Menanam Bibit Kebaikan

Rohmat Saputra
Karya Rohmat Saputra Kategori Agama
dipublikasikan 30 November 2016
Menanam Bibit Kebaikan

Banyak diantara kita yang ingin sekali bila keluarga, teman, saudara dan kerabat menjadi manusia yang kita pandang baik. Berangan-angan  indahnya bila orang-orang terdekat berperilaku baik sebagaimana kehendak kita. Namun terkadang realitanya tak seindah apa yang kita bayangkan.
 
Sangat jauh dari apa yang diharapkan.Hingga perlu adanya penglurusan dengan berbagai cara supaya berubah. Salah satunya dengan nasehat. Ada yang sabar dan istiqomah dalam menasehati mereka, adapula yang baru sebentar menasehati, merasa tidak membuahkan hasil. Usaha yang dilakukan seakan sia-sia.
 
Perlu diingat, bahwa perkara terbukanya hati seseorang untuk  menerima nasehat baik yang disarikan dari ajaran Islam adalah prerogatif Allah. Manusia hanya usaha dan do’a serta tawakkal. Sedang keputusan mutlak adalah Dia sang pemberi Hidayah para hamba-Nya.
Ingatkah dengan paman Nabi yang meninggal dalam keadaan kafir, meski dia banyak melindungi dakwah keponakannya? Nabi Muhammad sangat ingin kalau pamannya itu memeluk Islam. Namun apalah daya, hidayah adalah milik Allah. Pamannya mati berpegang teguh dengan agama nenek moyang. Gengsi karena tidak mau berbeda pemahaman dengan para tokoh musyirikin Quraisy.
 
Perkara yang terkadang kita lupakan adalah ketidaksabaran dalam menasehati seseorang. Cepat sekali bosan. Baru sebulan menasehati, langsung menuduh kalau orang itu tidak dapat hidayah. Padahal segala hal butuh proses. Sebagaimana Allah mengajarkan kita arti penting dari sebuah tahapan. Di dalam Al-Qur’an menyebutkan Bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa.
“Sungguh, Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari”. (QS. Al-A’rof: 54)
 
Padahal kalau Allah berkehendak, bisa saja langit dan bumi langsung jadi tanpa waktu yang lama.
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia." (QS. Al-Baqoroh: 117).
 
Tapi Dia mau menunjukkan hal yang berharga dari sebuah proses. Karena Allah ingin menilai seberapa lama manusia meniti tangga proses, bukan dinilai dari seberapa besar hasilnya.
Maka, ubahlah persepsi kita dalam menasehati saudara, teman dan karib kerabat. Anggaplah untaian nasehat yang kita sampaikan kepada mereka ibarat menanam bibit pohon. Perlu menunggu lama sembari tidak pernah berhenti merawat.
Suatu saat, bisa jadi yang mereka keras kepala pada nasehat kita, bahkan mengatakan kita sebagai manusia yang tidak bosan-bosannya menasehati mereka, akan Allah luluhkan dengan perkara yang tidak kita sangka. Mungkin akan Allah kirim masalah pada orang yang telah lama kita nasehati itu, sehingga dia akan menerima nasehat kita 100% tanpa menolaknya.
Dalam hal ini, Allah itu mau para hambanya meniti jalan tahapan, agar pahala semakin banyak.
Sekali lagi bahwa Allah tidak melihat hasil. Karena apapun nanti hasilnya, Allah menilai usaha dari hambanya.
 
Perhatikanlah kisah nabi Nuh. Apakah pengikutnya banyak karena telah mendakwahi kaumnya selama 950 tahun? Justru hanya segelintir orang saja yang menjadi pengikutnya. Bahkan anaknya sendiri menentang ajakan bapaknya untuk menaiki kapal saat seluruh bumi telah ditutupi air bah yang besar. Kala itu nabi Nuh siang dan malam tiada henti mendakwahi kaumnya. Tapi malah mereka tutupi kepala dengan baju sebagai tanda penolakan.
Namun Allah tidak menganggap dakwah Nuh sebagai dakwah yang gagal karena membawa segelintir orang. Justru dia berhasil mampu menjalani proses yang sangat panjang. Lama dakwahnya berpuluh-puluh kali lipat dari dakwah Nabi Muhammad.
 
Marilah kita luaskan pandangan akan makna sebuah kesabaran dalam menasehati orang-orang terdekat. Tidak terburu-buru menganggap hidayah telah menjauhi mereka. Bisa jadi Allah hendak mengajarkan kepada kita perlunya meniti tangga proses. Meski hasilnya tidak seusai harapan, tapi setidaknya kita telah menanam bibit pohon kebaikan yang akan dipanen setelah kita mati.

 

Dilihat 140