Ilmu Adab dari KH. Hasyim Asyari

Ahada Ramadhana
Karya Ahada Ramadhana Kategori Agama
dipublikasikan 11 Juni 2018
Ilmu Adab dari KH. Hasyim Asyari

Kajian malam itu, 13 September 2017, masih edisi etika pencari ilmu. Membahas kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim karangan KH. Muhammad Hasyim Asy'arie.

"Kalau mendengar namanya kita teringat pada organisasi terbesar di dunia, mungkin juga di akhirat," masih awal saja Fahruddin Faiz sudah ngebanyol.

Iman tanpa syariat itu kosong, katanya, mengacu pada kitab yang dibahas.

"Sama seperti kamu bilang 'i love you' tapi disuruh jemput nggak mau, whatsapp nggak pernah," katanya. Kami tergelak lagi.

Maka, siapa yang tidak bersyariat berarti dia tidak beriman dan bertauhid. Tapi syariat butuh akhlak. Jadi kalau seseorang tidak berakhlak, berarti dia tidak bersyariat, yang artinya tidak beriman dan tidak bertauhid. 

Akhlak dulu ditata baru pelajari ilmu. Profesi apapun, perilaku apapun, dasarnya akhlak.

Menasihati dimaksudkan mengingatkan diri sendiri juga. Itu bedanya ulama besar dan tidak besar. Kalau ulama tidak besar omongnya aja yang besar, katanya. Terdengar tawa yang kesekian kali.



Ada yang namanya wali mastur. Yaitu yang tidak tahu bahwa dirinya wali. Fahruddin seolah tahu jika para audiens kegeeran, lantas mengucap "Jangan-jangan kamu merasa wali... Tapi kalau kamu sudah berpikir begitu berarti kamu bukan wali,"

"Cara mudah jadi wali ya punya anak, mesti otomatis jadi wali," selorohnya. Keseriusan kami patah lagi, berganti gerutu yang tertahan bercampur kehendak tertawa.

Sesekali penceramah mengambil jeda untuk menyeruput teh dalam gelas bertangkai di hadapannya. Gelas kecil para audiens biasanya sudah lebih dulu kosong. Teko besar berisi teh dan kopi beserta gelas disediakan di dekat pintu. Peserta kajian dipersilakan mengambil sendiri sebelum mencari posisi duduk bahkan bisa me-refill kali jika mau.

"Barangsiapa mencari ilmu tidak karena apa-apa, lillahi ta'ala, tidak mengharap kopi atau teh, seperti naik haji tanpa harus bayar Rp 45 juta," lanjutnya. Aku terkakak. Kelakar kali ini combo. Pertama, sindiran untuk pencari kopi/teh gratisan. Kedua, penyebutan angka Rp 45 juta itu terasa seperti hinaan pada kami kaum yang masih mustahil memiliki nominal sebanyak itu.

Tidak karena apa-apa di atas, bahkan termasuk tidak berharap menambah wawasan sekalipun. Dalam ceramah sebelumnya, penceramah pernah menegaskan bahwa tugas kita adalah datng ke majlis-majlis ilmu. Urusan mendapat ilmu atau tidak, adalah kehendak Allah. Tugas kita adalah melaksanakan yang berada dalam jangkauan kemampuan.

"Allah suka hamba yang menyembah-Nya didasari ilmu. Satu orang berilmu lebih sulit digoda daripada 1000 ahli ibadah. Ini mungkin testimoninya setan," terangnya lagi. Barangkali tidak ada yang tidak tertawa mendengar banyolan ini.

Abu Bakar pernah bertutur, saat miskin ilmu bagai perhiasan dan saat kaya ilmu pun bagaikan perhiasan. Lain dengan Ibnu al Mubarak, katanya seseorang masih dianggap pandai selama ia mencari ilmu.

Apabila ada seseorang yang menganggap bahwa dirinya pandai maka ia benar-benar telah bodoh. Makanya socrates pernah bilang, yang paling saya tahu adalah bahwa saya benar-benar tidak tahu.

Kata Imam Waqi ciri orang alim adalah kesediaannya untuk terus belajar. Cirinya dia diam. Tidak mau komen sebelum paham.

"Hari ini orang Indonesia lebih suka komen paham belakangan,"

  • view 53