Orang Paling Menderita

Ahada Ramadhana
Karya Ahada Ramadhana Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Mei 2018
Orang Paling Menderita

sumber foto: liputan6.com

"Karyawan saya gajinya lebih sedikit, bisa berkeluarga, bisa happy-happy aja. Kok saya merasa kayak yang paling menderita," tuturnya.

***

Tabungannya sebesar Rp 20 juta dari bekerja selama beberapa tahun di Jakarta sudah hampir ludes. Salah satunya membiayai adik yang tengah kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta--per semester diakuinya habis Rp 3 juta--yang kini tinggal setahun lagi akan rampung, jika lancar. Juga habis untuk wara-wiri nyari kerja di Yogyakarta.

Perihal paling mendesakkannya di usia jelang kepala tiga ini adalah berkeluarga. Dia bingung harus menumpahkan keluh kesah kehidupan pada siapa. Pada orangtua dia menganggap amat tak mungkin, khawatir mereka jadi justru kasihan dan tak akan enak hati padanya. Sementara itu percobaan membaur pada sesama karyawan di kantor tak berhasil. Orang-orang merasa segan pada posisi strukturalnya sebagai HRD. Jika ada kumpul sehabis jam kerja, dia tak dilibatkan. Di departemennya pun bekerja sendiri.

Tapi, dia tak benar-benar siap jika suatu waktu ada yang tiba-tiba mengajaknya menikah. Gajinya saat ini sebesar 2,7 juta tak pernah bisa disisihkan untuk tabungan. Bahkan masih harus menyedot sisa-sisa dari Rp 20 juta tadi. Setidaknya, Rp 500 ribu dialokasikan untuk biaya kuliah sang adik.

Dia, kisaran 170 cm. Badan berisi, proporsional dengan tingginya. Selama ini pula mengirimi uang untuk orangtuanya. Tidak mengeluh, hanya saja hidupnya berada pada titik lelah. Dia mengingat-ingat satu per satu teman angkatannya yang dia anggap sukses. Ada yang di Pegadaian, ada yang BUMN. Dia tampak makin pilu ketika ingat dirinya sendiri.

"Kadang itu kalau ingat umur segini tapi nggak punya tabungan rasanya nyesek. Kok gini ya?" katanya menggambarkan keadaan hidupnya kini. Pelan tapi dalam penuh penghayatan.

***

Kerisauanku akan masa depan seharusnya runtuh. Jalan perlikuanku masih tak seberapa.

  • view 30