Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 8 Mei 2018   20:54 WIB
Menakar Jodoh


sumber foto: fimela.com

"Sudah umum kalau setiap orang akan mengharapkan pasangan yang bisa menerima kita apa adanya. Tapi kita jelaskan juga, bukan berarti kita tidak usaha. Cuma usaha kan ada batasnya juga,"

Banyak pembicaraan dengannya membahas soal mempersiapkan masa depan. Semisal seperti apa tipe yang didamba, ingin kehidupan seperti apa, atau juga seberapa penting keperawanan itu. Aku pernah mengisahkannya soal keluhannya pada hidup.

"Di setiap kenalan saya tanya kamu mau resepsi kayak gimana. Kalau mau yang mewah, saya 'prei' dulu. Saya jelaskan aja, sayang duitnya kalau gitu. Mending dipakai buat DP rumah. Lagian apa sih yang dicari dari resepsi? Biar diakui orang? Sehari setelah itu orang juga bakal lupa sama acara kita," paparnya.

Barangkali ada belasan perempuan yang dia ajak ketemu untuk saling mengenal lebih dekat. Banyak dari aplikasi kencan, ada juga dikenalkan teman. Yang ditarget adalah usia 27 tahun ke atas--yang betul-betul siap dan matang juga sepantaran. Toleransi usia maksimal 2 tahun lebih tua. Usia di bawah 20 tahun, katanya, kebanyakan cuma main-main. Dia selisih 6 tahun dariku yang lahir tahun 1993.

Kepada para kenalan barunya, dia selalu sampaikan di awal bahwa bertemu untuk kenalan bukan berarti pasti untuk hubungan serius. Kalaupun tidak sampai 'jadi', katanya, kan tetap bisa berteman.

"Kan nggak ada salahnya tambah-tambah relasi," ujarnya.

Kepada masing-masing target dia bertemu tak cukup sekali. Biasanya di pertemuan kedua dia sudah berani bertanya blak-blakan semisal "Kamu ikutan aplikasi kencan tujuannya apa?" Lalu dia akan cerita terus terang bahwa dirinya sudah pengen serius, merasa sudah berumur, menyesal dulu sering menggampangkan urusan ini. Waktu cepat berjalan nggak terasa tau-tau udah tua aja belum nikah mau punya anak umur berapa, begitu pandangannya.

"Mau nunggu apalagi? Nunggu kaya nyatanya sampe sekarang nggak kaya-kaya. Duitnya abis juga nggak tau ke mana," begitu pengakuannya.

***

Yang terpenting baginya adalah kemampuan berkomunikasi dan keterbukaan. Kalau sudah ada kata 'pokoknya' itu mau gimana pun akan susah.

"'Pokoknya aku mau mobil ini, pokoknya aku mau rumah'. Kayak gitu kan sini yang mumet," akunya.

Suatu kali dia mendapat kenalan yang terkesan mengejar materi.

"'Lu kalau mau matre sama saya dapatnya cuma nasi kucing lu,' kata saya. Dia cuma ketawa ngakak saya gituin," tuturnya menirukan ucapannya pada salah satu calon targetnya. Logat Jawa Tengahnya kental meski bertahun-tahun hidup di Jakarta. Dia tak ragu langsung tembak. Kini mereka justru jadi teman akrab meski tidak pacaran.

Sesungguhnya dia tak benar-benar 'tak laku'. Beberapa gadis yang didekatinya sudah merasa klik, bahkan ada yang sampai mengejar-ngejar. Tapi, dia punya standar cukup tinghi yang entah seperti apa. Tidak bisa diaalahkan, sebab harapannya ini menjadi sekali seumur hidup maka mesti menemukan yang benar-benar klop di hati.

***

Aku tidak tahu pasti gelanggang macam apa tempat dia menempa diri. Dia pernah bercerita semenjak ayahnya wafat, otomatis urusan keluarga dia yang banyak menangani. Barangkali perihal itu yang menyumbang banyak untuk membentuk kualitas kepribadiannya.

Dia seorang HRD. Tanggung jawab dan kredibilitas tampak dari keseharian. Aku memraktikkan saran darinya untuk masalah yang kuhadapi di kantor, dan itu berpengaruh.

Ada pandangan-pandangan baru setiap kali mengobrol dengannya. Menanggapi konflik sosial tanpa menyekat-nyekat latar belakang, menampakkan luasnya pengalaman berinteraksi. Omongannya didasari pertimbangan-pertimbangan. Barangkali wajar kepribadian terbentuk mengingat telah sekian tahun usianya. Tapi, tidak semua yang seumur dia benar-benar berkepribadian dewasa. Kedewasaan dipengaruhi oleh hantaman masalah demi masalah yang coba dihadapi dan diselesaikan, bukan dihindari dan dilimpahkan.

Kematangannya tak diragukan lagi. Tapi, tak serta merta memudahkan pertemuan pada penantiannya.

***

Karya : Ahada Ramadhana