Akar Nasionalisme H.O.S Tjokro Aminoto

Ahmad Fauzi
Karya Ahmad Fauzi Kategori Tokoh
dipublikasikan 29 Februari 2016
Akar Nasionalisme H.O.S Tjokro Aminoto

Bagi orang besar Pak Tjokro, nasionalisme tidak ditumbuhkan dari kepemilikannya atas tanah-tanah yang subur, kemakmuran, harta ari negara, posisi strategis tertentu dalam pemerintahan, atau seberapa besar negara ini memberi. Akan tetapi, akarnya bersumbersdari bawah, jelata, atau merasakan menjadi rakyat yang biasa. Jadi, inspirasi serta sumber nasionalisme berasal dari interaksi dengan realitas rakyat sebenarnya, yakni rakyat yang miskin dan tertindas.

Meski Pak Tjokro lahir dari keluarga priai, bangsawan. Pak Tjokro memilih jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang se-stratanya, beliau memilih jalan sulit, memilih jalan merasakan sakitnya menjadi rakyat yang miskin. Dengan begitu, Pak Tjokro dapat merasakan sejatinya nafas bangsa ini, yang sebenarnya rakyat rasakan. Pengalaman ini, oleh Pak Tjokro, kemudian tulis dalam sebuah buku, yang kemudian menginspirasi banyak orang tentang semangat nasionalisme baru. Yaitu semngat untuk membela pribumi, semangat perjuangan melawan kolonialisme.

Semangat demikianlah yang kemudian berkecambah sehingga mampu membangkitkan kesadaran nasional tentang nasib sebangsa atas penjajahan, menuntut zelfbestuurr, yang belum pernah bertumbuh sebelumnya. Kesadaran ini mendobrak sifat-sifat kedaerahan, yang kemudian menjelma menjadi kekuatan penggerak untuk melawan kolonialisme. Maka dengan demikian, Pak Tjokro, merupakan tokoh penggerak besar dalam nasionalisme.

Nasionalisme Pak tjokro tidak lahir secara kebetulan, tetapi mengakar secara historis, terutama selama beliau memimpin Serikat Islam. Rumah Peneleh, yang kemudian disebut sebagai ?dapur nasionalisme?, menjadi saksi perjalanan itu.

Rumah Peneleh menjadi saksi bahwa nasionalisme itu hadir didukung oleh setting waktu, tempat, serta tokoh yang teramu dengan pas menemukan momentumnya. Di rumah Peneleh itulah pembahasan, diskusi, serta kelahiran dan perancangan ide-ide besar Serikat Islam lahir. Sehingga, di dalam rumah yang ada di Surabaya, Jawa Timur, ini, menjadi tempat awal mula terbentuknya gagasan pergerakan yang memiliki keberpihakan kepada Bumiputra, yang tidak lagi tersekat oleh daerah-daerah.

Akar nasionalisme Pak Tjokro yang demikian itu kemudian dibawanya untuk menjadi basis ideologi perjuangan SI. Situasi strategis itu ada ketika pada tahun 1912, Pak Tjokro, membalas kehadiran pendiri SDI (serikat dagang Islam), H. Saman Hoedi, untuk mengadakan diskusi-diskusi menyusun langkah strategis membela pribumi. Sehingga kemudian, Pak Tjokro diangkat menjadi menjadi ketua SDI, yang lalu berubah menjadi SI (serikat Islam). Yang memilikiu asas tujuan tidak hanya berdasarkan kepentingan ekonomi, tetapi lebiuh pada kepentingan ideologis, yaitu semangat Islam dan menumbuhkan harga diri pribumi.

  • view 303