Biarkan Aku Memeluk Impian

Agustiningsih Maulani
Karya Agustiningsih Maulani Kategori Motivasi
dipublikasikan 10 Maret 2016
Biarkan Aku Memeluk Impian

Hidup adalah pilihan. Dengan pilihan itu hidup kita lebih berarti. Dan dapat menjalani pilihan yang sesuai diinginkan. Kadang pilihan itu sendiri tak semudah kita jalani. Waktu dimana aku harus memilih jalan untuk meraih impian. Impian yang besar yang mempunyai tujuan. Impian ku yaitu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi di Jakarta. Impian itu memang harus besar dan pasti setiap orang memiliki impian dan impian itu berbeda-beda. Impian itu membuat kita semangat akan meraihnya sebuah kesuksesan. Impian itu tak semudah yang kita bayangkan. Impian itu harus didasari ilmu. Impian membutuhkan proses, tidak instan.

Di saat aku memulai untuk memilih, aku meminta solusi kepada kerabat dekat, guru dan yang pasti kepada orangtua dan yang utama kepada Allah Sang Maha Petunjuk. Kini ibu yang selalu berada disampingku, ayahku sudah tiada. Kini aku mengenang motivasi-motivasi dari ayah yang diberikan untukku. Ketika pengumuman pendaftaran snmptn dibuka. Teman-teman seperjuanganku begitu sibuk mendaftar. Diriku, tidak. Aku sharing dengan guruku, perguruan tinggi apa yang bisa dilanjutkan oleh jurusan aliyahku sekarang ini. Karena jurusanku di Aliyaini adalah keagamaan. Yang bisa dipilih dari jurusanku itu adalah UIN Syahid Jakarta dan UPI Bandung. Dengan izin orangtua, boleh-boleh saja ikut daftar. Tetapi biaya hidup tak bisa dipertanggungjawabkan. Karena ada biaya-biaya lain yang harus diselesaikan, biaya kuliah kakakku dan adikku sekolah. Ya, ?aku mengerti. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak ikut mendaftar.

Hari terus berganti. Pendaftaran pun di tutup. Kini teman-teman seperjuangan yang mengikuti daftar tinggal menunggu hasil. Setelah beberapa minggu. Aku melihat berita-berita yang diterima snmptn, update an teman-temanku di media social. Sungguh membuatku ingin seperti mereka itu. Diterima di universitas dan jurusan yang diinginkannya. Dan ada pula yang bersedih karena beberapa teman ku tak diterima. Mereka berusaha untuk mengikuti tes selanjutnya yaitu ikut jalur sbmptn. Aku mencoba untuk ikut tes sbmptn. Aku sudah mendaftar ke dua pilihan perguruan tinggi. Aku sudah print kartu peserta sbmptnnya dan soal-soal aku pelajari. Dan aku semangat untuk mengikutinya. Tempat tesnya aku tahu dan jaraknya lumayan dekat masih di daerah Bogor. Tiba di hari tesnya, aku tidak datang. Aku berpikir, jika aku diterima bagaimana aku menjalani biaya hidupku nanti kuliah. Aku pun gagal mengikutinya, aku gagal duluan. Mungkin skenarioNya lebih indah dari apa yang terjadi sekarang ini.

Rasa haru membalut diterimanya teman-temanku dan seluruh pelajar Indonesia diterimanya masuk ke perguruan tinggi. Rasa menyerah, tidak semangat diriku untuk meraih impian mungkin sampai disini. Lemah tak berdaya, tak mampu untuk bangkit. Rasa sedihku sudah tak terbendung lagi. Aku sadar, mungkin selama ini aku tidak memeluk itu dengan sang penciptanya Allah. aku melihat orang-orang yang semangat meraih impian. Mereka begitu bekerja keras dalam menjalaninya. Mereka tidak menyerah duluan. Mereka berani mengambil apa yang mereka inginkan dan mereka mampu menjalaninya. Aku harus bisa bangkit. Bangkit meraih impian. Aku harus membahagiakan orangtua. Bahagia di dunia maupun diakhirat. Dan aku bisa bermanfaat bagi orang banyak. Yang membuat semangat diri ini yaitu ?Khairunnass ?anfa uhum linnass?. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Rencana Allah itu lebih indah daripada rencana manusia. Do?a orangtua itu selalu ada untuk kita. Ridho Allah tergantung ridho orangtua. Dan biarkan aku memeluk impian-impianku itu. Allah Maha Tahu. Allah pasti memberikan yang terbaik. Aamiin. Semangat. Jangan menyerah. Selalu husnudzan kepada Allah dan istiqomah dalam menjalankan perintahNya. Selamat berjuang untuk para pemimpi.?

  • view 232