Membenci Seperlunya

Membenci Seperlunya

Ahada Ramadhana
Karya Ahada Ramadhana Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Mei 2018
Membenci Seperlunya

sumber foto: thehindu.com
 

Kita perlu untuk tidak terlalu sadis menghakimi para pelaku korupsi. Membenci tidak perlu
keterlaluan. Tidak ada maksud membiarkan, tidak mengecam, atau bahkan mendukung orang
untuk berbuat korup. Maksudku, ini tentang bentuk pensikapan. Aku yakin, selama
menggunakan akal sehat, tentu siapa saja akan mengecam tindak korupsi. Namun ini bukan
tentang itu. Aku menyorot tentang reaksi kita terhadap pemberitaan korupnya seseorang.
Hendaklah kita tidak usah terlalu ringan (mudah) menghujat dan mencerca si korup. Biasa
saja.

Seandainya saja begini—namun semoga tidak terjadi, kita semua tentu tidak
mengharapkannya—ada salah satu dari kerabat kita yang tersangkut kondisi serupa, atau
bahkan diri kita sendiri yang mengalaminya, karena dijebak atau sesuatu hal tak terduga.
Tentu kita sama sekali tidak menantikan derasnya hujatan dan cacian. Kita berharap adanya
dukungan dari orang lain, terutama moril. Kita berharap urusan ini akan selesai dengan baik,
berpikir kita masih punya kesempatan untuk insaf dan memulihkan nama baik. Berharap
tetap bisa berkarier atau diterima secara terbuka di berbagai instansi.

Ada satu lagi yang kupikir jangan berlebihan menilai buruk tentang ini. Jangan mudah
menggeneralisir. Yaitu kepada politisi, atau anggota DPR. Apa kau termasuk yang
menganggap profesi politisi atau anggota DPR adalah pasti buruk? Apakah setiap orang yang
menggeluti profesi itu pasti bermulut manis, suka berjanji, dan pasti busuk karena hanya
mengejar keuntungan pribadi dan golongan? Apa kau juga berpikir bahwa kinerja mereka
pasti jauh dari harapan?

Aku ingin mengajakmu membayangkan lagi. Andai saja yang menjadi politikus atau anggota
DPR itu adalah seorang kenalan yang kau tahu perjalanan karir serta kepribadiannya penuh
teladan. Apakah kau masih memandang sebelah mata profesi ini jika demikian?

***

Apakah kau berpikir manusia tidak boleh salah? Apakah manusia tidak punya kesempatan
untuk menjadi baik? Apakah berbuat salah itu merupakan sesuatu yang amat hina?
Ah, kau naif sekali! Justru dari kesalahanlah kita belajar dan mengeahui cara bersikap yang
tepat. Kukira setiap orang pasti bersalah.
 
Apakah kau tidak suka bercermin? Ah, bukan bercermin yang sebenarnya yang kumaksud.
Bercermin berintrospeksi maksudku, dalam rangka melihat dan menilai diri sendiri. Aku
heran, mengapa kau terlalu menghakimi si salah sedemikian rupa? Seolah kau tidak pernah
bersalah saja! Seolah tidak ada celah (kemungkinan) seseorang memperbaiki kesalahannya.

Ini aku kutipkan sebuah nasihat manusia optimis dari Fahd Djibran untukmu,

"Lantas bagaimana jika kita melakukan hal buruk? Santai saja. Sesekali tidak masalah kau
melakukan hal yang buruk. Kadang-kadang itu penting juga untuk membuatmu tahu dan
mengerti betapa tidak menguntungkannya mengerjakan hal-hal buruk dan betapa
membahagiakannya mengerjakan hal-hal yang baik. Kadang-kadang, aku berharap bahwa
orang-orang memiliki kemampuan tak terbatas untuk melakukan keburukan, sehingga mereka
mungkin juga akan memiliki kemampuan tak terbatas untuk melakukan kebaikan…"

***

Dari buku God, Hug Me Please! terbitan Ellunar Publisher (2017). 

  • view 57