis
Di akherat hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memberi pertolongan kepada orang lain. Itupun orang yang masuk syurga dan memiliki keutamaan dari amal shalih. Orang yang berada di neraka bisa dipastikan tidak akan dapat memberi pertolongan kepada sesamanya. Mereka saja sama-sama disiksa, bagaimana mau menolong yang lainnya.
Terlebih Iblis. Raja dari keburukan yang menghembuskan godaannya keseluruh manusia melalui prajurit-prajuritnya. Mustahil bisa memberi pertolongan kepada pengikutnya. Mereka sama-sama merasakan siksaan yang tidak berhenti selamanya. Naudzhubillah mindzalik.
 
Kelima: Iblis Tidak Membenarkan Perbuatan Manusia Mempersekutukan Allah
Diantara godaan Iblis terbesar adalah menggoda manusia agar berbuat syirik. Godaan ini disebutkan oleh Imam Ibnu Qoyyim sebagai godaan paling akhir kepada manusia. Karena bila seorang muslim langsung disuruh untuk menyembah selain Allah, banyak dari mereka yang menolak. Maka dari itu syetan memiliki strategi dengan menyusun tahapan demi tahapan. Dia menggoda dari rayuan yang tidak ada dosa, tapi melakukan nya secara berlebihan. Kemudian berlanjut pada amalan yang mengandung dosa kecil. Hingga tak terasa jika sudah dikendalikan akan digoda untuk berbuat syirik.
Secara nyata sebenarnya Iblis benar-benar mengetahui bahwa tidak ada kekuatan yang maha besar kecuali Allah. Tidak ada yang bisa memberi keburukan dan kebaikan kecuali atas kehendak-Nya. Namun karena telah berpegang teguh atas janji kepada Allah untuk menyesatkan manusia, maka segala godaan ia kerahkan. Jika manusia telah mempersekutukan Allah dengan yang lainnya, merupakan keberhasilan yang besar baginya. Sebab pelakunya akan kekal di Neraka. Itu berarti akan setia menemani Iblis disana selamanya.
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa’: 48). Juga firman-Nya yang artinya, “Barangsiapa yang mensekutukan Allah, pasti Alloh haramkan atasnya untuk masuk surga. Dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang dhalim ini seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72).
 
Dari khutbah diatas, maka jangan sampai kita termasuk dalam peserta yang mendengarkan khutbah Iblis kelak. Itu berarti kita termasuk bagian dari penghuni neraka. Meski khutbahnya penuh haru dan menyentuh hati, tapi mengandung sebuah bentuk penyesalan yang mendalam. Justru adanya khutbah itu membuat para penghuni neraka semakin terpukul dan bertumpuk penyesalannya. Dan berlapis-lapis kesedihan akan mereka rasakan.
 
Wallahu a'lam Bisyowab
 
 
 
 
 
 
 
 

  • view 181