Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 19 Mei 2018   21:05 WIB
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Teroris?

Noorhaidi Hasan mengawali ceramah dengan mengumandangkan ajakan untuk mensyukuri nikmat ramadhan. Bisa menahan hawa nafsu adalah kenikmatan sebab hawa nafsu membawa pada kerusakan.

Ceramahnya mengangkat isu aktual: seputar radikalisme, terorisme, pengeboman. Noorhaidi Hasan adalah pendidik fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah menjabat dekan selama 2011-2015. Memiliki fokus seputar salafisme, radikalisme Islam, politik identitas, dan kaum muda.

Para pelaku teror adalah orang-orang yang gagal mengendalikan amarah, katanya. Disertasinya membahas soal konflik ambon. Dia mewawancarai puluhan orang baik dari kubu Islam maupun kubu Kristen.

"Saya tahu mereka yang bergabung di aksi teror dipengaruhi dua hal. Pertama, intimacy (kedekatan), ini dibagi menjadi sosial dan spasial. Terorisme didahului oleh situasi kedekatan tertentu dengan orang yang lebih dulu bergabung dalam kelompok teror," paparnya.

Bisa dari lingkungan kos atau kampung yang sama (spasial). Atau direkrut oleh saudara atau kawan (sosial).

Tapi, tidak semua yang memiliki kedekatan otomatis bergabung dengan gerakan radikal. Ada satu kunci lagi.

"Faktor kedua adalah krisis identitas. Ini berkaitan dengan makna. Bagaimana memaknai hidup, posisi kita di masyarakat, serta pengakuan orang,"

***

Terlalu banyak lampu di atas mimbar masjid ini. Wajah penceramah tidak begitu tampak terhalang terang cahaya. Aku bertanya-tanya sampai kapan mimbar menggantung ini akan tahan. Berapa bobot yang mampu ditopang. Besi-besi penahannya suatu saat akan berlepasan jua.

***

Identitas ini berkaitan dengan cara kita memandang dunia. Ada orang-orang yang mengalami frustasi, tidak cuma masalah keuangan. Tapi mereka merasa tidak punya guna, makna, ataupun peran apa-apa di dunia ini. Mereka tidak bisa mendefinisikan siapa diri mereka serta apa pentingnya keberadaan mereka bagi orang lain.

"Mereka ini kemudian didekati oleh para aktivis radikal, melalui pengajian yg digelar secara tertutup," ungkap peraih gelar PhD dari Utrecht University ini.

Argumen mengejar surga menurutnya terlalu simplistik. Aksi teror ini dilakukan secara berjejaring, melalui perekrutan yang terkonsep. Lantas bagaimana seseorang dapat tergabung ke dalam kelompok teror?

"Mereka awalnya diberi rasa hangat (payung komunitas) bahwa dia tidak sendiri oleh para aktivis radikal sebelum dicekoki jihad. Pertama didoktrin seputar tauhid uluhuyah rububuyah asma wa sifat namun politis. Siapa yg mengaku beriman maka konsekuensinya mengikuti apa yg diperintahkan Allah. Lalu diberi konsep Al wala' wal bara' (loyalitas). Mereka diminta membenci atau memisahkan diri dari orang yang tidak seiman. Inilah awal penyebab intoleransi,"

Dari sini doktrin ditingkatkan, pemahaman berkembang bahwa siapa saja yang tidak menerapkan hukum Allah maka dia kafir. Jika kafir, siapapun itu, termasuk aparatur negara maka wajib untuk diperangi. Mereka berargumen pada target rekrutan bahwa berbagai jalan telah dilakukan namun pemerintah bergeming untuk tetap menerapkan aturan yang bukan syariat. Maka perlawanan terhadap pemerintah adalah jihad.

"Orang tidak mudah bergabung menjadi radikal jika tidak mengalami faktor kedua tadi. Mereka memandang dunia tidak bersahabat, terpuruk, kacau, penuh kemunafikan. Dari sini lalu narasi kepahlawanan dibangun,"

Karya : Ahada Ramadhana