Antara Lagu Ayah

Agustiningsih Maulani
Karya Agustiningsih Maulani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
Antara Lagu Ayah

Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30. Semua karyawan termasuk aku bersiap- siap untuk pulang. Alhamdulillah semua target line 20 sudah tercapai. Segala mesin dimatikan dan bahan- bahan dirapikan serta alat – alat yang digunakan di simpan kembali. Tangan ku yang bersarung tangan, ku buka dengan cepat. Rasa panas jari – jariku semakin terasa. Jari – jariku merah tertekan oleh gunting untuk menggunting sudut dalam jaket yang diproduksi perusahaan.  Semua kekuatan dari pagi sampai sore menjelang maghrib membuat ku tak lupa waktu. Begitu tak terasa. Beginilah seorang karyawan baru yang tidak tahu apa – apa. Pengalaman ini membuatku merasa sedih dan semangat. Rindu suasana rumah yang begitu tenang.

Tak seperti waktu pertama masuk ke perusahaan, suara mesin yang begitu risih. Dengan ribuan karyawan membuatku merasa aneh. Entah, mengapa. Datang dengan teman – teman baru dan karakter baru. Tak ada yang kenal, kecuali sahabatku, Husna. Tetapi kita berbeda pekerjaan atau tugasnya. Begitu benar – benar harus berusaha keras, cerdas. Dimana aku harus gesit dalam bekerja.

            Aku langsung turun menuju loket ID Card. Semua karyawan mengantri, sangat berbelit – belit. Sedihnya, laki – laki dan perempuan saling tidak sabar. Aku mengalah, lebih baik belakangan. Daripada harus bergulung – gulung dengan karyawan lainnya. Aku menghela nafas. Aku pun mulai menghisap udara yang segar di luar perusahaan. Ku menunggu sahabatku dulu yaitu Husna. Tiba – tiba ada teman- teman dari sekolah dasar yang masih mengenalku. Mereka pun bertanya – tanya kepadaku. Akhirnya, Husna datang. Dan kamipun langsung pulang. Mencari angkot yang kosong.

            Semua karyawan sibuk membeli takzil untuk berbuka puasa. Tetapi kami fokus untuk cepat pulang karena takut angkot sudah penuh dan susah cari yang kosong. Dan jarak rumah kami pun tak jauh hanya naik angkot satu kali. InsyaAllah, keburu untuk membeli minum pas kami turun di dekat rumah kami. Dan hasilnya. Aku dan Husna terjebak macet. Tak seperti biasanya, ada perusahaan lain berbarengan keluar. Jadilah kemacetan dijalan kami yang akan dilewati.

            Waktu semakin berputar, angkot yang saya tumpangi sudah penuh sampai pintu angkot. Benar lagi adzan maghrib. Subhanallah, berdesakkan karena oranglain khawatir tak ada lagi angkot yang kosong dan mereka pun tidak apa duduk di pintu angkot. Ya, kami mau turun dari angkot untuk membeli minum untuk berbuka tanggung mau turun apa tidaknya. Kami pun melanjutkannya. Tiba – tiba semua terkejut oleh suara lagu “ Ayah yang dipopulerkan Opick dan Adiba ” yang dihimpit oleh kemacetan. Pas dengan kendaraan yang macet, terdengarlah suara dari sebrang sana. Ternyata tukang kaset.

Waktu begitu cepat berlalu

Seiring langkah dalam cerita

Terbayang wajahmu dalam hatiku

Kau adalah kisah yang terindah

Ayah .. ayah terimakasih

Kau beri aku cinta

            Dengar lagu ini, mata aku pun langsung berkaca – kaca teringat alm. Ayahku. Aku kangen. Aku hampir nangis, sahabatku langsung mengusap punggungku dan dia pun sama berkaca – kaca. Aku pun menoleh kebelakang. Kakak yang duduk didepan lawanku, yang membawa plastik yang berisi minuman air putih dalam botol dan sebuah susu kotak itu melihatku. Aku tersipu malu dan terharu. Air mata inipun jatuh. Aku usap airmata ini. Semua orang didalam angkot perempuan semua kecuali supir. Suasana dalam angkot begitu diam, tak ada yang mengobrol. Semua sibuk dengan gadget nya. Ada yang bilang, aku suka lagu ini. Ada yang ikut nyanyi juga. Ada juga yang ikut berkaca – kaca. Suasanapun terbawa oleh lagu ayah itu.

            Adzan magrib berkumandang, semua berbuka. Terlewati sudah tukang kaset itu, angkot pun sudah kembali maju. Kemacetan pun sudah terlewati. Semua didalam angkot, meminum untuk berbuka. Dalam hatiku, ya Allah maafkan aku. Izinkan aku untuk berbuka akhir. Didalam tasku biasanya ada permen untuk batalin puasa, ini tidak ada. Kakak yang berada didepan lawanku, tiba – tiba memberikan susu kotak kepadaku. Ia pun meminum air putih didalam botol yang dibawanya. Aku ragu untuk menerimanya. Aku melihat yang disampingku, mereka tak membawa takzil untuk berbuka. Kenapa aku yang dikasih ya. Apa karena aku berkaca – kaca tadi. Apa karena aku melihat juga kakak itu berkaca- kaca. Apa karena merasakan apa yang aku rasakan. Rahasia Allah.

“ Ini de ! ( sambil memberikan susu kotak ).

Aku terkesima melihat kakak perempuan itu.

“ Ayo, kan buat ngebatalin ! kakak perempuan itu.

“ Terimakasih kak ! ( aku pun menerimanya).

            Diminum susu kotak itu, aku bagi dua dengan Husni. Bergantian minum dengan Husni.  Ya mau bagaimana lagi. Untuk berbuka, buat nge batalin. Alhamdulillah terimakasih Ya Allah. Dalam kehilafanku membeli minum untuk berbuka, Allah memberikan pertolonganNya. Allah Maha Memberi pertolongan untuk hamba- hambanya.

            Kami pun bersiap – siap untuk turun. Aku pun mengeluarkan ongkos di kantong jaketku. Sebelum turun, kita berterimakasih kembali kepada kakak perempuan itu. Alhamdulillah skenario hari ini adalah skenario yang dirancang oleh Allah. Bukan karena apa – apa. Ini adalah skenario ramadhan hari ini. Memberi pelajaran kepadaku, bahwa aku harus beli takzil bagaimanapun waktu ke maghrib masih lama dan kita harus mudah memberi kepada oranglain. Siapapun dimana pun, membantu dan memberi dikala kita punya lebih rezeki untuk oranglain. Berbagi dibulan ramadhan adalah sesuatu yang dilipatgandakan oleh Allah SWT.

  • view 205