Agama dan Adab

Ahada Ramadhana
Karya Ahada Ramadhana Kategori Agama
dipublikasikan 18 Mei 2018
Agama dan Adab

Hari ke-2 saya tarawih di Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga. Kuliah pra tarawih bertema Agama dan Adab. Tidak begitu banyak yang bisa saya serap karena mendengarkan sambil menahan kantuk. Bukan karena ceramah yang membosankan, tapi badan yang lelah. 

Berikut adalah beberapa hal yang bisa saya rangkum dari perkataan penceramah. 

Manusia punya dua sisi yaitu habluminallah dan habluminannas. Adab mengacu pada hubungan dengan orang banyak. Beragama tidak cukup hanya habluminallah. Adab berarti seseorang harus mengurangi kebebasannya untuk menghormati hak orang lain.

Juramentado adalah salah satu contoh orang-orang yang tidak mengedepankan adab. Dalam sejarah Filipina, istilah ini dipakai untuk orang-orang yang tidak punya harapan hidup semisal terlilit hutang, ditinggal istri, tak punya keluarga, dll. Mereka ini berbuat kekerasan, menyerang polisi dan tentara negara yang berbeda agama dengan mereka. Mereka menganggap apa yang dilakukannya adalah jihad. Mirip dengan pelaku teror hari ini yang menganut konsep martyrdom, menganggap jika membela agama maka akan mendapat kemuliaan. 

Beragama juga berarti mendirikan bangunan. Islam tak hanya aturan fiqih, tapi juga budaya. Orang  yang dibentuk oleh budaya kerja akan jadi kuat. Begitu pun sebaliknya.

Perluasan penyebaran Islam pada masa pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW hingga mencapai Eropa dan Asia bukan karena perang. Orang tertarik pada Islam karena ada sesuatu yang bermakna. Di Indonesia, Islam bisa  sampai ke pedalaman, karena ada sesuatu yang baru, membawa peradaban modern.

Beragama Islam bukan cuma keyakinannya tapi juga budaya semisal pakaian, makanan. Aturan-aturan tanpa keadaban akan menjadi kaku, tapi dengan budaya aturan jadi terwadahi. Islam kita lebih lunak dari Pakistan karena budayanya. Kita perlu mempertahankan itu.

  • view 28