Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 17 Mei 2018   03:11 WIB
Siapa yang Pantas Meraih Lailatul Qadar?

Ceramah qabla tarawih malam pertama di Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga diisi oleh Yudian Wahyudi. Meski masih awalan, Pak Rektor langsung membahas perihal lailatul qadar. Tahun lalu pernah dia sampaikan, tapi katanya perlu diulangi untuk meluruskan konsep lailatul qadar berupa 'malam seribu bulan' yang selama ini telah mengemuka.

"Siapa yang mendapat lailatul qadar?" lemparnya pada sekitar ratusan audiens.

Nabi Muhammad SAW mendapat lailatul qadar dari Muhammad bin Abdillah menjadi Muhammad rasulullah.

"Lalu siapa lagi?" tanyanya lagi.

"Mantan preman, Umar bin Khathab dari yang dulu mau membunuh nabi menjadi khulafaurrasyidin. Dulu kan kerjaannya minta-minta jatah," tegasnya antusias.

"Bilang gitu aja malu-malu, takut penistaan agama?" nadanya menantang, yang segera diiringi tawa hadirin.

Lalu ada lagi Ali bin Abi Thalib yang dulunya miskin tak punya apa-apa namun bisa jadi khalifah. Yudian juga menyebutkan dirinya yang kini menjadi rektor.

Sampai di sini saya masih bingung dan kabur, seperti apa sih sebenarnya konsep lailatul qadar 'baru' ini?

Itikaf hanya simbolisasi. Lailatul qodar dari paparan Yudian adalah penerapan ilmu setiap detik. Penerapannya memiliki syarat yaitu secara bijaksana. Sebab jika berlebihan maka sudah menyalahi tatanan. Dia mencontohkan menulis tesis satu hari satu lembar, hanya butuh waktu 300 hari. Jika sehari 2 atau 3 lembar maka butuh waktu 150 atau 100 hari. Itu masih bisa disambi main bola atau mancing, katanya, sesuai dengan pengalaman pribadi. Tapi jika 1 hari 10 lembar menjadi tidak baik. Karena bisa dipastikan plagiat.

Lailatul qadar telah menjadi bagian dari keseharian kita, setiap detik setiap menit, dalam wujud segala tatanan yang ada. Tidak hanya berada pada malam-malam ganjil di sepertiga akhir Ramadhan. Itu bukan lailatul qadar tapi iktikaf, katanya.

"Itikaf boleh namun tidak melupakan apa yang kita kejar," begitu konsep antimainstreamnya. Kalau tujuan kita tesis maka kerjakanlah itu jangan dibiarkan. "Jadi iktikaf jalan tesis juga jalan," katanya.

Di akhir ceramah, Yudian memberikan penggambaran terang tentang siapa yang bakal mendapatkan lailatul qadar. Intinya adalah lailatul qadar merupakan upaya bercermin dalam rangka peningkatan kualitas diri. Ini sangat erat kaitannya dengan kontribusi alias kerja.

"Adalah kita yang mengukur diri lalu berbuat,"

"Seseorang dinilai dari ilmu, iman, dan amal,"

Karya : Ahada Ramadhana