Ikutan Nge-review Talak 3

Ahada Ramadhana
Karya Ahada Ramadhana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Februari 2016
Ikutan Nge-review Talak 3

Kalau tidak salah akhir tahun lalu saya sudah melihat trailer film ini. Lihat nama Ismail Basbeth yang film sebelumnya pernah saya tonton juga, 'Mencari Hilal', alasan saya memasukkan film ini dalam daftar tontonan, secara legal tentunya. Aku nggak berpikiran seperti netizen beberapa waktu lalu ketika ramai film '3 (Alif Lam Mim)'-nya Anggy Umbara yang ramai-ramai menyebarkan link ilegal di youtube yang dengan?kata lain telah mengungkapkan, "Ini karya anak bangsa keren gila, kita harus tonton, ayo sebar link gratisan ilegalnya,"

Aku mendapatkan tawa, drama, haru, sedih, dan pukau dalam film ini. Drama komedi ini tidak ngasal alias kosongan, dalam artian tak sekadar membuat penonton tertawa tanpa penyertaan pelajaran kehidupan. Ada waktunya kocak, ada waktunya drama.?

Tokoh utamanya adalah Risa, Bagas, dan Bimo, ketiganya menonjol sepanjang cerita dengan timing 'ledakan' acting masing-masing. Reza Rahadian yang berperan lebih banyak tenang di awal-awal karena memang ?belum panas menampakkan aksi memukau semenjak Risa melihat lembar ujiannya ada di dalam 'kotak arsip' Bimo. Vino G. Bastian yang aktingnya meledak-ledak sejak awal, menyajikan momen yang lebih lagi ketika memergoki Risa dan Bimo yang tengah membicarakan perasaan pasca pertengkarannya dengan mantan istrinya itu pada suatu makan malam. Laudya Cynthia Bella, ledakan acting alias penghayatannya adalah dengan air mata, ada juga adegan ketegasan ketika Bagas memaksa diberi kesempatan lagi untuk rujuk.?

Sebagai orang yang terbiasa nggak pake perasaan (hahaha), saya lebih merasa terpukau dengan akting tiga orang ini, terutama Reza, ketimbang baper. Saya makin mengagumi Reza, dalam hal seni?peran tentu saja.?

Seperti yang sudah saya duga, sisi agama yang berkait dengan kemanusiaan (sebagai pendorong manusia untuk menjadi bijak dan keberadaannya menyenangkan serta tidak merugikan sesama) diangkat, yang saya tangkap melalui sosok Bagas yang tengah memeragakan keegoisan, merasa selalu lebih tahu, paling benar, dan enggan mendengarkan apalagi disalahkan. Namun tentu saja kita sedang diajak untuk merenungkan atau bercermin, melihat adegan Vino yang egois itu tidak patut dipertontonkan, maka barangkali kita jangan berbuat yang sama.?

Pelajaran lain adalah, bahwa urusan cinta dan perasaan tak pernah sederhana dan tak bisa disederhanakan. Tak pula bisa dipaksakan. Entah, urusan ini dari banyak cerita yang kudapat, selalu rumit.?

Setelah baca satu review lagi, saya baru sadar ada kritik yang ingin disampaikan melalui penggunaan nama Jonur dengan mental menghamba uang lagi tak konsisten, Basuki dengan karakter garang terhadap tindak korupsi.?

Adegan paling anjrit dan saya suka adalah munculnya Hanung Bramantyo di akhiran. Kalau tidak salah ingat, sebagai bartender dia mengucap kepada Bagas, "Ojo akeh-akeh. Tambah abot engko utekke,". Hahaha.?

Aktor-aktris yang kawakan, nggak bakal menyesal menontonnya. Nilainya 8 dah dari 10.?

  • view 310