Terimakasih Kau Telah Mengenalku

Agustiningsih Maulani
Karya Agustiningsih Maulani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Maret 2016
Terimakasih Kau Telah Mengenalku

Terimakasih, Kau telah Mengenalku !

?

??????????? Hidup adalah keharmonisan jasad dan ruh. Jasad dan ruh yang saling cinta, itu bersatu. Sama halnya seperti cinta. Cinta itu fitrah. Seseorang boleh mencintai apa yang dia cintai. Cinta itu sendiri ada jalan yang berharga demi menjaga diri kita yaitu jalan yang tidak mengiyakan pacaran. Ya. Itulah jalan yang baik untuk kita. Dengan memantaskan diri, Allah akan memberikan sang cinta pilihanNya. Tanpa jalan pacaran pun, kita bisa menemukan cinta. Dekati Allah terlebih dahulu. Begitupun, segala impian seseorang pun, harus ada Allah didalamnya. Aku, masih kuliah semester tiga. Masih banyak impian yang aku inginkan. Terutama membahagiakan orangtuaku dan segala yang aku lakukan bermanfaat serta mendapat ridhaNya.

??????????? Ketika aku sibuk dilanda kegiatan ? kegiatan sekolah PAUD, organisasi HIMPAUDI karena aku sedang menjadi pendidik PAUD dan tugas-tugas kuliah yang harus aku selesaikan. Hari demi hari, silih berganti. Sesibuk apapun pasti ada masa nya untuk istirahat, kumpul bersama keluarga, saudara, dan sahabat. Suatu hari ada pesan yang masuk ke kontakku. Nomor baru ternyata. Kadang jarang aku balas nomor yang tak dikenal dan selalu ada orang yang iseng yang ambil kontakku dan mengganggu waktuku. Tetapi kali ini, aku mencoba membalasnya, karena ini sudah beberapa kali mengirimkan pesan ?Assalamu?alaikum?. Aku jawab dan nomor baru itu memperkenalkan dirinya lewat pesan singkat. Dia bernama Abdul. Dia memohon maaf telah mengambil nomorku tanpa izin. Ya, aku maafkan. Dan dia adalah saudara teman dekatku yaitu Safa, waktu aku aliyah. Dia kenal aku, dikenalkan oleh Safa dan dia juga kenal aku di media social yaitu facebook. Dia sering mengirim pesan dan menyukai status yang aku bagikan. Aku pun selalu hati-hati dengan laki-laki yang belum aku kenal lebih dekat. Menjaga kehormatan sebagai muslimah.

??????????? Suatu hari dia pun, menceritakan bahwa dia saudara Safa. Dia mencari tahu tentangku lewat Safa. Dan ia mengajak untuk bertemu, tapi aku tolak. Hmm, baru aja aku mengenalnya. Boleh lah kalau langsung bertemu. Temui aku di rumah. Dan tetap ia mengajaknya di luar, aku pun menolaknya. Lelaki yang komitmen adalah lelaki yang berani terjun temui langsung ke rumah. Beberapa minggu kemudian, dia mengirimkan pesan.

?Assalamu?alaikum.?
?Wa?alaikumsalam.?

?Kamu pacaran? Dan apakah kamu sudah punya calon ?.?

?Hmm, belum dan aku tidak mengiyakan pacaran .?

Itulah jawabanku dan prinsipku. Tak ada balasan lagi. Selang beberapa hari. Tiba-tiba dia mengirimkan pesan lagi.

?Apakah kamu siap, suatu saat nanti ada yang mengkhitbah kamu tanpa pacaran lebih dulu?.??????????????????? ???????????
Aku terdiam dan aku harus menjawab apa. Aku menjawabnya lama sekali.

?Iya, InsyaAllah aku siap. Jika sudah waktunya Allah memberikan pilihanNya.?

Ya Allah, apakah benar jawabanku ini?. Aku pun langsung meng offline. Aku belum siap untuk menuju jalan yang akhir, yaitu menikah. Masih banyak yang harus aku selesaikan. Kakak-kakak perempuanku belum ada yang menikah. Mereka masih menjalankan karir nya dan menyelesaikan kuliah. dan aku, aku pun belum apaa-apa. Aku masih semester tiga. Aku harus membahagiakan orangtua dulu.

Beberapa bulan, aku sudah mengenal dia lebih dekat. Dia sering sharing denganku. Ternyata dia sedang menantikan jodoh pilihannya. Dia pun sering bertanya padaku. Kalau kata anak muda zaman sekarang sih, galau jodoh. Sampai-sampai dia selalu bertanya-tanya tentang jodoh. Tak perlu cemas dengan datangnya jodoh. Jodoh, maut dan rezeki sudah allah atur semuanya. Kita pantaskan diri kita dulu,sebelum datangnya sosok yang di nanti. Kita persiapkan dulu, sebelum ajal menjemput kita. karena kita mau lari kemanapun, kematian akan terus mengejar kita. rezeki itu harus dijemput. Kita harus menjemput rezeki. Segala usaha yang kita jalani, niatkan karena Allah. Karena dengan belum siapnya aku. Aku pun jarang membalas pesan dia. Karena kupikir aku hanya memberikan harapan yang belum pasti. Maafkan aku. Aku belum memiliki kemantapan hati untuk terus berlanjut.

Banyak seusiaku yang sudah menikah. Ya, katakanlah menikah muda. Memang, menikah muda itu lebih baik, daripada pacaran lama-lama dan akhirnya putus. Hmm. Sayangkan, udah putus dosa tetep dapet. Astaghfirullah. Aku tidak mau seperti itu. Aku ingin memilih jalan yang terbaik untuk menjemput jodoh. Terimakasih akhi, kau telah mengenalku. Lebih baik, kita memantaskan diri, memantapkan hati dulu. Lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, begitu juga sebaliknya. Dekatkan diri kita dengan Sang Maha Cinta, Allah. Agar Allah mendekatkan kita dengan cinta pilihanNya. Allah Maha mengetahui segala isi hati seseorang. Pasti Allah memberikan yang terbaik untuk kita.

Beberapa bulan kemudian. Aku melihat postingan, Abdul. Di blackberry messenger, beberapa detik kemudian.

?Alhamdulillah, ziarah bersama calon mertua itu rasanya.. Subhanallah.?

Dan aku pun terdiam, aku terpana terlintas dalam pikiran. Dia sudah menemukan sosok yang dia nantikan. Hmm. Sudahlah lupakan saja masa lalu. Alhamdulillah, dia sudah menemukan pilihannya. Semoga Allah memberikan keistiqomahan kepadaku dan terus memperbaiki diri serta bermanfaat bagi orang banyak. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Semua yang terjadi adalah skenari dari Allah. Segala yang direncanakan Allah selalu menghasilkan yang terbaik untuk kita. Aamiin.

  • view 428