Kisah orangtua, anak, dan smartphone

Ahada Ramadhana
Karya Ahada Ramadhana Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 01 Februari 2016
Kisah orangtua, anak, dan smartphone

foto:?Elite Readers

?

Orang dewasa seringkali tidak mau mendengarkan perkataan dari anak kecil yang belum baligh karena dianggap belum banyak tahu tentang kehidupan. Namun banyak proses penyadaran tentang kehidupan yang berasal dari anak-anak. Dengan kepolosan dan ketulusannya, anak-anak mampu menyajikan sudut pandang berbeda dari orang dewasa yang berisi pesan-pesan tentang kehidupan.

Cerita berikut yang saya kutip dari Elite Readers ini mengisahkan kritik jujur dari seorang kanak-kanak terkait keadaan keluarga yang dialaminya.

Selepas makan malam, seorang guru Sekolah Dasar (SD) memeriksa tugas murid-muridnya sambil ditemani suami di hadapannya yang sedang asyik memainkan game favoritnya di smartphone. Ketika jeda sesaat, sang suami menolehkan wajah kepada istrinya. Dia lihat istrinya terdiam dengan air mata mengalir di pipi.

Ketika ditanya suaminya alasan dia menangis, guru tersebut menjelaskan,"Kemarin aku menugaskan murid-murid kelas 1 membuat karangan dengan topik 'Harapanku',"

"Lalu mengapa kau menangis?" tanya suami tanpa melepas tatapan dari smartphonenya.

"Karangan yang baru saja kubaca ini membuat aku tidak tahan untuk tak menangis," balas si istri.

"Apa yang dia tulis?" tanya si suami lagi.

"Dengarkan baik-baik tulisan ini, aku akan membacakannya untukmu,"

Harapanku adalah menjadi sebuah smartphone. Orangtuaku sangat-sangat mencintai smartphone-nya. Mereka begitu peduli pada smartphone-nya sampai terkadang lupa memperhatikan aku. Ayahku, selelah apapun sepulang bekerja, dia selalu punya waktu untuk smartphone-nya, tapi tidak untukku. Ketika mereka mengerjakan sesuatu hal yang penting, mereka selalu bersedia mengecek smartphone-nya ketika berbunyi meskipun hanya hanya berdering sebentar. Namun aku harus memanggil berkali-kali agar mereka mau peduli dengan aku. Aku merasa sangat sedih. Mereka lebih memilih bermain dengan smartphone-nya daripada denganku. Mereka mengabaikan aku dan memilih mengobrol dengan orang lain di smartphone ketika ada panggilan masuk, perkataanku tidak lagi didengar meskipun aku menyampaikan hal penting. Harapanku adalah aku bisa menjadi sebuah smartphone.

Sang suami merasa tersindir dengan karangan anak SD tersebut. "Siapa muridmu yang menuliskan itu?" tanyanya pada sang istri.

Istrinya menyodorkan lembar di tangannya. Dia berkata, "Yang menulis adalah putra kita,"

Pesan yang diserap Elite Readers dari cerita ini adalah, mari kita tetap menjaga keharmonisan antar anggota keluarga. Jangan terlalu berlebihan meletakkan prioritas pada harta benda. Smartphone ada untuk memudahkan hidup seharusnya tidak sampai merenggangkan hubungan keluarga. Belum terlambat untuk kembali pada keluarga, menghabiskan waktu bersama dan melupakan segala hal lain. Letakkanlah sejenak smartphone-mu dan bercengkramalah dengan orang-orang di sekelilingmu. Sampaikan pada mereka bahwa kamu mencintai mereka, maka mereka akan membalasnya. Ini tidak akan kamu dapatkan dari smartphone-mu.

?

  • view 232