Kalau Boleh Menebak SITI

Ahada Ramadhana
Karya Ahada Ramadhana Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Februari 2016
Kalau Boleh Menebak SITI

foto:?cinemaxx

?

Saya bersama 4 orang lainnya saling tanya perihal akhir cerita film yang menyabet titel Film Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2015, SITI. Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana akhir yang paling benar. Tak ada ngotot-ngototan memaksa lainnya mengamini pendapat sendiri. Kami enggan seperti itu, cukup 'mereka' saja yang berlagak demikian: (sok) paling benar-paling tahu-paling surgawi-pemaksa keyakinan, huhuhu.

Tak tahu pula mengapa akhirannya dibuat demikian: menggantung-mengundang tanya. Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan tebakan saya tentang ending SITI. Sebelum itu, saya mau berbasa-basi mengomentari film yang pemeran utamanya meraih Best Performance Singapore Film Festival 2015 ini.

Alur film ini mudah dipahami, seperti kebanyakan film Indonesia lainnya. Tak perlu mikir (sampai dalam) seperti film luar negeri. Percapakan pun diadakan dengan bahasa ibu, membuat akting mereka begitu natural.

Sosok Siti adalah seorang perempuan pekerja di tempat karaoke ketika malam hari dan berjualan rempeyek bersama ibu mertuanya di siang hari. Dialah tulang punggung keluarga, mengumpulkan rupiah untuk tetap dapat makan, membiayai segala kebutuhan sekolah putranya, serta agar dapat menutupi hutang suaminya sebesar lima juta rupiah dahulu kala untuk membeli perahu yang bahkan sudah hilang.

Suaminya, Bagus, menghabiskan hari di atas ranjang karena lumpuh. Bagus memilih enggan berbicara dengan Siti, sampai istrinya menyampaikan keinginan menikah dengan seorang polisi yang dikenal dari tempat kerjanya, Gatot. Kebisuan ini, saya menebaknya, bisa jadi dikarenakan ketidakterimaan atas takdir yang menimpa yang telah menghancurkan mimpi-mimpi membahagiakan istri dan anaknya. Atau, dia begitu merasa bersalah tidak bisa memenuhi janji-janjinya pada Siti, sehingga memilih berdiam-bisu sebagai perwujudan dari perasaan bersalah tersebut.

Kehadiran Bagas, putra Siti yang masih Sekolah Dasar, dengan tingkah polosnya, kerap menghadirkan suasana kocak. Ditambah lagi, sosok rekan kerja Siti yang periang-penggoda-rada centil, yaitu Sri menambah ngakak di banyak adegan. Dari semua tokoh, Srilah yang saya paling suka, haha.

Cerita lanjutannya, kalau boleh saya menebak, Siti akan mendatangi Mas gatot untuk menikah dengannya. Melihat di adegan sebelumnya, Siti mengaku capek dengan posisinya saat itu, mencari nafkah demi melunasi hutang suami yang kemudian dibalas dengan pengabaian dari Mas Bagus-nya. Siti pun tak menolak bercumbu dengan Mas Gatot. Dia sudah menaruh ingin, senang, bersedia untuk hidup dengan polisi yang cukup berduit itu.

Adegan terakhir Siti menuju pantai subuh hari itu saya kira bukanlah suatu adegan penggambaran tentang sesuatu hal, melainkan kondisi riilnya dalam rangka merenungkan kehidupannya. Siti merasa begitu lelah dan bimbang dengan pilihan hidup di hadapannya.

Kira-kira begitu dari saya yang cuma bermaksud mengutarakan pendapat. Boleh sekali menambahkan atau berpendapat lain, semisal menyatalan Siti memilih bunuh diri atau bagaimana, silakan.

Sebagai informasi tambahan, imdb memberi rating 7,3 untuk film ini.

  • view 148