Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 19 Juni 2018   05:08 WIB
Etika Murid, Etika Guru

Dalam edisi Etika dan Etiket Ilmiah pembahasan Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karangan KH Hasyim Asy'ari, penceramah menyampaikan akhlak murid pada guru serta akhlak sebagai seorang guru. Berikut pemaparannya.

Beberapa di antara akhlak kepada guru adalah:

Pertama, bersungguh-sungguh dan hati-hati memilih guru. Pilihlah guru yang sesuai bidang keahliannya. Juga mampu berlaku lembut karena dengan kelembutan ilmu bisa sampai ke hati.

Kedua, patuh pada guru. Ketika tidak sepakat boleh mendebat tapi dengan santun. Tanda barokahnya ilmu adalah patuh pada guru.

Ketiga, doakan gurumu, siapapun itu. Kalau doa aja susah maka barokah sudah didapat. "Kalau berguru pada Nietzsche ya coba dikirimi al fatihah," anjurnya.

Keempat, sabar menghadapi gurumu. Kadang dia galak atau enggan dibantah. Kita selaku murid tetap mengutamakan akhlak.



Selain murid, ada juga etika sebagai pendidik. Fahruddin mengemukakan akhlak pertama seorang guru adalah muraqabah, yaitu merasa hidup diawasi. Selain itu, tenang. Sebab hidup ini sudah ada yang atur. Lalu, bersandar hanya kepada Allah.

"Jangan mengejar duniawi, barokah ilmunya hilang. Kalau bonus hak nggak papa, tapi orientasinya jangan ke situ," terangnya tentang poin keempat etika guru.

Tidak pilih kasih pada anak didik adalah etika yang lain sebagai seorang penyampai ilmu. Keenam, zuhud yaitu tidak kemaruk pada dunia.

Ketujuh, jangan melakukan hal rendah, ketahuan atau tidak. Kedelapan, menjauhkan diri dari tempat pamancing dosa.

"Perhatikan syiar Islam, kalau kamu jelek Islam juga terlihat jelek. Semua yg dilakukan berkaitan dengan syiar Islam," penjelasannya terkait poin kesembilan.

Kesepuluh, bergaul dengan akhlak baik. Kesebelas, bersihkan hati dari segala yang jelek. Keduabelas, ambil pelajaran dari siapapun. Segala hal adalah pelajaran, semua orang adalah guru.

"Ilmuwan harus membiasakan diri nulis, tidak cuma ngomong. Tulisan lebih monumental, semakin luas jangkauannya," terangnya tentang etika ke-13.

"Ada teori kalau jawabnnya mbulet kemungkinan benarnya kecil. Tapi ketika jawaban tegas lugas kemungkinan benarnya besar," katanya.

Karya : Ahada Ramadhana