Keluarga lembaga pendidikan

ahmad rifai
Karya ahmad rifai Kategori Agama
dipublikasikan 11 September 2016
Keluarga lembaga pendidikan

Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, 

Laa illaa haillallah huwaallaahu akbar

Allaahu akbar walillaahil hamd'

 

Perenungan kembali, pengambilan serat dan makna Hari Raya Idul Adha untuk jaman sekarang...

 

Menyelami kembali sejarah qurban Idul Adha yang sudah dijelaskan secara singkat dan jelas dalam Al Quran surat As Shoffat ayat 102. Dalam QS AS Shoffat tersebut bisa diceritakan sejarah qurban adalah saat Ismail berusia remaja, ayahnya Ibrahim memanggil Ismail (anak Ibrahim) untuk mendiskusikan sesuatu.

Ibrahim menceritakan kepada Ismail bahwa Ibrahim telah mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Dari sini, Ibrahim menanyakan kepada Ismail: "Bagaimana menurutmu, wahai Ismail?"

Lantas, Ismail menjawab: "Wahai ayah, laksanakan perintah Allah yang dimandatkan untukmu. Saya akan sabar dan ikhlas atas segala yang diperintahkan Allah," ujar Ismail kepada ayahnya, Ibrahim. Dalam hal ini, Ibrahim mengkonfirmasikan mimpinya jangan-jangan mimpinya datang dari setan.

Ternyata tidak, Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah sebanyak 3 (tiga) kali melalui mimpi. Setelah mendapatkan petunjuk dan yakin bahwa itu adalah perintah Allah, maka Ibrahim dengan ikhlas akan menyembelih puteranya sendiri, yaitu Ismail.

Setelah Ibrahim dan Ismail kedua-duanya ikhlas untuk menjalankan perintah Allah, ternyata Allah mengganti Ismail menjadi domba.

 

Dari sini bisa mengambil sebuah pembelajaran begitu besarnya kesabaran, keikhlasan, beserta taqwa Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Nabi Ibrahim berhasil membimbing keluarga dan mendidik anaknya. Pembelajaran dari percakapan Nabi Ibrhaim as. selaku orang tua dan Nabi Ismail as. selaku anak, bahwa Nabi Ibrahim tidak semena-mena mengambil keputusan untuk anaknya, di diskusikan terlebih dahulu apakah anaknya sudah ikhlas bersedia dengan keputusan orang tua atau tidak. Sampai pada akhirnya Nabi Ismail as. pun taat kepada Allah, ikhlas akan nadzar ayahnya Nabi Ibrahim as. yang akan mengkurbankan anaknya andai kala memiliki seorang anak lelaki karena saking cinta dan taatnya Nabi Ibrahim as. kepada Allah. Nabi Ibrahim pernah berkurban menyembelih 1000 domba, 300 sapi, dan 100 unta sampai keluar lah nadzar itu karena Sarah (istri Nabi Ibrahim as.) belum juga mengandung, dan Sarah menyarankan untuk menikahi budaknya yang negro (Hajar) dan lahir lah Nabi Ismail as. Maka ditagilah janji itu oleh Allah kepada Nabi Ibrahim as.

 

***

 

Lalu bagaimana penerapan makna dalam berkeluarga saat ini, bahwa keluarga adalah sebagai lembaga PENDIDIKAN yang utama (Al-Uslah Madrasatul Ula)...

 

Keluarga adalah tempat mendidik, bukan mengajar. Kesalahan fatal dalam memahami arti "pendidikan" manakala orang yang ikut proses pendidikan berkeyakinan bahwa pendidikan itu untuk memperbaiki taraf hidup secara material. Sehingga proses pendidikan berubah arah, model, tujuan menjadi sebuah proses "pengajaran" dimana proses pengajaran yang mengukur keberhasilan pendidikan dengan angka. Perubahan dari pendidikan (tarbiyyah) menjadi pengajaran.

 

Banyak lembaga pendidikan seperti sekolah, kampus, dll. sudah beralih fungsi yakni tidak lagi mendidik untuk memiliki power supple dan survival sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, tetapi malah menjadikan mereka memiliki kemanusiaan seperti tidak jujur. Maka tidak mengherankan apa bila mayoritas masyarakat bangsa ini sudah kehilangan "modal sosial" (social capital), artinya masyarakat sudah tidak lagi memiliki budi pekerti yang mulia (loss character).

 

Namun tidak dengan pendidikan yang unsur terkuatnya adalah keteladanan, maka keluarga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Sedangkan untuk menambahi suplemen pendidikan dapat diambil dari buku-buku, media masa, dan alam semesta.

 

Tidak seperti sekarang ini, justru yang terjadi banyak anak di usi emas kehilangan jati diri sebab sudah tidak di didik untuk "mengenal diri" , "mengenal lingkungan" , "mengenal akhirat" dan "mengenal Tuhan"

Satu hal yang sudah banyak dilupakan bahwa menuntut ilmu muaranya adalah memiliki kepribadian yang rendah hati. Banyak diantara mereka pandai dalam bidang tertentu secara akal tetapi mereka lagi hina di dalam keseharian. Padahal Tuhan kelak hanya butuh laku yang rendah hati bukan berbagai aksesoris keilmuan yang konon disebut pintar. Mayoritas masyarakat bangsa ini sudah hilang "laku syukur" terhadap Allah maka lahir lah di dalam nalar pikir kita keserakahan yang luar biasa. Konon bangsa yang dikenal relegius tidak mampu memberikan "pendidikan" pada masyarakatnya untuk memiliki "laku rendah hati"

Akhirnya lahir "kebodohan" masal di bangsa ini yang konon merupakan awal lahirnya peradaban dunia.

 

Jadi Idul Adha kalau saat ini kita sedang "disembelih" Allah (kita harus ikhlas dalam menjalankan cobaan dari Allah) maka kita harus ikhlas dan tulus agar kita mendapatkan domba sebagaimana Ibrahim menyembelih Ismail. Masalahnya, kita seringkali tidak ikhlas saat disembelih Allah. Inilah hal yang paling berat, yaitu ikhlas dan tulus. Demikian arti dan makna qurban dalam Idul Adha dalam banyak kasus pendidikan saat ini...

  • view 185