Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Buku 19 Juni 2018   00:46 WIB
Mantan Yahudi yang Menulis Tafsir al-Quran

Judul sesi itu adalah Book Discussion 'The Message of the Quran: Tafsir al-Quran Bagi Orang-Orang yang Berpikir'.

Muchlis Hanafi adalah seorang ahli tafsir Tanah Air. Bahasa Arabnya jelas fasih. Dia ditunjuk menjadi penerjemah percakapan Jokowi dengan Raja Salman.

Karya Muhammad Asad ini, katanya, memadukan otentisitas. Sosok ini bukanlah Muhammad Assad penulis Notes from Qatar. Asad ini adalah seorang Yahudi Austria yang pindah keyakinan kepada Islam. Saat menulis tafsir ini, dia telah menjadi muslim dan belajar banyak tentang al-Quran dan al-Hadis.

Menurut Muchlis, Asad banyak merujuk karya klasik terutama dalam memilih makna dalam al-Quran. Ada unsur progresifitas. Al Quran memang harus dibaca secara progresif, agar mengikuti zaman dan waktu. Dengan begitu kitab suci ini bisa betul-betul hadir dan aktual dalam kehidupan kita hari ini.

"Asad menghadirkan al-Quran yang bicara modernitas dengan kita. Tafsir ini ramah gender. Poligami diperbolehkan 'dalam keadaan-keadaan luar biasa/tertentu'," tutur Muchlis.

Pukulan untuk istri nusyuz yang dijelaskan dalam kitab tafsir ini dikuatkan dengan hadis penjelas bahwa pukulan yang dimaksud adalah yang tidak melukai. Sedangkan 'Arrijalu qowwamuna alannisa' diterjemahkan 'laki-laki bertanggung jawab sepenuhnya pada perempuan'.

"Al-Quran tidak mungkin diterjemahkan secara penuh. Terjemahan ini hanyalah salah satu arternatif. Al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia, semua boleh memahami tapi tidak semua bisa menafsirkan. Semua berhak menafsirkan tapi hindari sebab-sebab kesalahan, memenuhi perangkat keilmuan dan integritas," jelasnya.

Kitab tafsir ini ditulis saat Asad telah berislam, dalam puncak kematangan intelektual dan spiritual. Saat itu Asad berumur 80 tahun.



Berikutnya adalah kesempatan Ulil Abshar Abdalla. Gus Ulil bercerita, setiap pagi Senin-Jumat dia membuat kultwit mengenai tafsir ini karena menurutnya penting diketahui publik.

"Tafsir ini ditulis dengan niat agar al-Quran dapat diakses oleh pembaca modern. Seorang penulis telah membayangkan siapa pembacanya (imaginary reader). Saya mengira, pembaca yang dibayangkan Asad adalah orang modern,"

Gus Ulil menjelaskan, isi kitab ini sifatnya logis/rasional, suka mempertanyakan (skeptis) hal-hal yang bersifat ajaib. Bagaimana hal-hal tidak rasional bisa diterima dengan mudah. Muhammad Abduh adalah rujukan yang dianggap tepat.

"Bagi yang tidak setuju dengan pendekatan rasional akan tak setuju. Tapi banyak hal mukjizat bisa dijelaskan secara relatif memuaskan di sini. Asad mencari cara sebisa mungkin istilah dalam al-Quran yang sesuai dengan pemahaman umum," tandasnya.

Asad merupakan keturunan Yahudi sehingga dia memiliki bekal bacaan mengenai tradisi bangsa Yahudi sebagai rujukannya. Tapi dia tak mengaitkan al-Quran dengan bibel dan taurat.

Asad tadinya seorang wartawan yang meliput konflik timur tengah untuk koran Austria. Dia lalu jatuh cinta pada Islam. Melalui tafsir ini dia tak sedang menuangkan gagasan tapi menunjukkan kecintaan pada kitab sucinya. Dia ingin al-Quran make sense dengan audiens modern, ingin orang tidak menganggap al-Quran sebagai kitab antik. Asad tak ingin terjemahannya ini dianggap baru. Asad membaca kitab Yahudi setidaknya taurat.

"Ada banyak rujukan yang bisa dipakai tapi dia tidak melakukannya karena menganggap al-Quran adalah kitab independen. Tidak harus dikaitkan secara intertekstual," terangnya.

Karya : Ahada Ramadhana