Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 10 Juni 2018   09:13 WIB
Jangan Terjebak Cover, termasuk Agama

"Mengalah bermakna untuk tidak langsung menabrak. Tunggu reda dulu. Masuk lewat perkataan baru lewat perbuatan," terang penceramah.

Doktor Ilmu Agama jebolan UIN Sunan Kalijaga ini, Fahruddin Faiz, menuntunkan pensikapan yang kalem. Maksud dia, jikalau langsung dilawan berhadap-hadapan yang ada bakal tawuran.

"Kayak kamu kalau debat soal ucapan natal," pancingnya.

Foto: Facebook Masjid Sudirman Kolombo


Kajian malam ini edisi Filsafat Moral mengangkat sosok Mangkunegara IV. Dalam kitab kenamaan Serat Wedhatama, tersebutlah dasar kebahagiaan manusia antara lain adalah wirya (keluhuran, kehormatan), arta (alat), winasis (kepandaian). Jika tidak punya satupun, maka 'tidak lebih mulia dari daun jati yang kering'.

"Hari ini orang-orang suka marah. Lihat temannya marah ikutan marah. Kayak lagi demo, gantian marah di atas panggung. Bengok-bengok. Kalau ditanya juga njenengan ki marah kenapa to? Bingung juga titiknya di mana pangkalnya di mana," paparnya.

Bicaranya yang perlahan-lahan tapi membuat pendengar menangkap secara pasti. Paparan yang menyentil fenomena keseharian seperti di atas dengan mudah mengundang tawa. Tapi kalimat berikutnya memantik kesadaran: Itulah tabiat angkara murka.

Hidup kita berupa sembah semua, yaitu persembahan untuk Tuhan. Karena kalau tidak persembahan untuk Tuhan, sungguh hidup kita sia-sia. Di setiap shalat kita membaca "Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi ta'ala (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah)," maka berikanlah yg terbaik. Jadi totalitas hidup kita untuk Allah. Itulah etika di hadapan Tuhan.

Mangkunegara mengkritik hal bersifat formalistik. Meniru nabi benar, tapi apa artinya jika cuma perihal fisik untuk pamer.

"Sama kayak kalian ngaji sambil ngelirik angkringan depan sambil bilang 'orang-orang itu sesat'. Iya ke masjid, tapi isinya nggak cuma pamer,"

Fahruddin menyayangkan jika hanya berkutat dengan syariat tapi tidak mengerti hakikat. Diumpamakan, sama kayak sibuk cari uang tapi bingung mau buat apa.

Audiens dipesani,"Sathithik bae wis cukup (Padahal beragama biasa saja sudah cukup). Jangan bersemangat meniru ahli fikih. Kita itu maqomnya rakyat, ahli fikih sudah ada sendiri. Sekarang kan banyak yang kuliah apa nggak lulus-lulus tapi berlagak ahli fikih,"

Jangan terjebak oleh lahiriah termasuk agama. Jangan tertipu oleh orang yang rajin shalat. Semua bermuara pada batiniyah.

Pada masanya, ada fenomena yang mendorong Mangkunegara IV menuliskannya. Kalau ada yang relevan dengan sekarang, jangan-jangan kita telah jatuh ke lubang yang sama, mengulangi yang itu-itu saja.

Karya : Ahada Ramadhana