Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 24 Mei 2018   05:08 WIB
Relasi Suami, Istri, dan Tuhan

Mimbar masjid malam ini kosong. Tapi bukan karena tidak ada ceramah pra tarawih. Suara ustazah Alimatul Qibtiyah memenuhi seluruh ruang masjid. Mimbarnya adalah shaf putri di lantai 2 yang bentuknya letter U.

Di malam ke-6 ramadhan itu, ustazah menyampaikan apresiasi kepada pengurus Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga yang secara konsisten sejak lama memberi panggung secara rutin pada kaum Hawa untuk mengisi barang satu atau dua slot ceramah tarawih--di saat masih maraknya anggapan suara perempuan adalah aurat. Dalam kesempatan semacam ini, katanya, perempuan bisa menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Tema yang diangkatnya adalah 'penanaman nilai kesetaraan dalam keluarga'.

Dalam Al-Qur'an tersebut perempuan adalah pakaian laki-laki dan laki-laki adalah pakaian perempuan. Juga, laki-laki dan perempuan diciptakan dari zat yang sama. Ayat ini mendukung kesetaraan relasi laki-laki dengan perempuan.

"Dulu orang memandang garis lurus vertikal relasi antara Tuhan-suami-istri. Tapi kini bentuknya triangle, dimana paling atas adalah Tuhan. Suami dan istri setara di hadapan Allah," ungkapnya.

Suaranya tegas, meski tidak menggelegar. Merambat ke belasan shaf jama'ah putra. Satu shaf kira-kira muat 40 orang. Entah shaf putri ada berapa.

Uztazah menyebut data Badan Peradilan Agama, yang mana dari 2 juta pernikahan ada 300 ribu yang bercerai. Lalu yang membuat miris, dari total kasus perselisihan rumah tangga, sebanyak 45 % berujung perceraian.

Jika ada perempuan bekerja dianggap menggusur maskulinitas. Padahal jika bisa didiskusikan, keluarga samara yang berlandaskan nilai-nilai demokratis dapat terwujud.

"Masalahnya adalah ketika laki-laki masuk dunia domestik perempuan, secara psikologis jadi beban, secara sosial belum diterima. Sebaliknya perempuan masuk dunia industri menguntungkan ekonomi, dari sisi sosial diberi jempol oleh mayarakat,"

Keluarga yang fleksibel peran gendernya punya ketahanan yang lebih baik, katanya. Fleksibel yang dimaksud adalah saling berganti peran semisal siapa nyuci piring, cari nafkah, dll. Ketika peran tidak kaku maka ketahanan keluarha bagus. Tapi dengan 'pokoknya!' menciptakan keluarga yang cenderung tidak bahagia dan otoriter, yang mana berdampak pada radikalisme anak. Semakin otoriter maka berpotensi semakin intoleran. Dan lagi fleksibilitas mengurangi kontribusi perceraian.

Pilar keluarga setara menurut usatazah psikolog ini punya rumus BJSM.

Berpasangan. Saling sadar bahwa ada suami/istri. Ketika sedang nongkrong bareng teman ingat ada pasangan di rumah, misal ingat untuk membelikan makanan.

Janji kokoh. Pernikahan tidak seperti beli kacang. Pernikahan Harry dan Megan bisa dilihat dan menjadi contoh, dimana kedua belah pihak mengucapkan akad/ikrar janji pernikahan di hadapan orang banyak. Namun di Indonesia sudah berlaku tradisi pengucap akad hanya satu pihak.

Saling memperlakukan baik. Saling setia, misalnya bergantian menyediakan minum. Membuatkan teh atau kopi bukan cuma dari istri ke suami.

Musyawarah. Apa saja kebijakan dalam keluarga perlu dimusyawarahkan. Pemerintahan keluarga bersifat kolektif kolegial. Ada sebuah cerita, Habibah mendatangi Rasul mengadukan penamparan suami terhadapnya. Suaminya diminta datang. Kapada suami Habibah, Nabi menegaskan qawwam adalah penegak/pelindung urusan wanita. Jadi ayat arrijalu qawwuna alannisa bukan ayat yang pantas dipolitisasi untuk berkuasa atas perempuan.

Dalam keluarga suami-istri perlu mencontohkan teladan pada anak. Semisal ketika sama-sama bekerja tapi ketika pulang si bapak pergi ke kasur si ibu pergi ke dapur. Ini tidak sehat utk pendidikan anak. Ada kesan urusan menyiapkan makan cuma jadi tanggung jawab ibu.

Karya : Ahada Ramadhana